
Seorang pria dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya begitu fokus pada layar monitor di depannya. Sampai atensinya teralihkan mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk," sahutnya sedikit keras dengan jari masih berkutat di atas keyboard.
Pintu terbuka dari arah luar dan seseorang masuk ke dalamnya.
Pria berkacamata itu melepas kacamatanya, "dokter Aditya, silakan duduk," ujarnya ramah.
Dokter Aditya duduk, "ada hal yang ingin aku sampaikan padamu dokter Chiko," ucapnya to the point.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Chiko mengambil posisi duduk berhadapan dengan dokter Aditya.
"Pasien yang kau minta aku tangani melakukan percobaan bunuh diri," ucap dokter Aditya lugas.
Chiko mengerutkan keningnya, "maksudmu Aksa Alvino Wijaya? Apa yang terjadi padanya?" tanyanya.
"Iya, dia baru saja melakukan percobaan bunuh diri. Ia mengalami overdosis obat tidur sepertinya ia memaksa obat itu masuk ke dalam mulutnya," papar Aditya.
"Kondisinya baik-baik saja? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan?"
"Kami sudah memberikan penanganan padanya, kondisinya sudah mulai stabil. Sepertinya aku akan merujuknya ke psikiater."
"Itu lebih baik. Terima kasih sudah memberitahu aku, dokter Aditya," ujar Chiko.
"Sama-sama, aku pergi dulu," pamit Aditya.
Aditya segera keluar dari ruangan Chiko, tersisa Chiko yang masih duduk dengan tangan menopang dagunya.
"Aku harus memberitahu Katya masalah ini, ini udah termasuk masalah besar," gumamnya.
...****************...
Katya sedang memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koper dan begitu juga dengan keperluan lainnya.
Ia duduk di pinggir ranjang, ia menghela nafasnya kasar, "apa ini udah benar!" gumamnya.
Katya mendengar handphonenya berbunyi, ia terpaksa bangkit dan berjalan menuju meja belajarnya, ia melihat kontak panggilan Chiko yang menelpon dirinya.
"Kak Chiko, ngapain dia nelpon aku? Pasti ada hal penting," tanyanya dan langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo, Katya. Apa kabar?" tanya Chiko berbasa-basi dari seberang sana.
"Aku baik, tumben kakak nelpon. Ada masalah?" tanyanya to the point.
"Sepertinya dari nada suaraku kau tahu ada sesuatu yang terjadi," balas Chiko terkekeh.
__ADS_1
"Bilang aja kak ada masalah apa?"
Chiko terdiam untuk waktu yang lama, "Aksa pasien dokter Aditya melakukan percobaan bunuh diri," ucapnya lesu.
Katya menutup mulutnya tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh Chiko padanya.
"Terima kasih kak," balas Katya segera mengakhiri panggilan telepon.
Katya merasa kakinya begitu lemas dan ia terjatuh ke lantai dan memegang dadanya erat. "Engga, dia tidak boleh melakukan itu," gumamnya sambil mengeluarkan air matanya.
Katya segera menyeka air matanya, "kau tidak boleh menangis sekarang ini bukan waktu yang tepat," ucapnya.
Katya menyambar kunci mobilnya di atas meja, ia berjalan cepat keluar dari kamarnya. Katya menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Wati melihat siluet Katya yang tergesa mengerutkan keningnya, "Katya, mau kemana kau?" tanyanya.
"Ke rumah sakit," jawabnya cepat tanpa menoleh sama sekali ke arah ibunya.
"Buat apa kau ke sana?"
"Aku ingin melihat cucu kakek Richard," jawabnya.
"Katya kau gila! buat apa kau ke sana," pekik Wati.
Katya keluar dari rumahnya dan berjalan menuju garasi, ia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin dan langsung menancap gas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aksa sudah dipindahkan ke ruang rawat, ia juga sudah sadar. Seluruh keluarga Wijaya menatap lekat dirinya dengan perasaan khawatir.
"Aksa, kenapa kau nekat melakukan itu?" tanya Rika.
"Buat apa aku hidup jika pada nantinya aku pasti mati kesepian," jawab Aksa melantur.
Mereka semua menggeleng kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja Aksa katakan, mereka menyakini kejiwaan Aksa sedang terganggu.
"Aksa apapun yang terjadi kami akan selalu berada di sisimu, kami tidak akan pernah meninggalkan dirimu sendiri," ujar Lisa mengelus surai rambut cucunya Aksa.
Aksa malah tertawa terbahak-bahak, "engga akan pernah tinggalkan aku sendiri! semalam saja aku terbaring di atas lantai saja kalian tidak ada yang menemaniku kalian membiarkan aku sendiri, kalian bohong," pekiknya dengan wajah memerah.
Mereka semua terdiam dan mengutuk diri mereka, mereka tahu mereka salah karena tidak terlalu memperhatikan Aksa yang memang membutuhkan perhatian ekstra dari mereka.
Richard tidak ingin berlama-lama di sini dan akan membuat dirinya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Lisa, ayo kita keluar biar Aksa bisa beristirahat," ajak Richard pada istrinya.
__ADS_1
Lisa mengangguk dan mengikuti suaminya keluar dari ruang rawat Aksa.
"Hidupmu masih panjang Aksa, ini terakhir kalinya kau melakukan tindakan bodoh seperti ini," ujar David dingin.
"Udah Pi, nanti saja kita bicara dengan Aksa. Sekarang bukan waktu yang tepat biarkan dia istirahat dan menenangkan dirinya," saran Jordan khawatir dengan kondisi saudaranya yang diberikan tekanan oleh keluarganya.
David menghela nafasnya dan langsung keluar meninggalkan mereka.
"Ayo kita juga keluar," ajak Rika pada Jordan dan Cherry.
"Jika kau butuh sesuatu panggil saja kami," ucap Jordan.
Mereka meninggalkan Aksa seorang diri di ruang rawat, Aksa mengalihkan pandangannya ke samping melihat langit biru yang cerah melalui jendela.
...****************...
Katya tiba di parkiran rumah sakit, ia segera berjalan masuk ke lobi dan menyampari resepsionis.
"Pasien Aksa Alvino Wijaya di ruangan mana?" tanya Katya dengan nada suara dingin.
"Dia berada di ruang VIP mawar nomor 31, nona," jawab petugas itu ramah.
Katya segera berjalan menuju ruangan yang disebutkan oleh resepsionis tadi, ia tidak menyadari ada orang lain yang duduk di depan ruang rawat Aksa.
"Siapa gadis itu kok main nyelonong masuk aja!" gerutu Cherry ingin menghampiri Katya.
Richard memegang pergelangan tangan Cherry, "biarin aja dia masuk," ucapnya.
Katya masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali, Katya bisa melihat ruang rawat ini sepi tidak ada siapa pun yang menemani Aksa.
Aksa menoleh dan bisa ia lihat seorang gadis berkulit putih salju mengenakan gaun bergaya vintage.
Pandangan Katya dan Aksa bertemu dan terkunci untuk beberapa saat dan tidak tahu mengapa perasaan Katya seakan tercabik melihat tatapan mata Aksa yang sayu.
Katya membuang wajahnya ke samping agar tidak melihat tatapan Aksa yang begitu menyedihkan.
Ia melihat tubuh Aksa yang begitu kurus ,tangan kirinya yang di infus dan nasal cannula yang berada di hidung nya dan juga selang air seni untuk membantu nya membuang air kecil
Tidak tahu kenapa melihat itu semua Katya makin merasa bersalah terhadap Aksa dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan lari lagi Katya," gumamnya memberi semangat pada dirinya.
Katya menghampiri Aksa, ia mengambil posisi duduk di pinggir brankar.
"Selamat siang, perkenalkan aku Katya Angelina Wilson calon istrimu," ujar Katya penuh percaya diri dengan tersenyum lebar.
__ADS_1