Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 51


__ADS_3

Katya secara perlahan-lahan membuka kelopak matanya, ia memandang sekitar tempat ia tertidur, ia merasa asing dengan tempat ini. Ia menoleh ke kiri dan melihat kakaknya sedang memandang ke arah luar dengan cangkir berada di tangannya.


Leon menoleh ke arah Katya, "kau sudah bangun!" cepatlah bersiap, kita akan pulang," ucapnya.


"Pulang kemana?" tanya Katya dengan tatapan polos.


"Pulang ke Indonesia," jawab Leon sembari menyesap minuman di cangkirnya.


Katya mengerutkan keningnya, "buat apa?" tanyanya.


"Aku ingin menemui kakek Richard, dan membatalkan pernikahan kalian," ujar Leon sarkas.


Katya langsung saja bangkit dari tempat tidur secara kasar, "kakak, jangan lakukan itu. Biarkan aku bertanggung jawab atas semua perbuatan papa," ucapnya menarik kerah kemeja Leon.


Leon menepis tangan Katya, "kau pikir aku akan biarkan hidupmu hancur gitu saja! tidak Katya kau adalah adikku," ucapnya.


"Karena aku adikmu makanya aku datang kemari meminta restu darimu."


"Sekali tidak tetap tidak Katya," ujar Leon tanpa penolakan.


"Kak, hidupnya sudah hancur cuma aku saja yang bisa mengeluarkan dia dari kegelapan," pekik Katya serak.


Leon berdecak sinis, "hidupmu saja belum bisa kau urus jangan sok mengurus hidup orang lain," ujarnya secara sarkas.


Katya terdiam dan tidak bisa berkata-kata, ia hanya meremas ujung gaunnya saja.


"Cepatlah bersiap, jangan membuang waktu lagi," ujar Leon yang telah melangkah keluar dari kamar.


"Enggak boleh seperti ini, kakak harus merestui hubungan kami, cuma aku yang bisa menyelesaikan ini semua. Hanya aku," ucap Katya gusar dan tanpa ia sadari ia telah menggigit kukunya hingga berdarah.


Katya bangkit dan langsung berlari keluar, ia menuruni tangga dengan cepat dan melihat Leon yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya.


"Kak mau kau merestui atau tidak aku akan tetap menikah," pekik Katya dengan meremas dadanya.


Leon merasa geram dengan perkataan Katya dan secara reflek ia menjangkau vas yang tepat berada di sampingnya dan melempar tepat di arah Katya.


Katya melihat serangan tersebut langsung menghindar dan terduduk lemas dan bernafas secara tidak teratur.


"Itu keputusanku. Silakan kau menikah tapi bukan aku yang menikahkan mu melainkan wali hakim saja karena aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian," ucap Leon dingin.

__ADS_1


Katya mengeluarkan air matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya, bagaimana mungkin Leon membiarkan tanggung jawabnya diambil alih oleh wali hakim padahal ia masih hidup dan sehat.


"Baik, jika itu keputusan kakak. Aku terima semoga suatu hari nanti kau bisa merestui kami," ucap Katya secara pilu dan berusaha menahan isakan tangisnya.


Katya melihat tasnya yang masih di sofa sesuai dengan posisi semalam ia meletakkannya, segera ia ambil tas tersebut dan melangkahkan kakinya keluar dari griya tawang milik Leon.


Leon cuma melirik secara sekilas, "semoga kau tidak menyesal dengan keputusan yang kau buat," gumamnya.


...****************...


Katya berjalan tanpa arah, ia tidak menyadari jika ia keluar dari griya tawang tanpa menggunakan alas kaki, bahkan kakinya sudah lecet dan mengeluarkan sedikit darah.


Katya melihat taksi yang berhenti tepat di depannya langsung saja masuk, "Veuillez vous rendre à l'hôtel De Lo Ga / tolong ke hotel De Lo Ga," ucapnya.


Supir taksi tersebut langsung menjalankan mobilnya dan setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit taksi berhenti tepat di pintu masuk hotel.


Katya segera mengeluarkan beberapa lembar uang, "merci / terimakasih," ucapnya dan membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam hotel.


Supir taksi tersebut cuma menggaruk tengkuknya, "la plupart de l'argent / uangnya kebanyakan," ucapnya.


Supir taksi tersebut tidak mengambil pusing dan langsung meninggalkan lobi hotel.


Katya berjalan tanpa mempedulikan pandangan orang-orang tentang dirinya, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Ia melihat ibu asuhnya sedang memasukkan pakaian ke dalam koper, ia berjalan dengan kening yang berkerut, "ibu, kenapa kau memasukkan pakaian ke dalam koper?" tanyanya.


"Kita akan pulang Katya bersama Leon, kau tenang saja Leon tidak akan biarkan kau menikah," ucap Wati memegang kedua lengan Katya.


Katya langsung menghempaskan tangan ibunya, "Leon sudah mengizinkan aku menikah walaupun wali hakim yang akan menikahkan kami," ucapnya dingin.


Wati membuka mulutnya lebar, "apa! Leon udah gila! Dia tidak bisa melakukan ini. Harusnya dia menentang pernikahan ini," cerca dirinya.


"Aku sudah menduga ibu yang pasti akan menceritakan masalah ini ke kak Leon. Aku tahu kau khawatir akan hidupku tapi biarkan aku menentukan pilihanku ini dan tidak ada siapa pun yang berhak mengaturnya," ucap Katya dingin dengan melayangkan tatapan tajam ke ibunya.


Wati hanya bisa menelan salivanya kasar, ia tidak berkutik sedikit pun, ia cuma bisa memandang Katya tanpa bisa berkata-kata.


"Karena ibu sudah menyiapkan koper, ku rasa kita bisa pulang hari ini," ucap Katya.


......................

__ADS_1


Auris cuma menatap makanan dan tidak ada niat untuk menyentuhnya sedikit pun padahal makanannya yang disediakan oleh pelayan begitu menggugah selera yaitu, ada udang asam manis, ayam goreng crispy, dan sup Tom yam.


Kevin melihat hal tersebut sedikit khawatir dengan Auris. Ia merasa Auris berubah secara drastis semenjak mereka pulang dari mall, dan ia tidak tahu apa penyebab perubahan sikapnya.


"Kak," panggil Kevin.


Namun, Auris tidak mendengar panggilannya ia masih larut dalam lamunannya. Kevin secara gamblang langsung memercikkan sedikit air tepat di wajahnya Auris.


Auris menyadari ada sesuatu mengenai wajahnya langsung mengangkat pandangannya dan melihat Kevin yang memercikkan air padanya.


"Kevin," tegur Auris.


Kevin langsung duduk kembali ke kursinya, "bagus deh kakak sadar. Capek dari tadi aku manggil kakak," ucapnya santai.


"Kenapa?"


"Kakak dari tadi melamun, kakak lagi ada masalah?" tanya Kevin dengan tatapan mengintimidasi.


Auris merasa sedikit gugup melihat tatapan Kevin namun ia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya, "enggak ada," elaknya.


"Benar? Kakak enggak ada sembunyikan sesuatu dari Kevin kan?" tanya Kevin menyelidik Auris.


"Enggak ada, buat apa kakak sembunyikan sesuatu dari Kevin," balas Auris tersenyum lebar.


"Oh iya kak, kakak ada nelpon?" tanya Kevin.


"Semenjak Katya pergi dia tidak ada telpon kakak," ucap Auris jujur.


"Kira-kira ibu sama kakak ngapain di sana?" ucapnya dengan wajah murung.


"Mungkin mereka ada urusan yang penting sehingga enggak bisa nelpon kemari," ujar Auris berusaha menenangkan Kevin.


"Biasanya enggak gini, kemana kakak pergi pasti dia selalu telpon kasih kabar, ini tidak seperti biasanya," keluh Kevin menyentuh pipinya.


"Coba nanti kakak telpon Katya," ucap Auris menghibur Kevin.


"Coba aja kalau bisa paling tidak diangkat sama sekali oleh kakak," sambung Kevin acuh dengan mengangkat bahunya.


Auris menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, "ini bocah dari tadi asik salah aja aku di depan matanya," gumamnya mengelus dadanya.

__ADS_1


__ADS_2