
Aksa terusik dari tidurnya ketika sinar matahari menerpa wajahnya, ia perlahan membuka kelopak matanya dan menyesuaikan netranya.
Aksa mengusap wajahnya kasar dan tertawa menggelegar. "Hidupmu begitu sial Aksa, lihat bahkan kau malah tertidur di lantai yang dingin ini, tidak ada satupun orang yang berada di sisimu," ucapnya tertawa miris.
Secara tiba-tiba terlintas satu hal di kepalanya, Aksa berusaha ingin memindahkan tubuhnya tapi gagal. Ia memilih menggeret tubuhnya saja walaupun terasa sakit di bagian pundaknya, dan bagian bawahnya tidak terasa sakit sama sekali.
Aksa berhasil berpindah ke depan lemari di samping tempat tidurnya, tangannya membuka laci dan menjangkau sesuatu dari dalam laci tersebut.
Aksa berhasil mendapatkan apa yang ia cari berupa sebuah botol berwarna bening yang berisi obat-obatan.
"Jika tidak ada yang menginginkan diriku maka aku cukup mati saja," ucap Aksa kehilangan akal sehatnya.
Aksa membuka botol tersebut dan menuangkan semua obat di telapak tangannya lalu memasukkannya secara paksa ke dalam mulutnya.
Obat itu berhasil ia telan dan secara perlahan-lahan Aksa mengalami sesak nafas, ia mencengkram dadanya erat lalu menepuknya.
"Selamat tinggal dunia, semoga nanti aku bisa beristirahat dengan tenang," ucap Aksa terkekeh pelan.
Tidak menunggu waktu yang lama Aksa kehilangan kesadarannya dan busa putih ke luar dari sela mulutnya.
...****************...
Keluarga Wijaya duduk di ruang makan memulai hari dengan sarapan, menu sarapan mereka adalah muesli oat terdiri dari bahan-bahan seperti gandum gulung, buah-buahan kering, serpihan gandum, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Muesli memiliki banyak manfaat terdiri dari memberikan sensasi kenyang yang lama, menjaga kesehatan jantung dan sumber energi baik.
"Dimana Aksa?" tanya Richard menyesap jus jeruk.
"Aku rasa dia masih tidur," jawab Jordan memasukkan anggur ke dalam mulutnya.
"Cherry, panggilkan Aksa. Dia harus sarapan," perintah Lisa.
"Baik," balas Cherry beranjak dari sana.
Cherry melangkah kakinya menuju kamar kakaknya Aksa, ia berdiri dan langsung mengetuk pintu.
"Kak Aksa," panggilnya terus mengetuk pintu tapi tidak terdengar jawaban dari dalam sana, dan Cherry berinisiatif membuka pintu.
Ia masuk ke dalam dan tidak melihat tanda-tanda kehadiran kakaknya sampai kakinya tidak sengaja menabrak sesuatu.
Cherry langsung menjatuhkan tubuhnya melihat yang ia tabrak, ia langsung berteriak panik.
"KAK AKSA!" teriaknya menggelegar.
__ADS_1
Keluarga Wijaya yang masih menikmati sarapannya terpaksa berhenti mendengar teriakan Cherry.
Mereka memilih menghampiri Cherry, mereka melihat Cherry yang duduk lemas.
"Cherry, kenapa kau berteriak?" tanya Lisa.
Cherry tidak menjawab jarinya menunjuk ke arah bawah mereka mengikuti arah tunjuk Cherry dan betapa syok mereka melihat Aksa yang sudah terkapar di atas lantai dengan busa keluar dari mulutnya.
"Aksa," panggil David menepuk pipi Aksa.
"Cepat siapkan mobil. Kita bawa Aksa ke rumah sakit sekarang," perintah Richard berusaha mengendalikan emosi.
Jordan mendengar perkataan kakeknya langsung tersadar dari lamunannya, ia segera berlari keluar dari sana.
David segera menggendong Aksa untuk membawanya keluar biar tidak ada banyak waktu terbuang untuk menyelamatkan nyawanya, Richard juga menyusul putranya.
Rika meluruh badannya ke lantai, ia merasa begitu lemas dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Lisa melihat menantunya itu cuma bisa menghela nafasnya kasar, "jika kalian berdua kacau seperti ini, siapa yang akan mengurus Aksa!" hardiknya.
Lisa cuma bisa berdengus kesal melihat menantu dan cucunya yang tidak bisa mengatur perasaan mereka.
"Jika kalian masih betah di sini silakan saja! Aku ingin menyusul mereka sekarang juga," ujarnya kesal melangkah kakinya keluar dari sana.
Rika langsung bangkit ia berlari kecil menyusul mertuanya sedangkan Cherry ia masih terpaku syok dan dia tidak menunjukkan pergerakan sama sekali.
David menggendong Aksa masuk ke dalam mobil dengan pintu yang sudah dibuka oleh Jordan.
Richard duduk di depan dengan Jordan yang mengemudikan mobilnya, Jordan menghidupkan mesin mobil dan menancap gas berjalan meninggalkan pekarangan rumah.
David menyeka mulut Aksa yang terus mengeluarkan busa. "Aksa, papi mohon bertahanlah," ucapnya pelan dengan nada khawatir.
"Jordan lebih cepat lagi bawanya," ucap Richard tegas dan juga panik.
Ia tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada cucunya itu.
Mobil memasuki kawasan rumah sakit, David segera keluar dengan menggendong Aksa, para staff melihat itu segera membawa brankar untuk membaringkan tubuh Aksa dan langsung membawanya ke unit gawat darurat.
David dan Richard duduk menunggu di depan UGD, Jordan menghampiri mereka setelah memarkirkan mobilnya.
"Bagaimana kondisi Aksa?" tanya Jordan memecahkan keheningan antara mereka.
"Dokter masih menangani dirinya," jawab Richard seraya mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Aksa nekat seperti itu!" seru David memegang kepalanya.
"Tidak usah pikirkan hal lain, kita harus fokus sama Aksa," sambung Jordan.
Mereka diam dalam lamunan sampai Lisa, Rika dan Cherry datang menyusul mereka.
"Sayang, bagaimana Aksa?" tanya Rika mengambil posisi duduk di samping suaminya.
"Aku tidak tahu, dokter masih di dalam menanganinya," jawab David.
"Cherry, kau masuk ke kamar Aksa apa dia sudah seperti itu?" tanya Richard mengintimidasi Cherry.
Cherry menelan salivanya merasa gugup dengan tatapan kakeknya, "aku masuk kakak sudah seperti itu," jawabnya sedikit gemetar.
"Semoga tidak terlambat," lontar Richard mengacak rambutnya.
"Jangan katakan seorang itu, papa membuat kami takut," sambung Rika ketakutan.
"Sudahlah jangan ribut di sini. Lebih baik kita berdoa saja untuk keselamatan Aksa, semoga dia selamat," cetus Lisa menengahi mereka.
Pintu UGD terbuka dan memperlihatkan dokter keluar.
"Keluarga pasien?" tanya dokter menurunkan masker.
"Kami keluarganya," balas Richard cepat.
Dokter itu menghela nafasnya, "pasien mengalami overdosis obat tidur, sepertinya ia meminum obat itu secara paksa, untung saja pasien cepat dibawa untuk mendapatkan penanganan jika tidak nyawanya sudah melayang," paparnya secara logis.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Rika.
"Pasien baik-baik saja sekarang kami akan memindahkannya ke ruang rawat sebentar lagi. Kami minta agar kalian lebih memerhatikan kondisi mentalnya, saya akan merujuknya ke psikiater," jawabnya lugas.
"Terimakasih dokter," balas Lisa halus.
David menatap dokter tersebut dari atas sampai bawah, ia merasa sedikit familiar dengan dokter tersebut, ia mencoba mengingat dimana ia melihat dokter ini.
Dia ingat jika dokter ini adalah dokter Aditya yang diutus oleh Katya untuk menangani Aksa.
"Sampaikan pada nona-mu yang tercinta itu tentang kondisi putraku," ujar David tersenyum miring.
Dokter tersebut menegang mendengar perkataan David namun ia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Baik tuan, akan saya sampaikan," balasnya tersenyum ramah.
__ADS_1
Dokter Aditya melangkah kakinya pergi dari sana. Semua orang memandang David dengan tatapan heran dan bingung.
Namun David tidak peduli dengan mereka yang ada ia malah tersenyum miring memandang punggung dokter Aditya yang semakin lama hilang dari pandangannya.