
"Selamat siang, perkenalkan aku Katya Angelina Wilson calon istrimu," ujar Katya penuh percaya diri dengan tersenyum lebar.
Aksa mengerutkan keningnya, "calon istri? jangan bercanda tidak ada satupun yang mau menikah denganku, aku cacat," jawabnya tertawa miris
Mendengar tawa Aksa Katya merasa terluka, ia menyentuh tangan Aksa.
"Aku tidak berbohong, aku memang calon istrimu."
"Kau tidak berbohong padaku kan? aku tidak suka dengan pembohong," balas Aksa ketus.
"Aku mengatakan yang sebenarnya aku calon istrimu. Aku datang karena mendengar kau masuk ke rumah sakit, apa kondisimu sudah baik?" tanya Katya khawatir.
"Aku baik. Kau tidak menipuku!" seru Aksa menyelidik Katya.
"Enggak, kalau kau enggak percaya kau bisa tanya kakek," balas Katya tenang.
"Kenapa baru sekarang kau menemui aku?"
"Maaf, baru bisa menjumpai kamu sekarang."
"Enggak apa-apa aku senang kau ada di sini, tolong temani aku," tutur Aksa lembut.
Mendengar tutur Aksa yang lembut membuat dirinya nyaman berada di dekatnya.
"Aku enggak boleh egois. Aku akan bertanggung jawab," batin Katya.
...****************...
Seluruh anggota Wijaya bukannya duduk tenang di bangku, mereka malah menguping dan mengintip Aksa dan Katya dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kek, itu cewek siapa sih? Ngaku-ngaku jadi calon istri kakak," sewot Cherry.
"Diam, kakek enggak dengar mereka bicara apa!" balas Richard ketus.
Mereka masih fokus mengintai Aksa bersama Katya dari dalam.
Jordan menepuk jidatnya dan memijitnya pelipisnya, "kalian tidak malu apa orang-orang dari tadi terus memandang ke arah kita, mereka pasti berpikir kita itu seorang pencuri," pekiknya pelan.
Mereka memerhatikan tatapan orang-orang ke mereka dan langsung saja menjauh dari pintu dan duduk di bangku.
"Kalian ini seperti pencuri saja," komen Richard dengan ekspresi datar.
"Enggak terbalik kek, bukannya dari tadi kakek yang serius kali mengintip mereka," balas Cherry.
"Diam!" bentak Richard yang berhasil membuat Cherry mendelik tajam ke kakeknya.
"Dasar kakek tua," gerutu Cherry.
"Kenapa Katya bisa tahu Aksa di sini?" tanya Lisa.
__ADS_1
"Ku rasa dokter tadi memberitahu ke Katya," jawab David santai.
"Pantas saja kau berkata seperti itu pada dokter tadi. Itu bagus," puji Richard.
"Jadi apa langkah kalian selanjutnya?" tanya Jordan.
"Tentu saja kita akan menyiapkan pernikahan," jawab Lisa cepat.
"Tunggu, jadi gadis tadi benar calon istri kakak? kenapa kalian tidak memberitahu aku?" cerca Cherry.
"Jordan bawa Cherry pulang, ini sepertinya sudah larut," perintah David.
"Kakek jawab dulu pertanyaanku," protes Cherry.
"Pulang saja dan belajar saja sana," lontar Lisa ketus.
Jordan langsung menarik tangan Cherry dan membawanya pergi dari sana. Mereka sedikit merasa lega karena Cherry sudah pergi, jadi mereka tidak perlu mendengar suaranya yang ribut itu.
"Sekarang Katya sudah setuju menikah sama Aksa, tentukan tanggal pernikahan mereka dan beritahu publik penyatuan keluarga Wilson dan Wijaya," ujar Richard.
"Aku dan Rika akan menyiapkan gedung dan semua keperluan lainnya," sambung Lisa.
"Tunggu, kalian tidak kecepatan untuk membahas ini bagaimana jika itu tidak terjadi, itu sama aja membuat kita malu untuk kedua kalinya," sela Rika.
"Yang dikatakan Rika benar papa, kita terlalu cepat membicarakan ini," sambung David.
"Aku yakin Katya akan jadi menantu keluarga kita," ujar Richard penuh percaya diri.
Katya sedang mengelus surai rambut hitam Aksa, ia mengusapnya secara lembut. Aksa begitu nyaman dengan belaian diberikan oleh Katya.
Katya melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Kak, aku pulang," pamit Katya lembut.
Ekspresi wajah Aksa yang tadinya tenang langsung berubah masam, "apa kau akan pergi meninggalkan aku?" tanyanya dingin.
"Enggak kak, ini sudah malam aku takut ibuku akan khawatir. Besok aku akan datang lagi," jelas Katya memelas.
"Janji besok datang lagi," ucap Aksa dengan tatapan sayu.
"Iya janji," balas Katya dengan jari membentuk huruf v.
Katya mengambil tasnya yang di atas meja, ia melangkah kakinya keluar dari ruang rawat Aksa.
Melihat siluet Katya yang sudah menghilang dari ruangannya, Aksa langsung merubah mimik wajahnya.
"Ternyata aku harus bunuh diri dulu baru kau mau menemui aku," gumam Aksa tersenyum getir.
...****************...
__ADS_1
Katya keluar dan menutup pintu ruang rawat Aksa dan betapa kagetnya ia ketika berbalik malah melihat wajah kakek Richard yang tepat berada di hadapannya.
"Kakek membuatku takut," ujar Katya menyentuh dadanya.
"Ngapain kau berada di sini?" tanya Richard dengan tatapan mengintimidasi yang membuat Katya sedikit gugup.
"Apa salahnya aku ingin menjenguk calon suamiku tidak ada yang melarang kan!" jawab Katya tenang dan tersenyum manis.
"Sepertinya kau memang menyetujui hubungan ini, baguslah aku tidak perlu mencari pengganti yang lain," balas Richard.
"Kau bisa bicarakan pernikahan dengan ibuku, kakek. Ini sudah malam aku harus pulang sekarang," ujar Katya dingin.
Katya meninggalkan mereka dan melangkah kakinya menuju parkiran, ia membuka kasar pintu mobilnya dan masuk ke dalam.
Katya mengacak-ngacak rambutnya kasar dan juga sesekali menariknya, "sial, Katya kau bodoh bagaimana bisa kau datang kemari dan mengaku jadi calon istrinya," gerutunya memukul kepalanya.
Katya membanting kepalanya sedikit kasar pada stir mobilnya, "Katya kau memang gila, umurmu masih 18 tahun dan kau malah menjanjikan pernikahan pada pria dewasa, kau sudah gila Katya," pekiknya.
Katya mengusap rambutnya ke belakang, ia memakai seat belt dan langsung menghidupkan mobilnya lalu menancap gas pergi dari rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keluarga Wijaya masuk ke dalam ruang rawat setelah Katya pergi, mereka mengelilingi brankar Aksa dan itu berhasil membuat Aksa sedikit jengkel.
Ia merasa tatapan keluarganya seakan-akan sedang mengantar kepergiannya dari dunia lain.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Aksa berdengus kesal.
"Apa yang dikatakan Katya benar? Dia setuju menikah denganmu?" tanya Richard mencerca Aksa dengan berbagai pertanyaannya.
"Iya dia setuju walaupun aku harus membuat drama dulu," balas Aksa tanpa sadar perkataannya.
"Apa maksudmu Aksa? Drama apa yang kau lakukan?" tanya David mengangkat alisnya.
"Aku tidak perlu menyembunyikan hal ini, aku sengaja minum obat tidur dalam jumlah banyak agar aku mengalami overdosis," ucap Aksa santai tersenyum lebar.
Dalam waktu yang singkat sebuah telapak tangan melayang ke pipi tirus Aksa, dan pelakunya adalah ayahnya sendiri David.
"Kau gila memukul putramu sendiri!" pekik Lisa langsung menyentuh pipi cucunya.
"Tanyakan sama anak ini yang mana lebih gila aku atau dia," pekik David menampilkan urat-urat di pelipisnya.
"Seenggaknya dengan kegilaan yang aku lakukan, aku berhasil membuat Katya menyetujui pernikahan ini, seharusnya kalian berterimakasih padaku," balas Aksa.
"Sudahlah lupakan saja masalah ini, semua udah berjalan sesuai rencana," ucap Richard menengahi mereka.
"Udah sayang, semua sudah terkendali. Kondisi Aksa sudah stabil dan kita berhasil membuat gadis itu menjadi menantu kita," sambung Rika mengusap bahu suaminya.
"Aksa beristirahatlah, papi dan mami akan menjagamu di sini," ucap David secara halus.
__ADS_1
Aksa memalingkan wajahnya ke samping ia begitu malas melihat wajah ayahnya sekarang, ia merasa sedikit kesal karena ayahnya menampar dirinya.