
Cherry masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan kesal, ia merebahkan tubuhnya kasar, ia mengambil ponselnya dan mencari kontak sepupunya.
"Apa Cher?" tanya orang dari seberang sana.
"Zar, aku malas pergi. Lain kali aja kita shopping," ujar Cherry.
"Ih Cher enggak bisa gitu dong, aku udah siap-siap, kau enggak mikir apa waktu aku habis untuk make up dan kau begitu enak bilang tidak jadi, kalau gini gak usah janji kali tadi," omel Zara.
"Aku tahu salah, jadi aku minta maaf, kita bisa shoping kapan-kapan. Tapi sekarang aku enggak bisa keluar, keadaan rumahku lagi kacau," keluhnya.
"Kacau karena apa? Perasaan keluargamu baik-baik aja walaupun negara mengalami krisis sekalipun," canda Zahra terkekeh.
"Kacau tahu! Kau tahu mami bicara sama aku nadanya ketus, kak Jordan macam maling ketangkap basah, dan terakhir kak Aksa macam Rapunzel asik bekurung di kamarnya," keluh Cherry.
"Cuma gitu doang? Aku pikir masalah besar kali rupanya cuma masalah kecil," sungutnya sambil berdengus kesal.
"Cerita samamu bukannya didengar malah adu nasib."
"Siapa yang adu nasib Cherry! aku juga malas kali adu nasi sama dirimu," sungut Zahra.
Cherry tidak menggubris perkataan sepupunya ia langsung mengakhiri panggilan secara sepihak. Ia melempar asal ponselnya.
"Ih hari ini nyebelin banget, semua orang bikin aku kesal," gerutunya mengacak-ngacak rambutnya kasar.
...****************...
Seorang gadis berkulit putih seputih salju duduk begitu santai menikmati secangkir teh, ia mengenakan pillbox hat di atas kepalanya yang memperlihatkan kesan tegas dan elegan pada dirinya.
Gadis itu adalah Katya sedang berada di sebuah ruangan dimana berisi dua orang pria yang berbadan kekar, dengan suasana sedikit tenggang di antara mereka.
"Apa kalian sudah mendapatkan apa yang aku minta?" tanya Katya melirik sekilas orang di depannya.
"Sesuai yang anda minta," jawab pria bertato menyodorkan sebuah amplop.
Pria yang memiliki tato naga di tangannya bernama Radit, ia merupakan agen detektif swasta, cuma orang-orang tertentu yang bisa menyewa jasanya karena dia bukan sembarangan detektif. Dia pernah memecahkan kasus pembunuhan yang dimana kasus yang ia tangani pembunuhannya ternyata dilakukan oleh orang yang menjadi saksi dan pelaku merupakan saksi sesungguhnya. Semua orang tidak menyangka dengan kasus tersebut bahkan kepolisian tidak menemukan jejak apapun tapi Radit berhasil memecahkan kasus tersebut.
Katya langsung membuka amplop, dapat ia lihat isinya berupa beberapa gambar, Katya mengambil satu lembar foto seorang pria yang duduk di sebuah kafe.
"Apa kau yakin ini kakakku?" tanya Katya mengintimidasi.
"Iya nona, itu orang yang anda cari," balasnya tenang.
__ADS_1
"Dari latar foto ini bukan di negara ini kan?"
"Iya, timku melakukan pencarian dan menemukan titik lokasinya berada di Paris," papar pria tersebut.
"Apa saja kegiatannya di sana?"
"Tidak ada yang mencurigakan, dia cuma pergi ke kampus dan menjalankan rutinitas sehari-hari."
"Kau tidak menemukan hal yang mencurigakan darinya?"
"Tidak ada nona. Tapi dia sering pergi menemui psikiater," cetus Adit yang berhasil membikin Katya menutup mulutnya dengan tangan.
"Psikiater? buat apa dia menemui psikiater?"
"Setelah aku selidiki dia mengalami kecanduan akan narkoba," lontarnya tenang.
"Kakakku seorang pecandu itu maksudmu?" tanya Katya melayangkan tatapan tajam.
"Bukan seperti itu maksudku nona. Kakak anda telah menggunakan narkoba sekitar satu tahun yang lalu dan alasan dia berada di Prancis sekarang karena ayahmu mengirimnya ke sana dan menempatkan psikiater terbaik untuk mengobati dirinya," papar Radit sesuai informasi yang ia dapatkan.
"Terimakasih atas informasinya," balas Katya.
Katya membuka tasnya dan ia mengeluarkan selembar foto dan menyerahkannya ke Radit.
Katya juga menyodor sebuah kertas cek, "ini bayaranmu, jika kau berhasil mendapatkan informasi orang itu aku akan membayar dua kali lipat," ujarnya tersenyum.
Radit mendengar tentang uang tentu saja merasa sangat senang, ia menarik sudut bibirnya dan menjabat tangan Katya, "senang berbisnis denganmu nona," ucapnya.
"Aku ingin informasi secepatnya. Kirimkan informasi tentang kakakku ke email yang aku sebutkan," balas Katya datar.
"Baiklah nona," ucapnya.
Katya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, ia berjalan menuju tempat mobilnya ia parkirkan. Katya mengamati sekitarnya lalu masuk ke dalam.
Ia melepas kasar topinya dan mencampakkannya secara asal.
"Ternyata kakak selama ini berada di Prancis dan papa sendiri yang mengirim kakak ke sana, aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran papa. Dan bagaimana bisa Leon sialan itu menjadi pencandu narkoba, dia sudah gila apa," ucapnya memukul stir mobilnya.
Seorang pria yang berkisar 19 tahun sedang mengalami perdebatan dengan seorang pria paruh baya.
"Aku tidak mengajarkan dirimu untuk mengonsumsi benda haram itu," pekiknya melayangkan tamparan pada pria muda tersebut.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah mengerti dengan apa yang aku inginkan. Yang kau pedulikan hanya kehormatan keluarga ini," balas pemuda tersebut.
"Kau bukan putraku lagi Leon. Pergi dari sini dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku," ujar James dengan sorot mata dingin.
"Baik aku keluar dari rumah ini," balasnya dengan mengedikkan bahunya.
Leon keluar dari ruang kerja papanya, ia membanting kasar pintu dan betapa terkejutnya ia melihat adik perempuannya yang berdiri di depannya.
"Apa papa habis memukuli kakak?" tanya Katya menyentuh sudut bibir Leon yang berdarah.
Leon menghempas tangan Katya dari wajahnya, "bukan urusanmu," ucapnya dingin.
Leon berjalan ke kamarnya, Katya yang khawatir dengan kakaknya memilih mengikuti Leon. Leon masuk ke kamarnya ia mengambil koper yang berada di samping lemari.
Ia membuka kopernya lalu mengisi dengan beberapa pakaian dan barang-barang lainnya.
Katya melihat itu langsung menghentikan aktivitas kakaknya.
"Apa yang kakak lakukan? kakak gila," pekiknya seraya mengeluarkan isi koper yang sudah disusun oleh Leon.
Leon langsung mendorong Katya hingga terjatuh dan tubuhnya terbentur dengan dinginnya lantai.
"Jangan ikut campur urusanku Katya. Lebih baik kau diam saja," peringat Leon padanya.
Leon menutup kopernya dan mendorongnya keluar dari kamar, Katya langsung bangkit menyusul kakaknya.
"Kakak aku mohon jangan pergi! Kita bisa bicarakan ini baik-baik mungkin saja papa tidak bermaksud mengatakan itu padamu, aku akan membantu kakak bicara dengan papa," ucap Katya dengan mata berair.
"Bantu dengan cara apa? Yang ada papa akan tambah memukulku," bentak Leon.
"Kak aku mohon jangan pergi," pintanya.
Leon tidak menggubris rengekan Katya ia terus berjalan dengan menggeret kopernya sampai ia berhenti karena mendengar suara teriakkan yang berasal dari lantai atas.
"Biarkan saja dia pergi Katya," teriak tuan rumah satu oktaf yang berhasil membuat para pelayan mengetahui situasi antara Leon dan ayahnya.
"Baik, jika itu yang kau inginkan. Aku akan pergi dari sini," ucap Leon dengan tekan yang mantap.
Katya cuma bisa memandang sendu siluet Leon yang menghilang dari pandangannya, tidak ada satupun yang mencegah kepergian Leon dari rumah.
Katya meluruhkan air matanya dengan mencengkram stir mengingat terakhir kalinya ia melihat kakaknya.
__ADS_1
"Andai aku punya keberanian menghentikan kepergian kakak mungkin dia masih di sini. Itu percuma papa sendiri yang mengirim kakak ke Prancis. Aku harus mendengar langsung dari kakak apa alasannya mengkonsumsi benda haram itu. Aku harus pergi menemui kakak," ucapnya menyeka air matanya.
Katya menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan area gedung tersebut.