
Katya, Aksa, Kevin, Wati, dan jangan lupakan dua anggota baru keluarga yaitu, Abraham dan Lucas. Mereka sedang duduk di ruang makan untuk melangsungkan makan malam.
Menu yang dihidangkan berupa ayam panggang, udang crispy, dan tumis cumi-cumi. Abraham tersenyum kecut menatap hidangan di atas meja, sedangkan Kevin ia malah tertawa dan membuat semua orang menatapnya.
"Apa yang kau tertawa kan?" tanya Wati.
"Melihat kakek tua yang tidak bisa makan, jika dia makan kolesterol yang akan naik," jawab Kevin terkekeh.
"Kevin jangan seperti itu pada kakek. Cepat minta maaf," perintah Katya dengan nada tegas.
Kevin dengan hati setengah dongkol meminta maaf pada Abraham, dan tentu saja Abraham sebagai kakek yang baik akan memaafkan cucunya itu.
"Apa Lucas akan tinggal bersama kita?" tanya Aksa dengan memicingkan matanya.
"Tidak, dia akan tinggal di apartemennya." Bukan Lucas yang menjawab melainkan Abraham.
Aksa mengangguk kepalanya seraya meminum air putih. Lucas mendapatkan tatapan horor dari tuannya cuma bisa mengelus dadanya.
"Sabar Lucas, orang sabar ujiannya banyak," ucapnya pelan.
"Oh iya kek, jika Kevin tidak mengajak kakek kemari mungkin kau tidak akan menunjukkan wajahmu, kan?" tanya Katya.
"Tapi aku bersyukur dia mengajakku kemari rupanya kalian menerimaku dengan terbuka. Selama ini aku pikir kalian akan membenciku," jawab Abraham dengan nada terisak yang dibuat-buat.
"Kak Lucas, aku penasaran bagaimana kau bisa menghadapi pak tua ini!" celetuk Kevin.
"Tidak perlu diceritakan cukup aku, tuan, dan tuhan yang tahu," balas Lucas dengan nada lemas.
"Dari nada suaramu aku bisa tebak jika kakek sangat menyebalkan," sambung Kevin.
"Kek, jika kak Lucas tidak tinggal bersama denganmu, apa kau tidak kerepotan nantinya!" ujar Katya khawatir.
"Aku rasa tidak, pekerjaanku tidak banyak sekarang Lucas yang akan menghandle semuanya," jawabnya santai.
__ADS_1
Lucas melotot dan mengempiskan hidungnya, "bawahan harus patuh," ucapnya.
Abraham memotong ayam dengan garpu ia menatap lekat seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah tenang yang duduk di samping cucunya Kevin.
"Apa kau istri James?" lontar Abraham dari mulutnya.
Semua menepuk jidatnya dan menggeleng kepala.
Wati menarik tipis sudut bibirnya, ia tidak heran jika Abraham akan bertanya seperti itu. Semua orang yang pertama kali bertemu dengannya pasti berpikir dia adalah istri James bahkan setelah kematian Irene, ia juga digadang-gadang akan menjadi istri keduanya.
"Kakek, ayahku cuma punya satu istri yaitu mama Irene tidak ada yang lain," jawab Katya dengan nada tegas dan penuh penekanan.
"Syukurlah," ucap Abraham sambil bernafas lega.
Lucas melirik tuannya dan berdengus kesal, "dasar buaya buntung," umpatnya.
Abraham mendengar umpatan asistennya itu melayangkan tatapan horor, "apa yang kau bilang?"
"Tidak ada," jawab Lucas tenang dan begitu kerennya meminum jus jeruk.
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Abraham.
"Kakek sudah tua tidak bagus angin malam untuk kesehatanmu," balas Katya.
"Katya kakek boleh memelukmu?"
Katya tidak menjawab tapi ia malah langsung memeluk kakek begitu erat, Abraham membalas pelukan cucunya dan bisa ia rasakan kehangatan yang membuat hatinya damai.
Mereka melepaskan pelukan, Abraham dan Lucas langsung masuk ke dalam mobil yang disiapkan Katya untuk mengantar mereka pulang.
Alasan kenapa Abraham tidak jadi menginap adalah ia harus menyiapkan beberapa kebutuhan dan persiapan lainnya.
Kuda besi berjalan meninggalkan rumahnya, Katya dan Aksa segera masuk ke dalam karena hari sudah begitu larut.
__ADS_1
...****************...
Katya dan Aksa sedang berbaring di atas tempat tidur dengan Katya bersandar di dada Aksa dan Aksa mengelus lembut pucuk kepala istrinya.
"Aku penasaran kenapa kau bisa memaafkan kakek semudah itu?" tanya Aksa dengan mengernyitkan dahinya.
"Tidak apa-apa. Aku lagi berusaha berdamai dengan keadaan, aku tidak ingin masa lalu orang tuaku akan berdampak buruk ke depannya lebih baik akhiri saja," papar Katya.
"Jika kau bisa memaafkan kakek Abraham mungkin kau bisa berdamai juga dengan kakek Kim," celetuk Aksa.
Katya langsung menunduk pandangannya, "aku tidak bisa. Aku merasa kakek Kim terlihat atas kecelakaan yang dialami papa."
"Ayo temui kakek Kim dan selesaikan semuanya Katya. Kita tidak akan pernah bisa terus-terusan lari dari masalah."
"Baiklah, aku akan memikirkannya," balas Katya sambil menutupkan matanya.
Aksa menghela nafas kasar memandang wajah Katya, ia tahu pasti istrinya ini sengaja menutup mata agar tidak perlu mendengar ocehan dari mulutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cherry menatap lekat layar monitor komputer yang menampilkan foto seorang pria yang berpose duduk sambil memegang secangkir kopi.
Ia menarik tipis sudut bibirnya, "Leon, aku sangat merindukanmu," ucapnya.
Tiba-tiba muncul notifikasi Leon membuat postingan terbaru dan bisa ia lihat siluet punggung seorang gadis yang rasanya tidak asing untuknya.
"Siapa gadis ini? Apa dia kekasih Leon? seperti punggung...." ucapnya sambil menerawang di otak kecilnya. "Aku akan bertanya sama sih albino itu siapa gadis ini," sambungnya.
Tiba-tiba sebuah kata terlintas di pikirannya dan itu berhasil membuat ia panik.
"Tidak mungkin, gadis ini pasti bukan calon istri Leon kan!" ucapnya menyakinkan dirinya sendiri.
Cherry mencengkram erat pinggir meja dan tangannya tanpa sadar membanting semua barang-barang yang berada tepat di meja tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak akan biarkan siapa pun bisa menikahi kau Leon. Kau cuma milikku," ucap Cherry menyeringai lebar.