
Seluruh anggota keluarga Wijaya berkumpul melaksanakan makan malam, menu malam ini adalah Broiled Lobster Tails with Garlic and Chili Butter.
"Cherry bagaimana kuliahmu?" tanya Richard.
"Biasa saja," jawab Cherry singkat.
"Kalau Katya bagaimana?" tanya Rika.
Mendengar nama Katya disebut langsung membuat selera makan Cherry menghilang, "tanya saja sendiri sama orangnya," jawabnya sarkas.
"Cherry, apa seperti itu yang kami ajarkan berbicara pada orang yang lebih tua," pekik Lisa.
"Jangan terlalu tegas padanya sayang! Ngomong-ngomong Cherry kau telah bertemu kembali dengan Auris dan dia juga satu fakultas sama kalian kan?" tanya Richard secara tiba-tiba.
"Darimana kakek tahu?" tanya Cherry memegang erat garpu.
"Aku selalu tahu apa yang kalian lakukan," jawab Richard sarkas.
Cherry bungkam dengan yang dikatakan oleh kakeknya dan dia tidak tahu bahwa selama ini kakek dan neneknya selalu mengawasi dirinya.
"Auris begitu cantik tidak seperti dulu, aku sangat menyukai dirinya," celetuk Lisa.
"Buat apa cantik jika dia begitu hobi menggoda pria," sambung Cherry sinis.
"Sekarang aku paham apa yang terjadi antara kalian berdua, dan sepertinya aku memang harus membuat jadwal ke psikolog untukmu Cherry," timpal David seraya meminum air putih.
"Aku tidak gila jadi tidak usah buang-buang waktu," balas Cherry ketus.
"Kau tau kalau Katya dan Auris itu berteman dan alasan itu juga kenapa menutup kasus mu begitu sulit karena Katya yang membantunya walaupun dulu Katya tidak mengenal Auris tapi dia menolongnya, dia begitu baik bukan!" papar tuan Richard tersenyum simpul.
Cherry mengepal tangannya dan menatap tajam kakeknya, "kenapa kakek baru memberitahu diriku sekarang? Dan Katya sialan itu malah membantu rakyat jelata itu," ucapnya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Apa karena Auris adalah musuhmu Katya harus memutuskan hubungan dengan dirinya? Cherry bertingkah seperti orang dewasa dan juga berdamai lah dengan masa lalu," timpal Rika tidak habis pikir dengan tingkah putrinya.
"Cherry lebih baik kau kerumahnya Auris dan minta maaflah terhadap dirinya dan juga ibunya mungkin mereka mau memaafkan dirimu dan jangan pernah berhenti meminta maaf walaupun mereka belum tentu mau memaafkan dirimu nanti," sambung tuan David bijak.
"Seumur hidupku aku tidak akan pernah meminta maaf terhadap dirinya! papi dan mami tidak tahu apa yang telah dia perbuat terhadap diriku, aku tidak akan pernah melakukan hal itu jika bukan dirinya yang berulah," teriak Cherry dan tangannya spontan melempar gelas ke lantai.
Cherry marah dan berlari meninggalkan ruang makan dan tidak tau dia berlari kemana, semua orang meneriakkan namanya namun Cherry tidak menoleh sama sekali
"Biarkan saja anak itu," ucap Richard dingin.
"David, buat janji temu dengan psikiater untuknya. Aku merasa anak itu memang memiliki penyakit hati," timpal Lisa.
"Aku sudah memutuskan akan menikahkan Cherry dengan Rafael," ucap Richard secara tiba-tiba.
"Ayah, bagaimana bisa kau memutuskan hal penting seperti itu tanpa berdiskusi denganku bagaimanapun aku adalah ayahnya Cherry," balas David mengutarakan keberatannya.
"Aku rasa kau pasti setuju dengan keputusanku, Rafael pemuda yang baik dan kita tahu seluk-beluk kehidupannya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan darinya," ujar Richard bijak.
"Aku setuju dengan ayah, aku rasa tidak buruk menikahkan Cherry dengan Rafael," sambung Rika mendukung keputusan ayah mertuanya.
"Keputusan tetap akan diambil oleh Cherry karena ini mengenai hidupnya biarkan dia yang memutuskan," sambung Lisa dengan bijak.
David menyelesaikan makan malamnya dan langsung meninggalkan meja makan tanpa berbasa-basi sama sekali, Rika yang melihat suaminya pergi memilih menyusul suaminya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cherry bergelut dalam selimutnya menumpahkan kristal bening yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Kenapa semua orang menganggap aku salah dan harus minta maaf pada Auris! Harusnya dia yang minta maaf padaku, padahal di sini aku yang jelas-jelas korban tapi kenapa semua pada bela Auris!" pekik Cherry melempar bantal.
Cherry bangkit dari ranjangnya dan ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi, ia menghidupkan air untuk mengisi bathub. Cherry mematikan kran air karena merasa airnya sudah cukup dan ia juga memasukkan sabun cair beraroma lavender.
__ADS_1
Cherry menanggalkan seluruh pakaiannya lalu masuk ke dalam bathub, jika kalian pikir Cherry akan melakukan hal nekat maka dugaan kalian salah, ia memutuskan untuk berendam agar perasaan dan pikirannya terasa lebih baik.
Cherry mengetuk jari-jarinya di pinggir bathtub dan menarik sudut bibirnya membentuk seringai, "kalian pikir aku akan minta maaf sama rakyat jelata itu! Jangan harap seumur hidupku aku tidak sudi meminta maaf padanya. Auris hidupmu sepertinya begitu baik-baik saja bagaimana jika sedikit bermain denganmu!" ucapnya terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jika Cherry sedang merencanakan rencana jahatnya pada Auris maka berbeda dengan Auris ia malah begitu santai menikmati angin malam yang membelai dan menusuk kulitnya.
Namun sayang ketenangannya sedikit terusik karena nada dering benda persegi panjang, Auris melirik sekilas siapa gerangan yang menelponnya dan melihat nama kontak tersebut berhasil membuat wajahnya sumringah.
"Halo, apa kabar Ris?" ucap seseorang jauh dari belahan benua.
"Aku baik, kabar kakak bagaimana?" tanya Auris tersenyum simpul.
"Aku juga baik, aku sangat ingin terbang ke sana untuk melihatmu," ucap pria tersebut.
"Baru dua bulan kita tidak bertemu namun kau sudah merindukan aku."
"Dua bulan rasanya seperti seabad, aku ingin bertemu denganmu tapi sayang pekerjaan aku begitu banyak," ucapnya sedikit lesu.
"Selesaikan pendidikan dan urusanmu di sana, aku berjanji akan selalu setia menunggu kamu di sini," ucap Auris halus.
Mendengar ucapan tulus dari perempuan yang ia sukai membuat pria itu tanpa sadar menarik tipis sudut bibirnya.
"Aku tutup dulu telponnya nanti aku akan menghubungimu lagi."
"Baik, aku akan tunggu."
"Good night my fox!" ucap pria tersebut dan langsung mengakhiri panggilan telepon.
Auris tersenyum kecil memandang ponselnya dan menggeleng kepalanya. Ia segera masuk ke dalam rumahnya karena merasa hari sudah begitu larut.
__ADS_1
Auris masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Have a nice dream Auris," ucapnya pelan dan memejamkan matanya memasuki dunia mimpinya.