
Di sebuah padang rumput yang hamparan luas terdapat berbagai macam jenis-jenis kuda beserta pemiliknya. Padang rumput ini begitu nyaman untuk menunggang kuda dan tidak ada satu pun medan terjal yang dapat membahayakan kuda dan penunggangnya.
Seorang pria kecil mengelus surai bulu kuda dengan begitu halusnya dan tinggi kudanya disesuaikan dengan ukuran tubuhnya.
"Kevin sayang, ayo makan!" teriak seorang wanita.
Kevin mengabaikan teriakan ibu asuhnya ia masih betah dengan kuda miliknya yang berjenis Kuda Poni Shetland.
Kuda poni Shetland adalah jenis kuda poni Skotlandia yang berasal dari Kepulauan Shetland di utara Skotlandia. Tinggi poni Shetland berkisar dari 28 inci sampai 42 inci. Poni Shetland memiliki bulu tebal, kaki pendek dan dianggap cukup cerdas.
"Kenapa kau begitu imut!" ujar Kevin dengan tangan menggelitik bagian perut kuda.
Terdapat sepasang mata coklat hazel yang memperhatikan pria kecil itu. Namun, Kevin tidak menyadarinya ia malah tenggelam dengan waktunya bersama kuda kesayangannya.
Sepasang langkah kaki mendekatinya, Kevin menaikkan pandangannya dan bisa ia lihat seorang laki-laki tua yang mempunyai tubuh sedikit kekar dan tinggi.
Kevin menarik senyum lebar, "apa kabar grandpa!" ujarnya.
Pria tua tersebut adalah Abraham ia seperti tertusuk pisau di jantungnya, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Do you know me?" tanya pria tua tersebut.
"I know you, your're my grandpa!" jawab Kevin tenang.
"Darimana kau tahu?" tanya pria itu.
"Rahasia," jawab Kevin tersenyum lebar.
Abraham menghembuskan nafasnya kasar lalu tersenyum tipis ke Kevin, "kau suka kuda?" tanyanya.
"Aku suka, mau bertanding melawan aku," tantang Kevin.
"Sepertinya kau akan kalah, lihat kudamu itu jenis kuda untuk peliharaan bukan untuk pacu kuda," jawab Abraham dengan memiringkan kepalanya.
"Grandpa, jangan meremehkan kudaku bilang saja karena kau sudah tua makanya tidak berani menerima tantangan dariku. Ayo kita pergi dari sini my horsy," ujar Kevin menuntun kudanya pergi meninggalkan Abraham.
Abraham memandang punggung cucunya dengan ekspresi wajah cengo sampai punggung Kevin menghilang dari penglihatannya ia tetap memasang ekspresi wajah tersebut untuk waktu yang cukup lama.
Lucas menepuk bahu tuannya tersebut, "apa kau baik-baik saja tuan?" tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik saja, ternyata seperti ini rasanya sakit ditolak oleh cucu sendiri," jawab Abraham dengan nada dramatis.
__ADS_1
"Apa yang tuan lakukan sama Kevin?"
"Dia menantang aku berkuda dan aku balas kudamu tidak cocok untuk pacu kuda," papar Abraham jelas.
Lucas menepuk jidatnya dan memijit pelipisnya yang tidak sakit sama sekali, "tuan, kalau aku jadi Kevin aku pasti sudah memukulmu," gumamnya pelan.
Abraham menyentuh kedua pundak Lucas, "apa yang harus aku lakukan? Aku ingin dekat dengan cucuku," rengeknya.
"Cara terbaik dekati tuan Kevin dahulu, dia masih bisa dibujuk karena dia masih kecil. Terus tuan lebih baik kita pulang dan pikirkan cara alami untuk mendekati Kevin," ujar Lucas yang sudah menarik pergelangan Abraham.
Abraham cuma bisa pasrah ditarik oleh orang kepercayaannya, Lucas menuntun tuannya duduk di mobil bagian belakang lalu ia duduk di depan kemudi mobil. Lucas langsung menancap gas meninggalkan tempat pacu kuda tersebut.
Abraham termenung untuk waktu yang lama dan sekelebat ingatan melintas di pikirannya.
"Lucas," panggil Abraham dengan suara serak.
"Iya tuan," jawabnya.
"Kevin tahu aku adalah kakeknya," ucapnya spontan.
Lucas mengernyitkan dahinya, "bagaimana bisa?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu, tapi dia memanggilku kakek dan ia juga berkata aku adalah kakeknya," jelas Abraham panjang.
"Katya atau Leon tidak mungkin memberitahunya."
"Bisa saja almarhum tuan James," celetuk Lucas.
"Itu tidak mungkin, lebih baik Kevin mengetahuinya sekarang daripada nanti," ujar Abraham dengan suara datar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin berjalan dengan raut wajah kesal sembari menuntun horsy - kuda kesayangannya. Wati mendekat ke arah putranya.
Wati menyentuh pundak Kevin, "kenapa dengan wajahmu itu sepertinya anakku ini sedang lagi kesal!" ujarnya terkekeh kecil.
"Ibu, apa ibu tahu aku tadi jumpa pria tua yang begitu menyebalkan, masa dia hina horsy dia bilang horsy payah," adu Kevin dengan mata berair.
"Siapa pria tua itu dan dimana dia sekarang?" tanya Wati dengan nada tidak enak.
"Dia sudah pergi," jawabnya lesu.
__ADS_1
Wati membelai pucuk kepala Kevin, "pergi cuci tangan dan setelah itu kita makan siang," ucapnya lembut.
Kevin memberikan respon mengangguk dan ia langsung berlari ke arah tempat pencucian tangan. Wati meminta petugas untuk menuntun horsy kembali ke kandangnya.
Wati mengeluarkan roti lapis dari keranjang bambu dan ia juga menuang jus jeruk ke gelas dan menyusunnya di atas meja.
Kevin duduk dan langsung meminum jus dalam sekali teguk. Wati cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya tersebut.
"Jika Kevin jumpa lagi sama itu kakek akan Kevin tantang balap kuda biar dia enggak hina horsy," ucap Kevin dengan pipi mengembung.
Wati menarik tipis sudut bibirnya, "sudah ibu bilang ganti kuda yang lain saja, tapi Kevin cuma suka sama horsy," ucapnya.
"Horsy adalah kuda pertama Kevin dan itu hadiah dari papa, mau digantikan sama seratus kuda tidak ada yang bisa gantikan horsy," ucap Kevin berdengus kesal.
"Bilang saja karena Kevin pendek makanya sayang sama horsy," ledek Wati dengan mencolek pipi Kevin.
"Enggak, Kevin memang sayang sama horsy," balas Kevin.
"Sayang atau malu," goda Wati.
Kevin melipat kedua pergelangan tangannya dan mengerucutkan bibirnya yang membuat ibunya semakin gemas menarik pipi tembem Kevin.
"Ibu sakit," keluh Kevin mengelus pipinya yang memerah.
"Kenapa kau begitu imut jadi ibu makin bersemangat ingin mencubit pipimu sayang," balas Wati sambil mengecup pipi Kevin.
"Resiko jadi orang imut seperti ini," gumam Kevin dengan percaya diri.
"Habiskan makananmu setelah itu kita pulang," ucap Wati.
Kevin memakan roti lapis yang disiapkan oleh ibunya dengan begitu lahap, setelah makan ia membantu ibunya membersihkan meja yang mereka gunakan.
"Ibu, aku ingin panita dulu sama horsy," ujar Kevin dengan mata berbinar.
"Ayo kita ke tempat horsy," balas Wati dengan menuntut anaknya.
Horsy sudah dimasukkan ke dalam kandangnya dan ia sedang lagi memakan makanan yang disiapkan oleh penjaga.
Kevin mengelus kepala horsy dan menempelkan wajahnya dekat hidung kuda tersebut, "horsy, Kevin pamit mau pulang jangan rindu sama Kevin. Kevin janji akan datang lagi jadi jangan sedihnya," ucapnya lesu.
Wati tertawa mendengar Kevin berpamitan pada kuda kesayangannya itu, ayolah kuda itu bahkan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kevin yang ada dipikiran kuda itu cuma makanan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Sudah selesai, ayo kita pulang!" ajak Wati memegang pergelangan tangan Kevin.
Kevin membiarkan ibunya menuntun ia jalan Kevin berbalik ke belakang dan melambaikan tangannya, "bye horsy, Kevin janji akan datang lagi," pekiknya sampai horsy hilang dari penglihatannya.