
Aksa sedang berada di ruang rawat seorang diri dengan ditemani oleh perawat yang membersihkan tubuhnya. Aksa sebenarnya merasa risih jika seseorang menyentuh tubuhnya namun mau bagaimana lagi tidak mungkin ia biarkan tubuhnya terasa lengket dengan keringat.
"Apa kau tahu Katya?" tanya Aksa pada perawat.
"Mungkin maksud anda nona Katya? Iya, aku tahu. Nona Katya merupakan calon direktur rumah sakit ini," jawab perawat tersebut sembari menyeka bagian intim Aksa.
"Siapa direktur rumah sakit ini sekarang?"
"Kami tidak tahu, kami cuma perawat," balasnya.
Aksa merasa sedikit tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh perawat padanya. Perawat siap membersihkan tubuh Aksa ia langsung keluar dari sana.
"Aku berharap kau tidak melanggar janjimu Katya," ucap Aksa pelan mencengkram selimutnya.
Pintu terbuka Aksa langsung menoleh siapa gerangan yang datang kemari rupanya adalah teman-temannya.
"Hai Aksa, apa kabar?" tanya pria berkulit putih dengan gaya rambut undercat.
"Kau bisa lihat sendiri," jawab Aksa sinis.
Pria berkulit putih dan gaya rambut undercat adalah Reyhan Dirgantara merupakan sahabat sekaligus sepupu dari pihak ibunya karena ayah Reyhan adik dari mami Rika.
"Jangan galak-galak dong Aksa," ucap pria berambut biru mencolek dagu Aksa.
Aksa menepis tangan itu darinya, ia merasa sedikit risih disentuh seperti itu.
Rayen Christian Bagania merupakan seorang hair stylist, dia telah menciptakan berbagai macam gaya rambut khusus pria dan memiliki salon kecantikannya sendiri.
"Kenapa baru sekarang lihat aku? Baru ingat punya teman!" cerca Aksa tersenyum kecut.
"Aku baru balik dari Korea, kau tahu aku ada klien artis minta dipotong rambutnya sama aku," jelas Rayen.
"Kalau aku sibuk buat resep masakan," sambung Reyhan terbata.
Reyhan merupakan pebisnis di bidang kuliner dan dia juga merupakan seorang chef yang menciptakan berbagai resep masakan rumahan.
"Alasan kalian enggak diterima, udah pergi aja sana," usir Aksa kasar.
"Aduh, maaf Sa. Gimana aku masak untukmu pasti kau suka," celetuk Reyhan merayunya.
"Enggak nafsu," jawab Aksa melirik pintu.
Jordan yang mengamati gerak-gerik Aksa yang selalu mencuri pandang ke pintu membuat ia sedikit curiga.
Ia memicingkan matanya pada Aksa, "kau nunggu siapa?" tanyanya langsung.
"Istri," jawabnya tanpa sadar.
Rayen dan Reyhan saling bertatap mengerutkan dahi mereka.
"Istri, kau udah nikah?" tanya Rayen.
__ADS_1
Aksa tidak menggubris pertanyaan Rayen yang ada ia memutar bola matanya malas.
"Udah ayo kita keluar," ajak Jordan pada mereka berdua.
"Aksa belum jawab pertanyaan aku tadi," balas Rayen.
"Biar aku jelasin," sambung Jordan.
Mereka pergi dari ruang rawat Aksa, mereka menuju kantin yang penuh dengan para pengunjung, mereka mengambil posisi duduk di dekat sudut kantin.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Reyhan.
"Kopi aja," jawab Jordan dan Rayen kompak.
Reyhan pergi pesan kopi dan kembali dengan membawa tiga cangkir kopi lalu ia meletakkan di atas meja.
"Jadi bisa jelaskan kenapa dengan Aksa? Dan aku bisa merasakan jika Aksa lagi sensitif sekarang," tanya Rayen mengangkat suaranya.
"Aksa lumpuh," balas Jordan berat.
Mereka terdiam untuk beberapa detik dan belum mengerti apa yang dikatakan oleh Jordan, dan otak mereka masih mencernanya.
"Apa maksudmu? coba tolong jelaskan!" pinta Reyhan menatap Jordan.
Jordan mengambil nafas berat lalu membuangnya, "hari dimana Aksa kecelakaan dia harus di operasi karena dia mengalami cedera sumsum tulang belakang, dan ini penyebab dia lumpuh. Namun, garis besarnya lagi ini tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dirawat dengan rehabilitasi agar dia terbiasa dengan kondisi nya sekarang. Dan ini juga buat Aksa sedikit sensitif akhir-akhir ini," papar Jordan secara jelas.
"Jadi Aksa lumpuh sekarang?" tanya Rayen sekali lagi.
"Terus Fani udah tahu kondisi Aksa sekarang?" tanya Reyhan.
"Udah, dan dia langsung membatalkan pertunangannya secara sepihak," jawab Jordan santai.
"Sudah ku duga wanita seperti Fani tidak memiliki rasa kesetiaan," sambung Rayen terkekeh.
"Jangan bilang Aksa juga berubah jadi gila karena gagal nikah sama Fani," celetuk Reyhan tanpa filter sama sekali.
"Wanita itu tidak sepenting itu sehingga buat Aksa jadi gila. Bahkan Aksa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Fani," ujar Jordan tersenyum smirk.
"Pengganti? Maksudnya gimana!" sambung Rayen mengerut keningnya.
"Kalian tunggu dan lihat aja," ujar Jordan tersenyum miring.
Rayen dan Reyhan saling tatap satu sama lain, Reyhan mengerutkan keningnya dan Rayen membalas dengan mengedikkan bahunya.
...****************...
Katya melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Aksa, sesuai janjinya semalam pada Aksa jika ia akan datang lagi.
Katya membuka handle pintu dan menutupnya kembali, ia melihat Aksa yang sedang tertidur, bisa ia dengar deru nafasnya dan dadanya naik turun.
Katya meletakkan paper bag yang ia bawa di atas kabinet, ia memandang wajah Aksa yang teduh dan tenang.
__ADS_1
Tanpa ia sadar tangannya malah mengusap surai rambut Aksa, Aksa yang merasa ada yang menyentuhnya merasa sedikit terganggu, secara perlahan ia membuka kelopak matanya dan menyesuaikan netranya.
Katya yang melihat mata Aksa terbuka langsung menghentikan kegiatannya tadi. Aksa menoleh dan matanya terkunci menatap manik coklat Katya. Mereka saling bertatapan satu sama lain untuk beberapa detik.
Katya menarik sudut bibirnya, "kakak sudah bangun!" ucapnya kikuk.
Aksa cuma bergumam lirih membalas Katya, Katya mengambil paper bag dan mengeluarkan sesuatu dari dalam. Ia membuka meja kabinet dan mengambil mangkuk lalu menuangkan bubur ayam yang ia bawa.
Katya mengarahkan sendok ke mulut Aksa, "ayo kak makan!" ucapnya.
Aksa menatap bubur itu dan melipat dahinya, "ini apa?" tanyanya.
"Ini bubur ayam, ibu yang masak khusus buat kakak. Dimakan kak," pinta Katya.
Aksa membuka mulutnya menerima suapan Katya, ia menguyah bubur lembek itu dan menurutnya rasanya hambar.
"Enggak usah, aku tidak selera," ucap Aksa merapatkan kelima jarinya tepat di depan sendok.
"Kenapa rasanya enggak enak?" tanya Katya lalu mencoba bubur tersebut. "Ini enak kak, mungkin karena kakak sakit kali makanya rasanya tidak enak di mulut kakak," sambungnya.
Katya tetap menyodorkan sendok di mulut Aksa, melihat hal itu Aksa mau tidak mau menerima memakan bubur tersebut, bagaimanapun bubur itu khusus dibuat untuknya ia merasa sedikit segan jika tidak memakannya.
Aksa menghabiskan bubur tersebut lalu Katya membantu Aksa minum.
"Terimakasih," ucap Aksa halus.
Katya meletakkan mangkuk itu di atas kabinet, ia menatap Aksa lekat, Aksa yang ditatap seperti itu merasa sedikit canggung.
"Katya, aku ingin bertanya suatu hal yang penting boleh?" tanya Aksa dengan mimik wajah serius.
Katya memberikan respon dengan mengangguk kecil.
"Apa ayahmu memiliki musuh?" tanya Aksa spontan.
"Papa enggak punya musuh, aku juga lagi mencari siapa dalang atas insiden ini," jawab Katya lemah.
"Kau tidak perlu khawatir aku akan membantumu mencari tahu siapa pelaku sebenarnya. Aku boleh tanya satu hal padamu dan aku berharap kau menjawab dengan jujur!" ujar Aksa dengan nada dingin.
Katya cuma diam dan tidak memberikan respon.
"Aku ingin bertanya apa kau merasa keberatan dengan pernikahan ini?"
"Jika boleh jujur aku merasa sedikit keberatan. Tapi setelah aku cari tahu kakak ternyata cucu Kakek Richard sama nenek Lisa aku tidak masalah dengan pernikahan ini," papar Katya.
"Kita belum pernah mengenal Katya, dan aku belum tentu orang baik."
"Aku yakin kakak orang baik karena kakek Richard sama nenek Lisa begitu baik," jawab Katya polos.
Aksa menarik sudut bibirnya, ia merasa sedikit lucu dengan jawaban polos yang diberikan Katya padanya.
"Ternyata ini alasan kenapa kakek dulu ngotot ingin jodohkan aku dengannya rupanya dia cuma gadis polos, menarik. Selamat datang ke duniaku Katya," batin Aksa menyeringai.
__ADS_1
Katya cuma bisa menatap heran ke arah Aksa melihat ia tertawa, Katya juga ikut tertawa padahal tidak ada yang lucu di antara mereka.