
Pasangan paruh baya berjalan beriringan menuju sebuah kamar yang terletak di ruang keluarga, mereka mengetuk pintu tapi tidak mendengar ada balasan dari dalam.
"Pi, gimana kita buka aja?" tanya Rika.
"Buka aja," balasnya.
Rika membuka handle pintu dan bisa ia lihat Aksa sedang duduk di kursi rodanya menatap hampa ke jendela mungkin itu penyebab anaknya tidak mendengar suara ketukan.
Rika menghampiri anaknya dengan menyentuh pundak Aksa, Aksa yang disentuh langsung menoleh.
"Mami," panggil Aksa.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Rika berbasa-basi.
"Tidak perlu berbasa-basi mi, bilang aja ada keperluan apa," ucap Aksa to the point.
Rika cuma bisa menarik sudut bibirnya tersenyum kecut, "enggak bisa diajak basa-basi ini anak," batinnya.
"Ada yang ingin kami bicarakan denganmu," ucap David mengangkat suaranya.
"Kalian duduk saja tidak mungkin bicara dengan kondisi berdiri gini," ujar Aksa menunjuk sofa di sudut ruangan dengan dagunya.
Mereka menyetujui apa yang dikatakan Aksa, jadi mereka duduk di sofa agar bisa bicara dengan mudah.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Aksa to the point dengan tatapan tajam.
David mengambil nafas besar lalu membuangnya, "papi ingin kau menikah," ucapnya spontan.
Aksa tertawa kecil, "menikah, kalian gila," hinanya dengan tatapan sinis.
"Aksa dengarkan kami dulu. Menikahlah dengan anak kenalan kakek," sambung Rika halus.
"Buat apa aku menikah? Apa gadis itu menerima kondisiku? Ku rasa tidak. Tidak akan ada pernikahan," ucap Aksa dingin.
"Aksa, papi mohon setuju saja dengan rencana pernikahan ini, papi bisa jamin dia gadis baik-baik dan dia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Kakekmu bahkan mengetahui seluk beluk sisilah keluarganya," ucap David.
"Sisilah keluarganya tidak penting bagiku," balas Aksa ketus.
"Papi tidak peduli dengan pendapatmu, mau kau setuju atau tidak papi tetap akan menikahkan dirimu," ucap David tegas tanpa penolakan.
"Papi tidak bisa seperti itu. Ini hidupku cuma aku yang berhak menentukan aku mau menikah atau tidak," balas Aksa berteriak.
"Papi cuma minta kau menikah itu saja, dengan pernikahanmu ini bisa menyelamatkan harga diri keluarga kita, lakukan itu saja," ujar David dingin bangkit dan melangkah kakinya keluar dari kamar Aksa.
"Sayang tunggu, kita bisa bicarakan baik-baik," teriak Rika berlari kecil.
Rika berhenti lalu menghampiri anaknya, ia merangkul pundak Aksa dan mengusapnya.
"Mami mohon terima saja keputusan ayahmu ini," pintanya memelas.
__ADS_1
"Aku tidak mau menikah, siapa yang mau menikah sama orang cacat!" seru Aksa.
"Dia pasti menerimamu, kakek mengenal gadis itu dan berani menjamin dia gadis baik-baik," papar Rika seraya mengelus surai rambut Aksa.
"Siapa gadis itu mi?" tanya Aksa penasaran.
"Gadis itu Katya Angelina Wilson," jawabnya cepat.
"Wilson? Aku seperti pernah mendengar nama itu," lontarnya.
"Kau pasti tidak asing dengan nama itu, keluarga itu setara dengan keluarga kita," paparnya.
"Jangan bilang ini pernikahan bisnis," ucap Aksa sinis.
"Ini murni pernikahan Aksa, tidak ada campur tangan dengan bisnis kita dan mereka," balas Rika.
"Terserah kalian saja. Aku mau tidur," usir Aksa halus.
Rika mendengar anaknya mengusirnya dengan nada halus cuma bisa menghembus nafasnya kasar lalu pergi meninggalkan Aksa seorang diri di kamarnya.
Aksa melihat tidak ada siluet bayangan ibunya langsung saja memutar kursi rodanya mendekati meja kerja yang berada dekat jendela.
Aksa menyentuh ponselnya, ia membuka layar ponsel dan membuka sebuah kontak seseorang, ia menekan ikon panggilan telepon berwarna hijau di sisi atas kanan.
"Halo sa! Ada apa lagi? pasti kerjaan lagi kan? Cepat katakan apa yang perlu ku lakukan?" cerca Rafael dari sebrang sana.
"Ada yang lain? biar bisa ku kerjakan semua sekaligus," balas Rafael.
"Enggak ada, cuma itu saja pekerjaan untukmu. Aku ingin besok informasinya sudah terkirim ke email pribadiku," sambung Aksa.
"Aku akan mengirimkannya segera," balas Rafael langsung mengakhiri panggilan.
Aksa meletakkan kembali ponselnya di atas meja, ia memutar kursi rodanya mendekati jendela yang menampilkan pemandangan langit gelap yang bertabur kelap-kelip bintang.
"Aku merasa seperti akan ada perubahan dalam hidupku ini, semoga semuanya baik-baik saja," ucap Aksa meremas jari-jarinya dan juga menggosok telapak tangannya.
...****************...
Katya masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan kacau, wajahnya berantakan karena riasannya luntur dan mata bengkak dan memerah menunjukkan jika ia baru saja habis menangis.
Katya menghempas bokong kasar di atas sofa, ia duduk bersandar pada headboard, dan mengacak rambutnya kasar.
"Lama-lama aku bisa gila," umpatnya.
Ibu Wati berjalan menghampiri Katya dengan membawa nampan dan meletakkannya di atas meja, Katya melihat segelas jus jeruk langsung menyambar dan meminumnya dalam sekali teguk.
"Katya, pelan-pelan saja," ucap Wati tercengang.
Katya langsung meletakkan gelas dan berhasil menciptakan bunyi, Wati cuma bisa bergeleng pelan memandang Katya yang sedang kacau.
__ADS_1
"Habis darimana saja dirimu?" tanya Wati memandang Katya dari atas sampai bawah, "kau habis dari pemakaman?" tanyanya melihat kepala Katya terpasang pillbox hat.
"Bukan, aku habis dari kantor detektif swasta," jawabnya melepas topinya.
"Apa kau sudah mengetahui dimana keberadaan Leon?" tanya Wati riang.
"Ibu, lihat saja sendiri," ucap Katya menyodor amplop coklat pada ibunya.
Wati segera membuka amplop tersebut, ia mengambil beberapa foto dan melihatnya secara seksama.
Katya bisa melihat dari ekspresi wajah ibunya yang begitu senang melihat kondisi kakaknya baik-baik saja yang ditampilkan di foto.
"Syukurlah dia baik-baik saja," ucap ibu Wati menangis terharu.
"Apa ibu tahu kalau papa mengirim kakak ke Prancis?" tanya Katya secara tiba-tiba.
Wati menampilkan keriput di dahinya, "aku tidak pernah tahu jika tuan tahu keberadaan Leon," ucapnya lemah. "Yang aku tahu sebelum Leon pergi dia bertengkar hebat dengan tuan."
"Alasan mereka bertengkar adalah kakak ketahuan mengkonsumsi benda haram yaitu narkoba," ungkap Katya.
Wati menutup mulutnya dan bergeleng pelan, "tidak mungkin dia seorang pecandu," elaknya.
"Aku juga tidak percaya dengan informasi yang aku dapatkan ibu, namun ini kenyataannya."
"Aku gagal mendidik Leon, andai aku bisa mendidiknya pasti dia tidak akan menyentuh benda haram itu," ucap Wati lirih.
Katya membawa ibunya ke dalam dekapannya, "enggak ini bukan salah ibu, ibu sudah berusaha keras untuk mendidik kami," ucapnya mengusap punggung ibunya.
"Apa kita perlu terbang ke Prancis untuk melihat Leon?"
"Aku rasa cukup aku saja yang pergi ibu."
"Aku ingin ikut bersamamu Katya, aku ingin melihat Leon agar kekhawatiran di hatiku hilang," ucapnya memelas.
Mendengar lirihan kesedihan ibunya membuat hati Katya sedikit luluh, "iya, kita akan pergi melihatnya bersama, tapi tidak sekarang mungkin minggu depan," ucapnya.
"Tidak apa-apa yang penting aku bisa melihat putraku," ucap Wati menghapus air matanya.
"Ibu pergilah tidur, ini sudah begitu larut," ujar Katya.
"Kau juga pergilah tidur!"
Wati melangkah kakinya membawa nampan berjalan ke dapur.
Katya menapaki anak tangga menuju kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Katya memandang langit-langit kamarnya, "jangan bilang bunga di kuburan mama itu kak Leon yang taburi. Kenapa kakak bisa menyentuh benda haram itu? Padahal kakak tidak pernah menunjukkan tanda-tanda dia seorang pecandu," lirihnya.
Katya memejamkan matanya dan terdengar suara dengkuran halus mungkin ia sudah masuk ke alam mimpinya.
__ADS_1