
Aksa sedang berkutat di depan laptopnya, ia membaca semua informasi yang dikirimkan oleh Rafael secara seksama, ia tidak ingin melewatkan secuil apapun.
Aksa mengepal tangannya ketika membaca bahwasanya Katya merupakan putri dari penyebab kecelakaan tersebut.
"Gadis ini putrinya, pantas saja kakek bilang dia pasti menerimaku rupanya dia putri dari si pelaku," ujar Aksa dengan tatapan marah.
Aksa menggeser kursor ke bawah untuk membaca informasi selanjutnya, betapa terkejutnya ia melihat keterangan rupanya Katya adik sepupu dari sahabatnya.
"Dia rupanya punya hubungan dengan keluarga Kim walaupun hubungan itu buruk. Baiklah aku terima pernikahan ini dan akan aku tunjukkan pada semua orang jika aku telah mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Fani," ucapnya tersenyum lebar ala psikopat.
Aksa menutup laptopnya, ia mendorong kursi roda menuju tempat tidur, ketika ia ingin mencoba berpindah secara mengejutkan ia mendengar keributan dari arah luar.
"Itu suara papi, ada ribut apa!" ucapnya bermonolog.
Aksa memilih keluar dari kamarnya dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
...****************...
Richard dan David telah tiba di rumah dengan ekspresi wajah marah, mereka berjalan begitu cepat dan duduk di sofa secara kasar.
Rika menyajikan segelas air putih untuk suami dan ayah mertuanya. Mereka minum dalam sekali teguk dan meletakkan kembali gelas itu secara kasar.
"Melihat dari ekspresi wajah kalian, pasti pembicaraannya tidak begitu lancar," ujar Lisa.
"Mereka menolak," balas Richard mengepal tangannya.
"Bagaimana bisa mereka menolaknya?" tanya Rika tidak percaya.
"Mereka tahu kondisi Aksa, dan mereka tidak terima putri kesayangan mereka untuk bertanggungjawab," sambung Richard menggebrak meja.
"Mereka tidak peduli dengan ancaman yang kami berikan, yang ada mereka malah menantang kami," papar David.
"Ini keterlaluan, aku tidak bisa biarkan hal ini. Aku harus pergi menemui Katya," cetus Lisa.
"Kau tidak ada gunanya bicara dengan Katya, yang menegang kendali semua adalah wanita itu," sambung Richard sinis.
"Maksudmu Wati? Dia cuma pelayan di keluarga itu," hina Lisa.
"Dia memang seorang pelayan tapi Katya begitu menghormati wanita itu," balas Richard.
__ADS_1
"Kita atur pertemuan ulang dengan mereka, tidak kita cuma perlu bicara dengan Katya, jika anak itu bisa dirayu pasti dia akan setuju menikah dengan Aksa," saran Rika.
"Tidak ada gunanya. Jika mereka menolak kita maka kita akan bawa kasus ini ke meja hijau," putus David dengan suara tegas.
David memilih pergi meninggalkan mereka, Rika yang melihat suaminya beranjak memilih menyusulnya.
Tersisa Lisa dan Richard yang masih duduk tenang di sofa.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya nyonya besar Wijaya.
"Aku yakin gadis itu akan jadi menantu keluarga kita," balas Richard penuh percaya diri.
"Bagaimana kau bisa punya keyakinan sebesar itu," ucapnya tidak habis pikir dengan suaminya.
"Lihat saja, aku yakin gadis itu sendiri yang akan datang melamar Aksa," ujar Richard tersenyum miring.
Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang duduk di kursi rodanya mendengar semua pembicaraan mereka.
...****************...
Aksa mendorong kursi rodanya kasar, ia masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu. Ia mendengar semua pembicaraan orang tuanya beserta kakek dan neneknya, ia tahu bagaimana keluarga Wilson menolak dirinya.
"Sialan, dia tidak boleh menolak diriku. Aku harus menikah dengannya," teriak Aksa yang menonjol urat-urat di wajahnya.
Secara tiba-tiba kaki Aksa menendang tidak karuan, Aksa begitu merasa sakit dengan kakinya yang ia tidak bisa kendalikan.
Aksa tanpa sengaja jatuh dari kursi rodanya dengan kakinya masih menendang tidak bisa ia kontrol.
Aksa tahu nyeri itu bukan berasal dari kaki tapi dari ujung syaraf yang terputus di tulang punggungnya.
Kondisi ini dinamakan spasme otot adalah kontraksi tiba-tiba secara tidak disengaja pada satu otot atau sering terjadi pada penderita cedera tulang belakang yang membuat bagian yang lumpuh bergerak sendiri tanpa bisa dikontrol oleh sih penyandang disabilitas.
Aksa tahu sewaktu-waktu ini akan terjadi karena dokter pernah mengatakan sebelum ia keluar dari rumah sakit bahwa jika penderita cedera tulang belakang akan mengalami spasme yang tidak bisa ia kontrol.
"Ini sakit, sakit. Aku cuma seonggok daging yang tidak berguna," rintih Aksa kesakitan dengan tangan memukul lantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Katya membiarkan angin malam menusuk kulit putihnya, ia menatap bintang-bintang di langit, ia duduk di pinggir kolam dengan merendam kakinya ke dalam air kolam yang dingin.
__ADS_1
Ia menurunkan pandangannya dan dapat ia lihat pantulan dirinya di air kolam berwarna biru.
"Apa aku harus pergi dari sini?" tanyanya lesu mengayunkan kakinya.
"Bukannya aku seorang pengecut jika aku kabur dari sini, bagaimana dengan hidup pria itu jika aku pergi dari negara ini?" tanya Katya pada dirinya sendiri.
Ada seseorang yang meletakkan kain di bahunya, ia mengangkat pandangannya dan dapat ia lihat orang itu adalah ibu asuhnya.
"Ibu, kenapa belum tidur?" tanya Katya mengangkat alisnya.
"Bagaimana bisa ibu tidur jika melihat dirimu sedang kacau begini," jawabnya sambil duduk di samping Katya.
"Ibu, apa kita tidak terlalu kejam pada mereka tadi?"
"Enggak, aku rasa itu hal yang wajar."
"Ibu, biarkan saja aku menikah dengan cucu kakek Richard," ujar Katya spontan.
Wati menatap Katya penuh amarah, "apa kau gila! Kau ingin hidupmu hancur setelah apa yang tuan dan aku lakukan padamu," teriaknya menggoyahkan tubuh Katya.
"Tapi dengan lari seperti ini, kita terlihat seperti penjahat," ujar Katya meneteskan air matanya.
"Ikuti perkataan ibu, pergi dari sini dan temui Leon di Prancis, lanjutkan pendidikan di sana."
"Ibu, aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan papa, hidupnya hancur," ujar Katya terisak.
"Cukup hidupnya saja hancur jangan sampai hidup juga ikut hancur Katya. Ibu rela melakukan apa pun asal hidupmu baik-baik saja."
"Ibu, mereka akan membawa kasus itu ke pengadilan, dan otomatis kita semua akan terseret."
"Kita tidak perlu takut dengan ancaman mereka, kita akan menyiapkan pengacara handal untuk membela kita," balas Wati tenang.
"Ibu, kita bisa bicara dengan mereka, kita akan bertanggungjawab dengan cara lain. Jika mereka ingin pengantin aku akan carikan gadis untuk putra mereka," ujar Katya menggigit bibirnya.
"Mereka menginginkan dirimu, sepertinya mereka ingin menggunakan dirimu untuk menutupi malu atas kegagalan pertunangan anaknya," ucap Wati sinis.
"Ibu, sesuai keinginan ibu besok aku akan pergi dari sini," ujar Katya yakin.
"Pergilah secepatnya, setelah semua baik-baik saja kau bisa kembali kemari," ujar Wati melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Katya diam dan menatap lekat wajah ibu asuhnya. "Maaf, jika aku jadi pengecut papa. Aku tidak ingin ibu khawatir jadi aku memutuskan pergi dari sini," batinnya.