
Leon begitu tenang dan nyenyak dengan alam mimpinya, ia tidak menyadari jika ada seorang pria kecil yang masuk ke kamarnya.
Kevin melihat wajah damai Leon dan secara sekilas melintas ide cemerlang di kepalanya, Kevin menjangkau sebuah bulu yang tergeletak di samping kepala Leon.
Bulu tersebut ia usap di hidung mancung Leon secara asal, Leon tidak lama kemudian merasa geli dan bersin begitu kuat dan otomatis matanya terbuka.
Kevin tertawa terbahak-bahak melihat aksinya yang berhasil mengerjai Leon. Leon mendengar ada suara tawa langsung memicingkan matanya ke arah samping dan dapat ia lihat Kevin yang tertawa.
"Bagaimana rasanya enak!" ejek Kevin.
Leon menyunggingkan senyuman, "sepertinya adikku ini punya dendam sama aku betul?" selidiknya.
"Itu kakak tahu jadi ngapain nanya!" balas Kevin santai. "Terus kakak kemana saja kenapa enggak pulang? Dan kakak pulang bukannya samperin Kevin malah enak-enak tidur di sini," sambungnya dengan nada ketus.
Leon merasa apa yang dikatakan Kevin tentang dirinya benar cuma bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Kevin kakak sebenarnya rindu sama Kevin, maaf tidak langsung menemui mu. Kakak begitu lelah dan sebagai permintaan maaf dari kakak akan berikan oleh-oleh dari Prancis untukmu," ucap Leon dengan tersenyum lebar.
"Kemarin kakak juga dari Prancis dan bawa oleh-oleh, jadi Kevin enggak butuh," balas Kevin dengan berdengus.
"Ini bocah baru satu tahun ditinggal udah enggak bisa lagi dibujuk pakai hadiah, itu lagi sih Katya juga ngapain bawa oleh-oleh yang sama macam aku," batin Leon menggerutu.
"Pada kakak menggerutu gitu lebih baik temani Kevin latihan kuda," pinta Kevin.
Leon mengernyitkan dahinya, "Kevin, besok saja ini udah malam. Pasti kudanya lagi tidur," ucapnya.
"Kakak ini udah pagi, lihat itu matahari udah terbit," balas Kevin dengan telunjuk mengarah jendela.
Leon mengikuti arah telunjuk Kevin dan bisa ia pastikan ini telah pagi, dia tertidur begitu nyenyak sampai tidak menyadari bahwa matahari telah timbul.
"Besok saja latihan kudanya kakak masih lelah," ucap Leon menarik selimut menutupi tubuhnya.
Kevin kesal ia langsung naik ke ranjang dan menarik selimut Leon secara kasar, "bangun pemalas," hinanya.
"Kevin daripada kau mengganggu kakak mending kau pergi ke kamar Katya."
__ADS_1
"Kata kakek Richard jangan ganggu kakak, dia bilang nanti adik bayinya tidak jadi," ucap Kevin polos.
"Apa!" pekik Leon reflek.
Kevin menutup kedua gendang telinganya yang terasa perih menangkap teriakan Leon yang layaknya Tarzan.
"Seriusan kakek Richard bilang gitu?" tanya Leon memastikan.
"Iya, sebenarnya tadi aku mau ke tempat kak Katya tapi kakek Richard tidak tahu datang dari mana malah suruh aku jangan ke kamar kakak dia bilang kakak sama kak Aksa lagi buat adik bayi," papar Kevin sesuai dengan apa yang terjadi.
Leon memijit pelipisnya yang berdenyut, "kakek tua sialan, beraninya dia meracuni otak adikku yang masih polos," umpatnya.
"Kak, ke kamar kak Katya yuk, pasti adik bayinya sudah jadi," seru Kevin riang dan polos.
Leon menepuk jidatnya, "kau pikir bayi bisa diciptakan dalam waktu semalam apa," gumamnya pelan dan membuang nafasnya kasar.
...****************...
Aksa menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke netra matanya dan ia perlahan mulai membuka matanya. Ia menoleh pandangannya ke samping bisa ia lihat Katya yang berbaring di sofa.
"Sebegitu menjijikkannya aku sehingga kau tidak sudi satu ranjang denganku," ucap Aksa dengan berdecak sinis.
Katya mengucek matanya dan mengerjapkan matanya menyesuaikan netranya, ia sedikit memiringkan kepalanya dapat ia lihat suaminya telah bangun, Katya langsung bangkit dan beranjak dari sofa dan melangkah kakinya menuju Aksa.
"Ada yang bisa aku bantu?" tawar Katya.
Aksa yang masih berbaring cuma melirik Katya sekilas, "tidak perlu," ucapnya.
"Tapi kan kakak harus mandi sekarang, pasti badan kakak rasanya lengket sini aku bantu," ucap Katya halus.
"Aku bilang enggak maka enggak," bentak Aksa.
Katya gemetar ketakutan ia tidak pernah dibentak seperti ini sebelumnya karena ayahnya dan kakaknya selalu memperlakukan ia dengan lembut.
Melihat gesture tubuh Katya gemetar membuat Aksa sedikit salah tingkah ia ingin minta maaf namun ia lebih memilih mengikuti gengsinya.
__ADS_1
"Panggilkan saja Jordan untuk bantu aku mandi," ujar Aksa tanpa rasa bersalah.
Katya mendengar perintah Aksa tentu saja tidak akan menurutinya keinginannya tersebut, jika ia memanggil Jordan maka orang-orang akan tahu bahwa hubungan mereka tidak seperti yang dibayangkan oleh mereka.
"Aku bilang panggil Jordan," bentak Aksa.
"Aku tidak mau, buat apa panggil dia jika udah ada aku di sini," balas Katya tidak kalah nyaring.
Katya langsung mengambil kursi roda Aksa dan Katya langsung menggendong Aksa ala bridal style, alasan kenapa ia kuat menggendong Aksa adalah karena ayahnya James memberikan latihan keras padanya dan ia mampu mengangkat barbel seberat 100 kg jika dibandingkan tubuh Aksa yang sedikit menyusut itu tidak ada apa-apanya.
Aksa yang digendong seperti ini merasa harga dirinya telah diinjak dan berpikir keras bagaimana gadis lemah lembut seperti Katya bisa sekuat ini.
"Turunkan aku," pekik Aksa sembari tangannya memberontak.
"Diam atau aku jatuhkan tubuh kakak ke lantai," ancam Katya dengan nada dingin.
Aksa menghentikan aksi pemberontakannya, Katya langsung mendudukkan Aksa di kursi rodanya, ia mendorong kursi roda tersebut ke kamar mandi.
Katya duduk menyamakan tingginya dengan Aksa, Katya tanpa aba-aba langsung membuka celana Aksa yang berhasil membuat sang empu menepis tangan Katya dari celananya.
"Jangan sentuh aku," ucap Katya dengan tatapan tajam.
Katya cuma acuh dengan peringatan yang diberikan Aksa ia tetap melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Katya membuka celana Aksa dan bisa ia lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Aksa menggunakan diaper untuk membantunya buang air kecil.
"Pantas saja dia tidak ingin aku bantu rupanya ini alasannya," gumam Katya lirih.
"Bisa lihat kan apa alasan aku tidak ingin kau membantuku," ucap Aksa dengan suara berat.
Katya tidak menggubris ucapan Aksa, ia mulai membuka diaper dan membuangnya, dan menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Aksa.
Katya menyiram tubuh Aksa dengan air hangat dan memberikan pijatan, Aksa tidak protes ia cuma diam dan membiarkan Katya melakukan sesuka hatinya.
Selesai memandikan Aksa, Katya mendorong kursi roda keluar dan berjalan menuju kasur, ia mengangkat dan membaringkan tubuh Aksa ke atas kasur.
Katya membuka koper Aksa dan mengambil beberapa perlengkapan Aksa, ia membuat kedua kaki Aksa dalam posis mengangkang. Katya menyeka seluruh tubuh Aksa, ia juga tidak lupa mengoles cream anti ruam di area ************ Aksa dan memasang diaper Aksa dengan yang baru. Katya juga memakaikan Aksa celana pendek dengan dipadukan kaos oblong.
__ADS_1
"Kau butuh yang lain?" tanya Katya sembari menyusun perlengkapan Aksa.
Aksa cuma menggeleng kepalanya yang berarti tidak, Katya cuma mengangkat bahunya acuh dan berlalu dari sana.