Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 39


__ADS_3

Katya masuk ke dalam rumahnya berapa kagetnya ia melihat ibu asuhnya yang sedang duduk di sofa melayangkan tatapan tajam padanya.


"Ibu ngapain di situ?" tanya Katya mengerutkan keningnya.


"Seharusnya ibu yang bertanya dari mana saja kau?" tanya Wati balik.


"Aku habis dari rumah sakit," jawab Katya cepat.


"Kau menjenguk cucu tuan Richard?"


Katya mengangguk kepalanya, Wati melihat itu sedikit gerak dengan tindakan Katya.


"Sudah ibu bilang jangan pernah temui mereka, kenapa kau tidak mendengarkan aku!" pekik Wati.


"Ibu, maaf tapi aku akan bertanggung jawab!" ucap Katya meremas jari-jarinya.


Mata ibu asuhnya terbelalak mencermati apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya.


"Kau gila Katya! Bagaimana bisa kau membuat keputusan ini tanpa berdiskusi dengan ibu," pekik Wati emosi.


"Iya aku sudah gila karena menyetujui ini semua. Tapi ibu itu sudah kewajiban kita, aku tidak ingin jadi pengecut, aku akan mempertanggung jawabkan ini semua," balas Katya dengan keyakinan kuat.


"Kau ingin menghancurkan hidupmu, cukup hidupnya saja yang hancur, aku tidak ingin kau terseret dalam hidupnya."


"Jika hidupnya sudah hancur maka biarkan aku juga ikut terseret kehancuran bersamanya," teriak Katya lantang.


"Kau tidak pikir bagaimana perasaan tuan dan nyonya melihat ini semua, pasti mereka kecewa. kau tidak pernah pikir perasaan kami semua Katya."


"Aku rasa papa sama mama bangga atas keputusan yang aku pilih ini, mereka tidak ingin aku jadi seorang pengecut ibu, mereka akan lebih kecewa melihat aku melarikan diri tanpa mau menyelesaikan ini semua. Aku tidak pernah menyesal dengan keputusan yang aku pilih ini," ucap Katya dengan tatapan tajam.


"Terserah dirimu saja, aku sudah tidak peduli lagi," balas Wati sinis meninggalkan Katya seorang diri di ruang tamu.


Katya tahu ibu asuhnya pasti tidak terima dengan keputusan yang ia buat, ia tahu pasti ada konsekuensi.


"Maaf Bu, tapi aku bukan seorang pengecut, jika dengan ini bisa mempertanggung jawabkan perbuatan papa aku bersedia bahkan biar perlu aku juga bisa mengorbankan hidupku," gumam Katya.


...****************...


Seorang gadis dengan kulit eksotis sedang berbaring seraya memainkan ponselnya. Gadis itu adalah Zahra yang wajahnya sedang memakai masker. Ketika ia sedang fokus melihat sosial media terdapat panggilan masuk ke ponselnya.


Ia memilih mengangkat panggilan tersebut, "apa!" ujarnya ketus.

__ADS_1


"Zahra, kau tahu enggak kak Aksa mau nikah," pekik seorang gadis dari ujung sebrang sana.


"What! kau sedang enggak lagi bercanda Cherry," balasnya sambil teriak tidak kalah kencang dan berhasil membuat maskernya retak.


"Aku serius, kau tahu Kak Aksa masuk rumah sakit."


"Kok bisa?"


"Kak Aksa bunuh diri," balas Cherry santai.


"Emang adik enggak ada akhlak, enak aja kau bilang gitu."


"Aku serius kak Aksa mencoba bunuh diri, terus dia selamat karena dibawa ke rumah sakit. Tapi yang bikin aku syok mau tahu apa!"


"Apa cepat bilang!"


"Ada cewek datang masuk ke ruang rawat kak Aksa dan dia ngaku-ngaku jadi calon istri kakak, itu cewek emang gila kan!"


"Wah parah banget itu cewek. Siapa sih itu cewek?"


"Aku tidak tahu tapi dari mukanya itu cewek dia keturunan eropa."


"Bagus dong, kak Aksa perbaikan keturunan, otomatis pasti anak mereka cantik sama ganteng," celetuk Zara polos.


Zahra mengerutkan keningnya, "ini anak asal nelpon selalu matiin secara sepihak, besok-besok gak mau aku angkat lagi," ucapnya kesal lalu melempar ponselnya ke samping.


...****************...


Katya turun ke bawah untuk sarapan, dapat ia lihat adik dan ibu asuhnya sedang sarapan.


"Pagi," sapa Katya.


"Pagi kak," balas Kevin sambil memotong roti.


Wati cuma melirik Katya sekilas dan tidak membalas sapaan putrinya. Katya tidak ingin mengambil pusing dengan sikap ibunya itu.


Ia mengambil sepotong roti dan mengolesnya dengan selai coklat, dan langsung memakannya.


Ibu Wati selesai makan dan langsung pergi meninggalkan ruang makan.


"Kakak sama ibu lagi berantem?" celetuk Kevin mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Enggak, kenapa?" tanya Katya balik melempar pertanyaan.


"Ibu sama kakak dari tadi diam-diaman macam beruang kutub tahu," jawab Kevin mencomot pisang.


"Perasaan Kevin aja kali. Kakak sama ibu enggak berantem kok," ujar Katya berbohong.


"Bagus deh, kalian enggak berantem. Soalnya Kevin enggak suka melihat ibu dan kakak bertengkar," ucap Kevin polos.


Katya cuma bisa menarik sudut bibirnya tipis, "ini bocah aja tahu kami lagi berantem gimana para pelayan nanti," batinnya.


"Kak, aku pergi dulu," pamit Kevin.


"Pergi ke mana?"


"Hari ini Kevin ada latihan berkuda," jawabnya meminum susu.


"Oh, hati-hati sayang," balas Katya mengecup kedua pipi Kevin.


Katya memandang punggung Kevin yang lama-kelamaan menghilang dari pandangannya. Katya melanjutkan sarapannya dan setelah selesai ia memutuskan untuk menyusul ibunya yang sedang berada di dapur.


"Ibu bisa kita bicara?" tanya Katya pada Wati yang sedang memeriksa pembukuan.


"Ibu sibuk," jawabnya ketus.


"Ibu, kita harus bicara sekarang," ujar Katya tegas.


"Baik, mari kita bicara," jawab Wati mengangkat pandangannya.


"Tidak di sini, mari kita bicara di kamarku saja," putus Katya.


Mereka berjalan masuk ke dalam kamar Katya, ibu Wati mengambil posisi duduk di atas kasur.


"Ibu, aku tahu keputusan yang aku buat merupakan suatu hal yang besar. Ibu aku tidak ingin papa terbebani dengan rasa bersalah terhadap cucu kakek Richard, ibu tahu ketika aku menjenguknya aku bisa merasakan dia tidak punya tujuan untuk hidup ibu," papar Katya.


"Masalahnya hidupmu juga akan hancur Katya jika menikah dengannya. Kau tahu ibu selalu bermimpi menikahkan dirimu dengan pria yang sempurna Katya," teriak ibu Wati lantang seraya menyentuh kepalanya.


"Ibu, aku tidak meminta apapun darimu, yang aku inginkan cuma ku mohon biarkan aku menikah dengan kak Aksa. Ku mohon doakan kami dan berikan restumu, dengan doa darimu aku bisa menjalankan bahtera rumah tangga dengannya," ujar Katya serak dengan mata yang berair.


"Katya, ibu tidak bisa biarkan hal ini. Ibu tidak ingin putri kecilku yang selama ini aku rawat harus hidup menderita seumur hidupnya. Katya ini bukan masalah tanggung jawab saja tapi ini sudah menyangkut hidupmu ke depannya. Apa kau tidak pernah berpikir apa kata orang-orang tentang dirimu! Apa kau sanggup mendengar hinaan yang akan dilempar padamu? Ibu rasa kau tidak akan pernah sanggup," balas Wati menggeleng kepalanya lemah.


"Iya, aku pasti tidak sanggup. Maka aku mohon ibu doakan putri kecilmu ini agar dia bisa menjalankan hidupnya."

__ADS_1


Wati mengeluarkan air matanya ia belum bisa menerima ini, ia tidak bisa membayangkan betapa menderitanya hidup putri kecilnya ini.


"Tuan, nyonya, maaf karena telah gagal menjaga putri kita," batinnya menjerit.


__ADS_2