
Jordan melangkah kakinya masuk ke dalam kediamannya, ia bersiul senang sepanjang jalan ia masuki.
"Dimana papi sama kakek?" tanya Jordan pada pelayan yang lewat di depannya.
"Tuan besar dan tuan sedang lagi berada di mini bar tuan," jawab pelayan tersebut dengan menundukkan kepalanya.
"Terimakasih, dan lanjutkan pekerjaanmu," balas Jordan.
Jordan segera menyambung langkahnya yang sempat terhenti untuk beberapa saat menuju pada sebuah mini bar.
Kediaman Wijaya memiliki mini bar sendiri yang terletak di lantai tiga, konsep mini bar yang digunakan adalah konsep modern, warna yang dipadukan berupa hitam dan silver. Terdapat lampu gantung yang berbentuk industrial yang memperlihatkan kesan simpel dan mewah. Dan terdapat pintu kaca pembatas yang terhubung dengan kolam renang.
Jordan menarik kursi secara perlahan lalu ia menduduki bokongnya, "kalian itu sudah tua kurangilah minum alkohol," ucapnya merasa khawatir akan kesehatan ayah dan kakeknya.
Richard terkekeh kecil, "tenang saja cucuku kakekmu ini akan panjang umur sampai ia bisa melihat dan menggendong anak dari Aksa dan kau," candanya.
"Kakek, mungkin itu tidak akan pernah terjadi karena enggak ada gadis yang mau bersamaku," sambung Jordan santai dengan mengangkat bahunya.
"Tenang saja, papi akan mencarikan gadis itu untukmu," imbuh David menepuk pundak Jordan.
"Semoga beruntung," canda Jordan terkekeh mengangkat tangannya terkepal.
"Kau sudah bertemu Loren?" tanya Richard seraya mengambil buah anggur hijau.
"Sudah, dan aku sampaikan sesuai dengan yang kalian perintahkan," jawab Jordan menuangkan whiskey ke dalam gelas.
"Aku rasa pasti Loren akan menyampaikannya ke paman Yoon," sambung David.
"Aku tidak sabar melihat keributan di kediaman keluarga Kim," ucap Richard tertawa lebar.
"Kita tunggu dan lihat saja," sambung David sembari bersulang dengan Richard.
Jordan cuma menggeleng kepalanya melihat kelakuan ayah dan kakeknya, "orang dimana-mana cari damai, ini malah cari keributan," ucapnya memijit dahinya.
...****************...
Aksa sedang memandang hampa pantulan dirinya di cermin, ia menyentuh kedua kakinya dan menepuk secara kuat namun tetap saja kakinya tidak bisa merasakan sama sekali dan ia tersenyum miris.
"Kasihan sekali nasibmu, udah cacat, ditinggal tunangan, mungkin besok ditinggal nikah," ucapnya tertawa lebar.
__ADS_1
Siapa pun yang mendengar suara tertawa Aksa pasti bisa merasakan semua penderitaan yang dialami oleh dirinya.
Aksa memutar kursi rodanya menuju meja nakas, ia menyentuh ponselnya, dan mengotak-atik sesuatu di dalamnya.
Ia melihat secara intens foto seorang pria berkulit putih dengan kancing kemeja yang dibiarkan terbuka, dan berpose di sebuah pantai.
"Leon Orlingo Wilson," ucapnya pelan.
Ia membaca secara teliti semua informasi yang dikirimkan oleh Rafael padanya tentang keluarga Katya dan juga mengenai kakaknya.
"Dia seorang pecandu rupanya, pantas saja dia dikirim ke luar negeri. Orang ini pasti cuma memikirkan dirinya sendiri, aku tidak perlu khawatir dengannya. Dia pasti tidak akan menentang pernikahan aku sama Katya," ucap Aksa tersenyum lebar yang menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Loren berjalan masuk dengan terburu-buru, dia ingin bertanya pada kakeknya tentang apa yang dikatakan oleh Jordan padanya. Namun ia melihat seorang wanita tua yang sedang duduk sambil memegang sebuah figuran foto dengan tatapan sendu.
Loren memilih melanjutkan langkahnya ke arah wanita tuan itu, "nek, "panggilnya sambil menepuk bahunya.
Wanita tua tadi rupanya adalah nenek Loren, ia bernama Elma Nathania dan nama Korea nya
Kim Aera diberikan langsung oleh suaminya, dia orang Indonesia asli dan sekarang umurnya sekitar 58 tahun.
"Loren, kapan kamu pulang sayang?" tanya nenek.
"Barusan saja, kenapa nenek menangis sambil memegang foto itu?" tanya loren dengan dahi berkerut.
Nenek mengambil nafas berat lalu membuangnya secara kasar, "kau tau bukan kalo orang dalam foto ini adalah Irene dia adalah adik ayahmu," paparnya
"Cerita kan tentang dirinya nek dan juga alasan kenapa dia pergi dari sini, kumohon!" pinta Loren
"Belum saatnya kau mengetahui masalah ini dan juga jangan pernah kau tanyakan kepada kakekmu tentang dirinya," ucap nenek tegas.
Aera segera melangkah kakinya meninggalkan Loren seorang diri yang diam, Loren cuma bisa memandang punggung neneknya yang menghilang di balik anak tangga.
"Aku harus cari tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh kakek sama nenek," ucap Loren dengan tatapan tajam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin dan Auris sedang menikmati waktu mereka dengan bermain di Timezone, Kevin dan Auris sedang fokus pada sebuah claw machine.
__ADS_1
Auris mengarahkan capit secara hati-hati pada boneka, ketika ia berhasil mendapatkannya ia langsung mengarahkan ke arah tempat keluar namun sayang boneka itu malah jatuh dan itu berhasil membuat Auris menonjok kaca mesin.
"Gagal lagi," umpatnya.
"Kak Auris ini udah yang ke 30, dan kakak sama sekali tidak mendapatkan boneka yang ada koinnya malah habis di mesin bodoh ini," ujar Kevin sarkas.
"Kalau kau merasa hebat bocah, coba kau mainkan ini," balas Auris langsung menyerahkan koin pada Kevin.
Kevin dengan senang hati menerima koin tersebut, dan langsung memasukkannya ke dalam mesin. Auris cuma memandang remeh dengan menyilang kedua lengannya.
Namun itu cuma sebentar, senyumnya luntur ketika melihat Kevin berhasil mendapat sebuah boneka jerapah.
"Lihat aku hebat kan! Baru sekali main langsung dapat, boneka ini untuk kakak saja," ujar Kevin santai dang menyodorkan boneka ke Auris.
Auris menerima pemberian Kevin dengan tersenyum masam, "terimakasih adikku sayang," balasnya.
"Kak, ayo kita cari makan! Aku suda lapar," ajak Kevin.
"Ayo kakak juga," balas Auris.
Auris melangkah kakinya keluar dari Timezone dengan menggandeng tangan Kevin agar ia tidak terpisah dengan dirinya.
Ketika mereka sedang berjalan dari arah berlawanan terdapat dua orang gadis yang berhenti tepat di hadapan mereka.
"Hai Auris, Kevin," sapa gadis dengan bandana merah.
"Halo kak Zahra," balas Kevin melambaikan tangannya.
Auris tidak membalas sapaan dari Zahra, ia terpaku memandang seorang gadis dengan rok pendek dan blouse biru.
Gadis tersebut juga menatap Auris, ia tersenyum bukan tersenyum ramah melainkan senyuman meremehkan, "rupanya kau masih hidup," ejeknya.
Auris terdiam dan tidak merespon perkataan gadis blouse biru, Kevin yang melihat gelagat aneh pada Auris langsung menangkap sinyal bahwasanya Auris merasa tidak nyaman dengan kedua gadis ini.
"Kak Zahra, kami pergi duluan, bye-bye," ujar Kevin yang sudah menarik tangan Auris tanpa ia sadari.
Zahra mengerutkan keningnya dan memandang punggung mereka berdua yang mulai memudar di matanya.
"Mereka berdua kenapa?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Gadis blouse biru tersenyum smirk, "padahal aku berharap kau mati," ucapnya pelan dengan mimik wajah sedih.