
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu rasanya baru kemarin Katya menikah dengan Aksa namun tanpa ia sadari pernikahan mereka telah berjalan selama 4 bulan. Dan selama 4 bulan tersebut Katya berusaha mengakrabkan diri dan memahami apa yang disukai maupun tidak oleh suaminya.
Aksa juga telah kembali melakukan aktivitasnya dulu sebelum kecelakaan, ia kembali memegang perusahaan setelah lama diurus oleh Jordan, ia cuma datang ke kantor ketika ada hal yang penting dan juga mendesak sisanya ia serahkan pada Rafael.
Katya telah kuliah di universitas Scorpion bersama dengan Auris dan Cherry, mereka mengambil fakultas kedokteran, mereka bisa masuk universitas melalui ujian tertulis yang diadakan. Sebenarnya baik Katya maupun Auris begitu kesal ketika tahu Cherry mengambil jurusan yang sama bahkan juga di kampus yang sama.
Hubungan Katya dengan Cherry tidak ada kemajuan apa pun melainkan jika mereka berpapasan seperti bertemu dengan musuh saja, mereka berdua juga tidak ada niat ingin menjalin hubungan antar adik dan kakak ipar.
Zahra juga kuliah di universitas yang sama dengan mereka namun cuma beda jurusan, Zahra memilih mengambil jurusan manajemen sesuai yang diatur oleh orang tuanya.
Leon telah kembali ke Prancis setelah satu bulan pernikahan Katya, karena bagaimanapun Leon harus melanjutkan pendidikannya di sana. Sebelum pergi dia dan Aksa ada membicarakan hal penting yang tidak diketahui oleh Katya.
Di sinilah Aksa sedang berada di ruang musik bersama adik iparnya Kevin, Aksa mendengar dan memperhatikan jari-jari mungil Kevin yang begitu lincah menari di atas tuts piano, melodinya yang dihasilkan membuat tenang siapa pun yang mendengarnya.
Kevin menghentikan permainannya ia menoleh ke arah Aksa, "apa kakak tau cara memainkan karya 'Der Flohwalzer?" tanyanya secara tiba-tiba.
"Iya aku tau, kenapa?" tanya Aksa balik.
"Mainkan lagu itu, aku ingin mendengar permainan kakak," pinta Kevin dengan mata berbinar.
Aksa tidak bisa menolak permintaan Kevin tapi dia teringat satu hal bahwa dia tidak bisa bermain piano kalau pedal piano tidak diinjak, jangankan untuk menginjak pedal menggerakkan kakinya saja ia tidak bisa.
"Maaf Kevin, kakak tidak bisa memainkan piano untukmu," ujar Aksa lesu.
"Aku tau kakak tidak bisa memainkannya karena tidak bisa menginjak pedal piano ini bukan? bagaimana aku yang menginjaknya dan tangan kakak yang bermain," celetuk Kevin dengan ide brilian.
Aksa tidak bisa menolak permintaan Kevin dan dia memainkan jari-jarinya dan menekan setiap tuts dengan begitu lembut dan Kevin cuma menginjak pedal piano saja.
Permainan yang dilakukan Aksa menghasilkan melodi yang indah dan enak didengar.
"Permainan kakak sangat indah, darimana kakak belajar bermain piano?" tanya Kevin.
"Aku pernah mengikuti kelas piano atas permintaan kakek tapi aku berhenti karena itu sangat membosankan," jawab Aksa menggedikkan bahunya.
__ADS_1
"Kenapa kakak bilang piano membosankan?"
"Menurutku itu membosankan cuma menekan tuts dan melihat not," papar Aksa.
"Yang kakak katakan memang benar, jika disuruh pilih antara piano sama kuda, aku pasti lebih pilih kuda," tutur Kevin bersemangat.
"Kau sangat suka berkuda?"
"Iya, aku suka bahkan aku jatuh cinta sama kuda untuk pertama kalinya ketika papa mengajakku mengunjungi kudanya," jawab Kevin riang.
"Papa suka berkuda juga?"
"Kami semua suka berkuda kecuali kak Katya."
"Kenapa?" tanya Aksa dengan dahi berkerut.
Kevin meletakkan jarinya tepat di depan bibir Aksa, "jangan bilang siapa-siapa kalau Kevin cerita," ucapnya.
Aksa cuma terkekeh kecil namun ia mengangguk kepalanya.
"Terus dia terluka?"
"Enggak, kakak tidak terluka tapi ia kotor karena dia jatuh di kubangan lumpur, kayaknya itu kuda memang tidak suka sama kakak," ucap Kevin tertawa lebar.
Aksa juga ikut tertawa mendengar cerita lucu tersebut, ia jadi membayangkan bagaimana rupa dan ekspresi wajah Katya ketika terjatuh ke kubangan lumpur.
Mereka tertawa terbahak-bahak tanpa sadar jika orang yang lagi mereka ceritakan sedang berdiri bersandar di dekat pintu. Katya melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka berdua.
"ehem," gumam Katya.
Kevin dan Aksa kompak menoleh ke belakang dan dapat mereka lihat Katya berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Kakak," panggil Kevin riang langsung memeluk tubuh Katya.
__ADS_1
"Kapan kau pulang Kity?" tanya Aksa.
"Baru saja," jawab Katya singkat.
Katya menatap tajam Kevin dan Aksa, "aku merasa jika kalian berdua sedang menceritakan aku," ucapnya.
"Perasaan kakak saja," elak Kevin.
"Iya, mungkin perasaanmu saja," timpal Aksa.
Katya menyingkap gaunnya lalu duduk di samping Kevin, "bisa mainkan satu lagu untuk kakak!" pintanya.
Kevin memainkan jari-jarinya di atas tuts piano, ia memilih memainkan lagu 'twinkle twinkle little star'.
Katya tersenyum kecut mendengar permainan Kevin, ia tidak menduga adiknya akan memainkan lagu anak-anak untuknya, ia pikir Kevin akan memainkan karya Mozart atau Beethoven.
Melihat gesture tubuh Katya Aksa tahu bahwa istrinya itu tidak suka dengan lagu yang dimainkan oleh Kevin. Kevin menyelesaikan lagunya Aksa dan Katya memberikan tepukan tangan untuk mengapreasiasi permainannya.
"Bagaimana kakak suka?" tanya Kevin.
"Ya suka sekali," jawab Katya berbohong demi menjaga perasaan Kevin.
"Menurut kak Aksa permainan Kevin bagus?" tanya Kevin menoleh ke Aksa.
"Sangat bagus, sering-seringlah bermain untuk kakak," balas Aksa mengacak rambut Kevin.
Seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di depan ruang musik menatap lekat tiga orang yang duduk dekat piano, ia menatap interaksi mereka semua dengan tatapan sendu.
"Melihat interaksi mereka aku seperti melihat tuan James dan nyonya Irene," ucap Wati pelan menyeka air matanya.
Follow Ig author auris713 dan tasya_1438
Berikan komentar saran dan kritik kalian untuk author
__ADS_1
See you