Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 23


__ADS_3

Keluarga Wijaya sekarang lagi berada di ruang rawat Aksa, dia dipindahkan setelah melakukan berbagai macam rangkaian tes.


"Aksa apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Rika mengelus pipi Aksa.


Aksa menggeleng kecil, ia merasa sangat tidak bertenaga menjawab pertanyaan ibunya. Rika mengerti bahwa anaknya pasti merasa lelah dan tidak bertenaga bagaimanapun anaknya baru sadar dari koma.


"Istirahat saja," ucap David.


Seorang dokter masuk ke dalam, melihat dokter mereka segera memberikan ruang untuknya. Dokter tersebut menekan tungkai kaki Aksa, paha dan telapak tapi Aksa tidak memberikan respon apapun.


Dokter tersebut menghembuskan nafasnya, "bisa kita bicara di ruangan saya," pintanya.


Pasangan suami istri itu mengikuti dokter berjalan menuju ruangannya, mereka masuk ke dalam dan dokter mempersilahkan mereka duduk.


"Maaf pak, Bu, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar ini. Anak ibu mengalami spinal cord injury," ujar dokter tersebut membuat sedikit guratan di kening mereka berdua.


"Spinal cord injury apa maksudnya?" tanya David.


Dokter menyodorkan foto CT scan tulang milik Aksa, "anda bisa melihat tulang yang retak ini bukan? Ini adalah tulang belakangnya. Keretakan tulang ini berhasil membuat pasien mengalami kelumpuhan bagian bawahnya mulai dari pinggang hingga kakinya," paparnya.


"Jadi apa maksud anda anak saya lumpuh?" tanya mami Rika dengan mata berkaca-kaca.


"Iya bisa dibilang seperti itu. Dia akan kehilangan kontrol tubuh di bagian bawahnya dan ini tidak bisa disembuhkan atau dapat dibilang anak ibu mengalami kelumpuhan seumur hidup nya dan cara untuk merawat nya cuma rehabilitasi," ujar Dokter dengan mimik wajah serius.


"Dokter anda bohong kan tidak mungkin anak saya lumpuh," teriak Tuan David dengan menarik kerah baju dokter


"Maaf tuan tenang kan diri anda terlebih dahulu. saya mengerti kenyataan ini tidak bisa diterima, tapi Pak Aksa butuh dukungan kalian dan buat juga dia mengerti kondisinya," ucap Dokter dengan nada rendah.


"Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk putraku?" pekik Rika tepat di hadapan dokter.


Dokter tersebut menunduk ke bawah, "maaf, kami cuma bisa merawatnya dan kesembuhan itu kuasa tuhan," ucapnya pelan.


Rika menangis tidak terima dengan vonis dokter tentang anaknya, David melepaskan kerah dokter tersebut lalu menarik pergelangan tangan mami Rika dan membawanya pergi dari sana.


Mereka berjalan menjauh dari ruangan tadi, dan mereka duduk di kursi yang disediakan. Mami Rika menyender kepalanya di bahu suaminya.


"Ini semua bohong kan Pi? Enggak mungkin Aksa lumpuh, mami takut," ucapnya terisak.


"Mau kita mengelak tapi ini kenyataannya, papi juga bingung mau menjelaskan seperti apa ke Aksa," balas David lesu.


"Kenapa harus seperti ini? aturan di hari itu aku melarangnya untuk pergi, pasti enggak akan seperti ini kejadiannya," sesal Rika menarik rambutnya.


"Ini sudah takdir kita enggak bisa mengelak," sanggah David.


"Kita tidak boleh memberitahu Aksa tentang ini sekarang, mami takut dia akan syok," ujar Rika.


"Kita akan menjaga rahasia ini sampai waktunya tepat," balas David merangkul pundak istrinya.


...****************...


Katya fokus pada beberapa tumpuk dokumen yang diberikan Chiko padanya, ia memusatkan perhatiannya pada dokumen tersebut.


"Ini minum dulu," ujar Chiko menyodor secangkir latte padanya.


"Terimakasih kak," balasnya tetap fokus.

__ADS_1


"Kau tidak perlu memaksa dirimu, kau bisa pelan-pelan saja mempelajarinya," cetus Chiko menyesap tehnya.


"Kak, apa orang itu udah sadar?" tanya Katya spontan.


"Aku dengar dia udah sadar, dan juga udah dipindahkan ke ruang rawat," jawab Chiko.


"Apa prediksinya benar?"


"Aku tidak tahu, aku akan menanyakan ke dokter yang menanganinya."


"Aku harap itu tidak benar, jika itu terjadi aku akan merasa bersalah padanya," ungkap Katya lesu.


"Kita doakan saja yang terbaik," imbuh Chiko.


"Jadi, siapa yang akan mengambil alih rumah sakit naungan keluarga Wilson untuk sementara? Kakak atau Tante Nina?" tanya Katya serius.


"Aku sudah membicarakan dengan beberapa dokter dan petinggi, mereka berharap ibuku yang mengambil alih untuk sementara," papar Chiko.


"Ku rasa itu bagus."


"Ibuku terus mengomel, dia bilang kenapa bukan aku saja kenapa harus dia?" lontarnya tertawa.


"Aku rasa aku harus bekerja keras agar Tante Nina bisa menikmati hidupnya dengan tenang tanpa pikir pekerjaan," ungkap Katya tersenyum.


"Kau harus belajar lebih giat. Dan iya kau harus menaiki gajiku jika kau sudah menjadi direktur," candanya.


"Siap dilaksanakan bos," balas Katya memberikan penghormatan layaknya upacara bendera.


Mereka tertawa kecil dengan obrolan yang mereka bahas. Chiko dan Katya kembali fokus pada pekerjaan mereka.


Rika dan David masuk ke dalam ruangan Aksa, mereka dapat lihat Cherry dan Jordan bercerita banyak hal dan Aksa cuma menjadi pendengar dan terkadang Aksa akan tertawa kecil.


"Papi, mami, Cherry kangen," ujarnya manja langsung memeluk mereka berdua.


"Padahal baru beberapa hari kita jarang bertemu, udah kangen aja sama kami," balas David mencubit hidung mancung putrinya.


Rika memilih mengabaikan putri dan suaminya, ia menghampiri Aksa dan mengelus surai rambutnya, "ada yang sakit sayang?" tanyanya lembut.


Aksa merespon dengan gerakan bibir yang tidak mengeluarkan suara, namun Rika mengerti maksud anaknya.


Jordan memandang pada kantung urin yang sudah penuh dengan air seni, "mi, panggilkan perawat tolong," ujarnya.


"Buat apa?"


"Untuk ganti kantung urin, ini udah penuh," balasnya.


Mami Rika menekan tombol yang ada pada samping brankar, seorang perawat pria datang masuk ke dalam.


"Tolong bersihkan anak saya," pinta Rika pada perawat.


"Ayo kita keluar, Aksa mau dibersihkan," ajak David.


Mereka keluar dari sana, dan duduk di bangku, Jordan memandang mata Rika yang sedikit bengkak dan ia baru menyadarinya.


"Mami habis nangis?" tanya Jordan.

__ADS_1


Rika langsung menggeleng kepalanya, "enggak, mungkin mata mami bengkak karena kurang tidur," alasannya.


Jordan bisa tahu dari gesture tubuh mami Rika menunjukkan ia berbohong, "Aksa udah sadar jadi mami sekarang harus istirahat dan jangan kelelahan," ucapnya tersenyum kecil.


David menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya, "papi rasa kalian harus tahu hal ini," ungkapnya.


"Pi, enggak," tolak Rika kepalanya bergeleng kecil.


"Kita harus memberitahu mereka bagaimanapun lambat laun pasti akan terungkap," selanya dengan suara tegas.


"Sampaikan aja Pi, kami pasti siap dengar, iya kan kak?" sambung Cherry tersenyum lebar.


"Aksa lumpuh," ucap David cepat.


Dua kata yang berhasil membuat mereka terdiam untuk beberapa saat, mereka mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh ayahnya.


"Papi bisa aja becanda, enggak lucu Pi," lontar Cherry terkekeh.


"Papi tidak bercanda ini serius," balasnya dengan nada tinggi.


Cherry membekam mulutnya dan menggeleng kepalanya dan kristal bening jatuh membasahi pipinya, "enggak mungkin," ucapnya terisak.


"Bagaimana bisa Pi? Pasti ini semua bohong," sela Jordan.


"Papi juga enggak percaya, tapi itu yang dikatakan oleh dokter. Kecelakaan tersebut berhasil membuat tulang belakangnya cedera sehingga dia mengalami kelumpuhan," papar David dengan nada rendah.


Jordan menonjok dinding rumah sakit yang berhasil membuat buku-buku tangannya mengeluarkan darah.


"Jordan, apa kau gila," pekik Rika langsung memeriksa luka anaknya.


"Tenangkan diri kalian! jangan buat keributan di sini," bentak David.


"Cherry, hapus air matamu. Jangan buat kakakmu curiga karena melihat air matamu itu," perintah Rika.


"Rika, bawa Jordan pergi biar lukanya diobati," perintah David tanpa penolakan.


Rika menarik paksa lengan Jordan membawanya pergi dari sana dan tinggal Cherry dan David yang masih diam berdiri di sana.


Seorang perawat keluar dari ruangan Aksa, "pasien sudah dibersihkan, kalian bisa masuk sekarang," ujarnya ramah.


"Terimakasih," balas David.


Perawat tersebut pergi dari sana. David melihat putrinya masih menangis cuma bisa memandang lekat anaknya.


Ia menghapus air mata di pipi putrinya, "princess papi jangan menangis," ucapnya.


Cherry tidak menjawab apapun ia masih terisak cukup lama.


"Hapus air matamu, papi tidak ingin kakakmu curiga,"perintahnya datar.


"Apa kak Aksa tahu ini?"


"Enggak, dia tidak boleh tahu sekarang. Ini pasti akan membuat kondisinya memburuk, biar papi sama mami menjelaskan ke Aksa secara perlahan padanya," ujar David mengelus pucuk kepala Cherry.


"Cherry janji enggak akan biarkan kakak tahu," lanjutnya.

__ADS_1


"Terimakasih my princess," ucapnya mengecup kening putrinya.


__ADS_2