
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit akhirnya mereka tiba di kediaman Wijaya. Katya mengedarkan pandangannya menelisik mansion keluarga Wijaya.
Mansion tersebut memiliki tiga lantai dengan arsitektur bergaya ala eropa, warna putih yang khas membuat kesan mansion ini mewah dan elegan. Sepanjang jalan masuk dari gerbang hingga mansion dipenuhi dengan pohon palem
"Terlalu mewah untuk kita yang tinggal di rumah yang gaya minimalis, dan juga ku akui udara di mansion ini bagus karena banyak pohon di sini," ujar Wati mengutarakan pendapatnya.
"Ibu benar, ini terlalu mewah," sambung Katya.
Kediaman Katya bukanlah mansion melainkan rumah dengan dua lantai bergaya minimalis, luas rumahnya tidak terlalu besar maupun kecil.
"Katya jangan terlihat dari kalangan menengah, ingat bahwa dirimu lahir dari sendok emas. Tunjukkan pada mereka di dalam kau bukanlah gadis biasa melainkan alpha women, jangan biarkan mereka mencari celah untuk menjatuhkan dirimu," tutur Wati mengangkat dagu Katya agar memandang dirinya.
"Baik ibu, akan aku ingat baik-baik," jawab Katya dengan nada suara rendah.
Katya dan Wati segera turun dari mobil ketika seorang pelayan membuka pintu mobil mereka.
"Silakan lewat sini nona, nyonya," ujar pelayan wanita tersebut ramah.
Mereka mengikuti pelayan itu, pelayan itu membawa mereka ke ruang tamu. Para anggota keluarga Wijaya telah berkumpul di sana.
"Selamat datang," ujar Lisa berjalan menuju Wati dan berbasa-basi dengan memeluk dan menempel pipi mereka satu sama lain.
"Apa kabar nyonya?" tanya Wati.
"Aku baik. Mari duduk," balas Lisa mempersilahkan mereka duduk.
Aksa memandang intens Katya, "cantik," ucapnya pelan.
Katya menyingkap gaunnya ia duduk dengan menyilangkan kakinya dan itu berhasil memancarkan aura elegan dari dirinya.
"Punya satu kakak ipar aja udah bikin bad mood tambah ini lagi bisa kalah saing," batin Cherry mengerucutkan bibirnya.
"Pilihan papa memang tidak salah seharusnya aku paksa aja Aksa terima perjodohan kemarin," gumam Rika tersenyum simpul.
"Dari gaya duduk aja udah memperlihatkan pilihanku dan pilihanmu beda level," celetuk tuan Richard.
Mendengar hal tersebut semua mata tertuju padanya, Richard menyadari tatapan mereka cuma menarik sudut bibirnya.
"Sudah ayo kita makan," ajak Rika mengalihkan perhatian.
Rika tidak ingin keluarga Katya merasa bahwa mereka cuma menjadi pengganti semata. Ia ingin membangun hubungan baik dengan keluarga mereka.
Mereka berjalan ke ruang makan dan para pelayan menggeser kursi ke belakang agar mereka bisa duduk. Para pelayan menyajikan makanan pembuka yaitu sup labu kuning.
__ADS_1
"Sup labu kuning!" celetuk Katya tersenyum miring.
"Aku sengaja memilih ini sebagai hidangan pembuka karena ini pasti sesuai dengan seleramu. Ini merupakan makanan pembuka khas Rusia bukan!" ujar Rika halus.
"Maaf mengatakan ini Tante, aku berharap anda tidak tersinggung. Aku tidak bisa makan ini karena aku alergi terhadap labu kuning," balas Katya tersenyum kikuk.
"Ya udah enggak usah dimakan," sambung Cherry santai.
"Cherry," tegur Lisa melayang tatapan tajamnya.
Cherry ditatap seperti itu menelan salivanya kasar.
"Maaf, aku tidak tahu. Aku akan meminta para pelayan membawakan makanan yang lain untukmu," ucap Rika lembut.
Rika langsung memerintahkan pelayan mengganti menu Katya dengan salad buah, dan mereka memulai makan.
"Oh iya Katya, apa rencanamu setelah lulus?" tanya Richard memecahkan keheningan.
"Sesuai yang udah diatur oleh ayahku aku akan melanjutkan ke fakultas kedokteran," jawab Katya meletakkan garpu.
"Di universitas mana kau akan melanjutkan studi?" tanya David.
"Universitas Blue Scorpion," jawabnya.
"Sama seperti Cherry, dia juga akan mengambil kedokteran," sambung Rika.
"Aku ingin pernikahan kalian diadakan bulan depan bagaimana?"tanya tuan Richard secara mendadak.
"Aku tidak setuju," jawab Wati mengangkat suaranya keberatan.
"Aku tidak bertanya padamu melainkan Katya," jawab Richard sarkas.
"Aku rasa aku setuju dengan ibuku. Itu begitu cepat, kakakku sedang tidak berada di sini," sambung Katya.
"Kau bisa menikah tanpa kakakmu," ujar Lisa.
"Aku rasa kalian tidak begitu bodoh soal agama, kalian pasti tahu anak perempuan bisa menikah jika ayahnya atau walinya yang menikahkan," cemooh Wati.
"Baik, bulan depan kita menikah," ucap Aksa membuka suaranya.
Keluarga Wijaya menarik sudut bibir mereka tipis dan memandang remeh pada keluarga Wilson.
"Baiklah jika kalian ingin kami menikah bulan depan. Aku tidak keberatan," ujar Katya santai menggoyang gelas.
__ADS_1
"Aku juga tidak keberatan. Oh iya sebelum pernikahan kita perlu membuat perjanjian pranikah bukan?" seru Wati tersenyum lebar.
"Aku akan mengutus pengacara untuk itu," sambung Aksa mengepal tangannya.
"Dan aku ingin di perjanjian pranikah kita siapa yang berani bermain belakang maka bersiaplah seluruh asetnya jatuh ke tangan pihak korban," ujar Katya tenang.
Keluarga Wijaya memandang tidak percaya ke arah Katya, mereka tidak menyangka gadis ini begitu licik dan cerdik.
"Kenapa kalian keberatan? walaupun pernikahan ini sebatas rasa tanggung jawab aku tidak ingin putriku jadi pihak yang dirugikan," sambung Wati tersenyum remeh.
"Baik jika itu keinginan kalian. Aku akan menyuruh pengacara segera membuat surat perjanjian pranikah kita," sambung Aksa dingin.
"Kau tenang saja aku tidak akan pernah bermain belakang, keluargaku itu tipe setia," ucap Katya memainkan jarinya.
"Sangking setia orang tuamu aja kawin lari," celetuk Cherry tanpa rasa bersalah.
Cherry mengetahui hal itu ketika ia tidak sengaja mendengar pembicaraan orang tuanya dengan kakek dan neneknya.
Katya mengepal tangannya menahan emosi dan ia berusaha menetralkan mimik wajahnya, "kenapa? Apa ada masalah?" seru Katya tersenyum.
"Cherry tutup mulutmu itu," tegur Jordan.
"Aku berharap kau tidak keberatan dengan permintaanku kak Aksa," ujar Katya halus.
"Aku tidak keberatan sama sekali," balas Aksa tersenyum simpul.
Semua orang yang melihat interaksi mereka berdua bisa merasa atmosfer panas antara Katya dan Aksa.
"Aku pikir dia gadis kecil yang polos ternyata dia licik juga," batin Rika.
"Aku tidak salah dalam memilih cucu menantu, gadis tangguh seperti dia memang pantas menjadi bagian keluarga ini," gumam Richard meminum air putih.
"Aku ingin pernikahan kita diadakan di hotel," pinta Katya.
"Aku tidak setuju. Aku ingin di kediaman Wijaya saja," balas Aksa ketus.
"Aku ingin semua orang tahu pernikahan kita, jangan bilang kakak ingin menyembunyikan hal ini," tuduh Katya.
"Aku bilang di sini maka harus dituruti," balas Aksa tegas.
"Kakak enggak bisa putuskan secara sepihak gitu. Kita harus dengarkan pendapat ibu, kakek, nenek, om sama tante."
"Cukup hentikan!" pekik Richard menghembus nafasnya kasar.
__ADS_1
Aksa dan Katya menghentikan perdebatan mereka, Katya melanjutkan makannya yang sempat tertunda secara kasar dan begitu juga dengan Aksa.
"Selesai ini semua, kita baru bicara!" putus tertua Wijaya.