Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 71


__ADS_3

Loren cuma bisa membuang nafasnya kasar memandang punggung Katya yang mulai memudar di matanya.


"Aku penasaran alasan apa yang membuat kakek tidak merestui pernikahan orang tuamu Katya, pasti ada alasan dibalik ini semua," ujar Loren sambil tangan kanannya menopang dagunya.


Loren merasa ada getaran di balik sakunya, ia meraba dan mengambil ponselnya yang menampilkan kontak tidak dikenal, ia memilih mengangkatnya saja.


"Halo ini siapa?" tanya Loren sarkas.


"Apa ini dengan Kim Loren," tanya orang dari seberang sana.


"Iya, ini aku."


"Ini aku Lol-"


Belum siap si penelepon menyelesaikan kalimatnya Loren segera mematikan panggilan telepon secara sepihak.


"Pasti ini cewek aneh yang kesekian kali yang nelpon. Aku harus ganti nomor ponsel," ucap Loren mengacak rambutnya kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cherry masuk ke dalam rumah dengan bersenandung riang dan bibir yang tidak berhenti tersenyum lebar. Pas sekali Cherry masuk seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu.


"Tumben Cherry kau pulang cepat," ujar Lisa sembari memakan puding.


"Hari ini cuma ada satu mata kuliah saja," jawab Cherry sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"Kenapa kau tidak pulang bersama Katya?" tanya David memandang ke depan mencari keberadaan menantunya.


"Tidak usah memikirkan dia. Kakakku tersayang kau harus mendaftarkan perceraian-mu ke pengadilan agama," ucap Cherry santai.


Semua orang yang mendengar hal tersebut melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Cherry.


"Cherry, hentikan omong kosong-mu itu. Anggap saja aku tidak mendengarnya dan aku tidak ingin menyakitimu karena kau adalah adikku," ujar Aksa dengan nada ketus.


"Kakak aku mengatakan yang sejujurnya dan apa kau mau tahu siapa selingkuhan albino?" tanya Cherry.


"Siapa?" tanya Aksa balik dengan raut wajah datar.


"Kak Loren sahabatmu sendiri merupakan selingkuhan istrimu," jawab Cherry bersemangat.


Aksa memijit pelipisnya, "Cherry, jika kau tidak tahu kebenarannya lebih baik kau diam dan tidak menuduh orang sembarangan," ucapnya.


"Cherry, masuk ke kamarmu sekarang," perintah Richard dengan nada tegas.

__ADS_1


Cherry bangkit dan menghentakkan kakinya kasar, "kalian memang aneh orang berselingkuh malah dibela," gerutunya sambil menapaki anak tangga.


Semua orang bisa mendengar gerutunya Cherry yang berhasil membuat mereka semakin emosi.


"Cherry," teriak Lisa.


Bella langsung mengusap punggung tangan nenek mertuanya, "sudah nek dia masih anak-anak," ucapnya.


"Anak-anak apa! Dia sudah berumur 18 tahun tapi pemikirannya masih anak-anak. Kalian lihat itu putri kalian, kalian terlalu memanjakannya hanya karena dia anak perempuan satu-satunya," ucap Lisa dengan keras.


"Jika dia tidak bisa mengubah sikapnya itu aku akan mendidiknya kembali," sambung Richard.


"Apa Cherry begitu membenci Katya sehingga dia membuat tuduhan palsu seperti itu?" tanya Alex dengan alis yang berkerut.


"Panjang ceritanya dan kau pasti tidak akan mengerti Lex," jawab Rika memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Aku akan ceritakan kak, tapi tidak sekarang kepalaku pusing aku ke kamarku untuk istirahat," sambung Aksa.


"Sini biar aku antar," ujar Alex yang mengambil alih kursi roda Aksa.


Alex mendorong kursi roda Aksa menuju kamarnya, dan mereka masuk ke dalam. Alex membantu Aksa bersandar pada headboard.


"Apa posisimu suda nyaman?" tanya Alex.


Alex mendarat bokongnya di pinggir ranjang. "Sa, apa kau percaya dengan perkataan Cherry?" tanyanya.


Aksa menggeleng kepalanya. "Tidak, Katya mengirim pesan meminta izin samaku," jawabnya.


"Aku tahu hubungan Loren sama Katya, papa yang menceritakannya."


"Aku tidak mengerti sama Cherry kenapa dia begitu membenci istriku," ucap Aksa dengan nada parau.


"Dia sangat menyayangimu jadi dia belum bisa terima putri dari penyebab kecelakaan itu malah menjadi istrimu," papar Alex.


"Aku rasa bukan itu. Mungkin dia marah karena tahu Katya berteman dengan Auris."


"Auris?" tanya Alex dengan alis satu terangkat.


"Gadis yang pernah di-bully oleh Cherry," jawab Aksa dengan menghembus nafasnya berat.


"Pantas saja dia membenci istrimu rupanya karena masalah itu," balas Alex sambil menyentuh kepalanya. "Aku rasa pilihanmu sudah tepat dengan tinggal di kediaman Katya, jika Katya dan Cherry tinggal satu atap aku tidak bisa mikir banyaknya konflik yang akan terjadi di rumah ini," ucapnya terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Katya berjalan sambil memegang sekeranjang bunga. Ia menyusuri pemakaman dan ia melangkahkan kakinya secara perlahan agar tidak menginjak makam yang lain.


Katya berhenti tepat di pusaran makam kedua orang tuanya dapat ia lihat makam mereka selalu bertaburan bunga mawar yang masih segar.


"Apa kakek Abraham atau kakek Jong Hyun yang menabur bunga ini?" tanya Katya pada dirinya sendiri.


Katya tidak mengambil pusing hal tersebut, ia duduk jongkok dan menuangkan air di atas gundukan tanah dan juga menaburkan bunga. Katya merapatkan kedua tangannya dan ia mulai berdoa di dalam hatinya.


Katya mengusap nisan ibunya. "Ma, hari ini keponakanmu datang menemui aku dan dia malah menyuruh aku menemui kakek tapi aku menolaknya," ucapnya.


Katya berbalik menghadap pusaran ayahnya. "Pa, aku rasa kakek Abraham mulai melakukan pergerakan mendekati kami dan aku harap itu bukan masalah besar. Pasti papa sudah bahagia bisa bertemu dengan mama, jangan khawatirkan kami dan tenanglah di sana," ucapnya terisak.


Katya bangkit dan segera melangkah kakinya meninggalkan area pemakaman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang wanita memegang erat benda berbentuk persegi panjang yang menampilkan garis dua dan Ia menjambak rambutnya secara kasar.


"Sial, aku malah hamil dan aku tidak tahu siapa ayah bayi yang aku kandung," teriak wanita tersebut.


Terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras namun wanita itu memilih mengabaikannya.


"Fani, cepat buka pintunya. Apa hasilnya?" teriak seorang wanita paruh baya dari arah luar.


Fani yang tidak tahan dengan suara teriakan ibunya memilih membuka pintu kamarnya.


"Apa hasilnya? Pasti negatif," ujar ibunya Fani.


"Aku hamil," jawab Fani cepat.


Rania melayangkan telapak tangannya pada pipi kiri Fani. "Dasar anak tidak tahu diri. Bagaimana bisa kau hamil? Siapa ayah bayi itu?" cercanya.


Fani menutup mulutnya rapat dan tidak menggubris pertanyaan ibunya. Yang ada ia malah menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Aku tanya sekali lagi Fani siapa ayah bayi di kandunganmu itu?" tanya Rania tegas dengan tatapan tajam.


"Aku tidak tahu. Aku terbangun dalam keadaan kacau di club malam," jawab Fani dengan kepala tertunduk.


"Anak bodoh, sudah berapa kali aku bilang berhenti bermain ke sana. Lihat sekarang kau hamil dan tidak tahu siapa ayah bayimu itu," hina Rania ketus.


"Aku tidak tahu siapa ayah bayi ini maka biar aku yang menentukan siapa ayahnya," ucap Fani.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Mama, kau cukup lihat saja dan biar aku yang mengurus semuanya," ucap Fani tersenyum miring sambil memainkan kukunya.


__ADS_2