
Chiko beserta Katya melihat salinan rekaman cctv parkiran, mereka melihat secara seksama dan tidak menemukan kejanggalan apapun dari rekaman tersebut.
"Tidak ada petunjuk apapun, dan tidak ada yang mencurigakan dari rekaman cctv ini," ujar Chiko memandang serius.
Katya melihat rekaman orang yang terlihat mencurigakan di parkiran, "kak, tolong perbesar ini," pintanya.
Chiko memperbesar gambar orang tersebut dan yang begitu sialnya wajahnya terlihat buram.
"Sial, wajahnya buram," decak Chiko.
"Kak, apa ada orang juga yang menyabotase rekaman cctv juga," celetuk Katya.
"Sepertinya iya, kasus ini jauh lebih sulit dipecahkan, aku akan mencari tahu hal ini," ungkap Chiko menghempas kasar mouse.
"Kak, menurutmu apa kira-kira motif pelaku?" tanya Katya mengetuk jarinya di atas meja.
"Aku tidak tahu. Aku rasa tuan tidak memiliki musuh sama sekali," ucapnya.
"Iya kakak benar, papa memang tidak punya musuh. Tapi ini janggal kak, jika papa tidak punya musuh pasti orang yang tidak menyukai papa yang merencanakan hal ini," imbuh Katya meremas jari-jarinya.
Chiko dan Katya hening mereka fokus pada lamunan mereka masing-masing sampai suara ketukan pintu memecahkan kesunyian antara mereka.
"Masuk," saut Chiko.
Seorang pria paruh baya masuk ke dalam, "maaf mengganggu dokter Chiko, ada hal yang ingin aku sampaikan," ujarnya.
"Sampaikan saja," balas Chiko.
Melihat gerak-gerik dokter tersebut membuat Katya sedikit peka mungkin ini pembicaraan penting, dan orang ini pasti tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.
"Kak, aku pergi dulu," pamitnya berdiri.
"Cepat sekali, kita belum mengobrol lama dan aku ingin makan siang samamu," ucap Chiko kecewa.
"Besok aku akan datang lagi, jangan lupa ajarkan aku besok," ujar Katya tersenyum kecil.
"Hati-hati Katya," ucap Chiko mengantar Katya keluar dari ruangannya.
Katya melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan Chiko, ia tidak menyadari kakinya melangkah kemana sampai ia berdiri mematung di ruang ICU.
"Kenapa aku kemari?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Katya cuma memandang ruangan itu, ia memilih masuk ke dalam dan bisa ia lihat beberapa pasien yang berjuang hidup dan mati dari kaca pembatas antara pasien dan pengunjung.
"Sial, buat apa aku masuk ke mari? Aku aja tidak tahu orang itu di ICU ruangan mana," ucapnya pelan.
Katya memilih berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut, menuju parkiran dan masuk ke mobilnya, ia memilih meninggalkan rumah sakit.
Katya berkendara tanpa arah, ia menyalip beberapa kendaraan yang berada di depannya, ia berkendara sampai ia berhenti di sebuah kediaman mewah arsitektur klasik.
Katya memandang bangunan itu lekat dari dalam mobilnya, "aku harap itu bukan kau," ucapnya pelan.
...----------------...
Seorang pria yang terbaring dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya secara perlahan matanya terbuka, ia mengerjap matanya pelan menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
"Dimana aku?" tanyanya pelan bahkan tidak terdengar sama sekali.
Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan mendengar bunyi Elektrokardiogram membuat dirinya tahu jika ia berada di rumah sakit.
Beberapa tim dokter masuk ke dalam untuk memeriksa berapa kagetnya mereka melihat pasien tersebut sudah sadar.
Mereka langsung saja memeriksa pasien mulai dari denyut nadi, jantung dan berbagai inci tubuhnya.
Dokter menekan kakinya, "apa kau merasa kakimu tuan?" tanyanya.
mengerti. Mereka keluar dari sana dan bisa melihat keluarga Wijaya yang berdiri di depan pintu.
"Selamat putra kalian sudah sadar, kami akan melakukan berbagai macam tes padanya, jika tidak ada masalah mungkin dia akan kami pindahkan ke ruang rawat," papar Dokter tersebut.
"Terimakasih dok," ucap David.
Para tim dokter sudah pergi dari hadapan mereka. Mami Rika begitu bahagia mendengar kabar anaknya sudah sadar dari koma.
"Akhirnya Aksa sadar Pi, mami akan suruh Bella untuk donasi ke panti asuhan," ucap Rika bersemangat.
"Kita akan melakukan itu setelah Aksa keluar dari rumah sakit, ok," balas papi David memeluk Rika.
"Kita harus mengabari yang lain bahwa Aksa sudah sadar," ujar mami Rika.
"Kita akan mengabari mereka," jawabnya.
"Aku ingin melihat Aksa," ucap Rika melepas pelukan David.
__ADS_1
David langsung menahan pergelangan tangan Rika, "Jangan sekarang mi, dokter bilang Aksa harus istirahat," ucapnya.
Mimik wajah mama Rika terlihat sedikit kecewa, David menangkup pipi istrinya, "jangan cemberut gitu sayang. Ayo kita pergi," ajaknya.
"Pergi kemana? Aksa siapa yang jaga? Kalau ada apa-apa nanti gimana?" cecar Rika yang membuat David cuma mengangguk kecil.
"Udah? Mami mari kita pergi bagaimanpun kau harus istirahat kau terlihat begitu lelah," ucapnya lembut.
"Mami mau di sini nemenin Aksa," putusnya.
"Gimana mau lihat jika kita enggak diijinkan masuk ke dalam, jadi mari kita pulang dan istirahat," bujuk David lembut.
"Kalau kita pulang siapa yang jaga Aksa?"
"Aku aja yang jaga Aksa mi," balas seorang pria yang berjalan ke arah mereka.
"Jordan," panggil mami Rika langsung memeluknya.
"Apa kabar sayang? Mami sangat merindukanmu," ucap Rika memegang pipi Jordan.
Jordan Oliver Wijaya adalah keponakan nya David Wijaya, ayahnya Jordan adalah adiknya, karena kedua orang tua Jordan sudah meninggal maka mereka yang mengurus Jordan dari sedari bayi dan menganggap seperti anak kandung. Orang tua Jordan meninggal karena kecelakaan pesawat waktu mereka ingin pulang ke Indonesia.
Jordan dan Aksa itu sangat dekat bagaikan perangko yang tidak bisa dipisahkan, mereka mengerti akan satu sama lain karena persamaan usia dan mereka diasuh oleh orang tua yang sama dan pasti mereka sangat nakal sampai mami Rika dibuat pusing tujuh keliling menghadapi tingkah mereka.
"Kapan kau kembali Jordan?" tanya David.
"Aku kembali semalam, aku datang kemari karena sangat mengkhawatirkan Aksa," papar Jordan.
"Kita sudah lama tidak bertemu dan lihat kau terlihat kurus," ujar Rika menekan otot lengan Jordan.
"Mami, tubuhku bukanlah kurus melainkan proporsional," jelasnya.
"Karena Jordan sudah di sini, maka dia yang akan jaga Aksa hari ini, mari kita pulang sayang," seru David.
"Iya mi pulang aja, lihat kantung mata mami udah mirip panda. Mami mau papi cari istri baru," godanya yang berhasil membuat mami Rika memukul kecil pundaknya.
"Berani sama mami, kalau papi cari istri baru mami akan mencincang terus kasih ke anjing liar," sungut Rika kesal.
"Jordan, tolong jaga Aksa jika terjadi apa-apa langsung hubungi papi," perintahnya.
"Baik Pi," jawabnya.
__ADS_1
Mami Rika dan papi David pergi dari sana meninggalkan Jordan yang masih berdiri di sana.
Jordan berjalan ke kaca pembatas, "Sa, akhirnya kau sadar. Aku sangat takut jika terjadi apa-apa padamu, semoga kau cepat sembuh," ucapnya memandang Aksa yang sedang tidur untuk istirahat.