
Katya mendorong kursi roda Aksa menuju ruang tempat mereka sering bersantai, dan mereka bisa melihat terdapat Leon yang sedang berbaring sembari membaca majalah.
Leon yang merasakan kehadiran mereka berdua menoleh, "sudah selesai drama perpisahannya?" tanyanya dengan alis terangkat satu.
"Mereka sudah pulang," jawab Katya.
"Katya ada yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang," ujar Leon.
"Baik kak," jawabnya.
Leon segera bangkit dari sofa dan berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya. Katya berbalik dan memandang Aksa sembari menghembus poninya.
"Kakak masih mau di sini atau aku antar ke kamar?" tanya Katya.
"kamar," jawab Aksa singkat.
Katya segera mendorong kursi roda Aksa menuju kamar mereka yang terletak di ruang keluarga.
"Kakak butuh sesuatu?" tanya Katya.
"Enggak ada, kau bisa pergi sekarang," jawab Aksa dingin.
Katya tidak mengambil pusing dengan jawaban Aksa ia memilih acuh dan segera melangkah kakinya keluar dari kamar.
Aksa memandang punggung Katya yang mulai menghilang dari balik pintu menyorot tajam dan mencengkram kuat pegangan kursi rodanya.
"Sialan harga diriku hancur, baru satu hari tinggal di sini dia menginjak aku belum lagi ke depannya. Tidak aku harus buat dia menghormati aku layaknya suami," ucap Aksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Katya berjalan ke kamar Leon, ia mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ia segera membuka handle pintu, dapat ia lihat Leon sedang duduk di depan meja belajar.
"Kak, ada apa?" tanya Katya sambil berjalan mendekati Leon.
"Kau lihat ini," jawab Leon memperlihatkan sebuah foto pria dan wanita bertema hitam putih.
__ADS_1
Katya tentu tahu foto tersebut figuran itu sama persis dengan yang ia lihat di ruang kerja ayahnya. Dan ia baru teringat jika Radit yang merupakan detektif swasta ia sewa mengirim sesuatu ke email.
"Aku menyewa detektif swasta untuk mencari informasi mengenai mereka berdua. Apa kakak tahu mereka?" tanya Katya.
"Apa informasi yang diberikan oleh detektif itu padamu?" tanya Leon balik.
"Aku belum membuka email," balas Katya mengangkat bahunya.
"Cepat buka email itu."
"Ada di laptop, kita harus ke kamarku dulu."
"Aku malas ke kamarmu jika ada Aksa, mending bawa laptop mu kemari."
"Maksudnya kamarku yang di samping kamar kakak."
"Kenapa kau enggak bilang dari tadi," gerutu Leon menepuk jidatnya dan juga memijit pelipisnya.
"Kakak enggak nanya," balas Katya sewot.
Leon sudah mengambil posisi duduk dan menghidupkan laptop yang terdapat di atas meja belajar, Leon tidak perlu repot-repot membuka laptop karena Katya tidak menggunakan kata sandi apa pun.
Leon mengeklik email yang belum terbaca dan ia menyimak semua yang tercetak di sana, tidak ada satu pun yang ia lewati.
"Informasinya sesuai dengan yang aku cari," ujar Leon menggeser kursor ke bawah.
"Siapa orang di foto itu?" tanya Katya dengan rasa penasaran.
"Itu orang tua papa," balas Leon singkat.
"Maksudnya kakek dan nenek kita?" tanya Katya.
"Bisa dibilang seperti itu. Aku baru tahu jika orang tua papa masih hidup," ucap Leon lesu.
"Aku pikir cuma orang tua mama saja yang hidup walaupun kita tidak pernah bertemu dengan mereka," balas Katya tersenyum perih.
__ADS_1
"Ini foto waktu kakek muda ia bernama Abraham Adylson, dan nenek sudah meninggal ketika papa baru berumur 5 tahun," papar Leon.
"Adylson? Aku seperti tidak asing dengan nama itu."
"Tentu saja ia merupakan pebisnis yang paling berpengaruh di Rusia ia menguasai pertambangan," jelas Leon panjang.
"Artinya kita memang terlahir dari sendok emas kan!" celetuk Katya polos.
Leon menjitak jidat Katya, "dibilang salah enggak dibilang benar memang kenyataan," keluhnya.
"Papa bilang bangun rumah sakit dari nol, kakak percaya?"
"Tentu tidak, pasti papa mengandalkan koneksi yang dimiliki olehnya beserta mama, dan setelah aku cari informasi papa menggunakan nama kakek untuk meminjam uang dalam jumlah besar di bank," terang Leon sesuai fakta.
"Sudah ku duga, tidak mungkin papa bisa buat rumah sakit itu maju dalam waktu sekejap. Oh iya, papa sama mama kenapa kawin lari?" tanya Katya secara tiba-tiba.
Leon menghembus nafasnya kasar, "aku tidak tahu alasannya. Yang aku tahu ayah mertuamu itu adalah mantan calon suami mama," ucapnya.
Mata Katya terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar, Leon segera mengatup mulut Katya.
"Tutup mulutmu nanti lalat masuk," canda Leon terkekeh kecil.
"Ini sungguh informasi yang berhasil membuat aku terkejut, jika papi adalah mantan calon suami mama artinya hubungan mama sama kakek Richard udah terjalin dari dulu. Yang buat aku semakin bingung kenapa hubungan mereka terlihat baik-baik saja sekarang," omel Katya seraya menyentuh kepalanya.
"Harusnya kau tanya sama suamimu itu dia tahu enggak alasan kenapa orang tuanya bisa menikah," celetuk Leon.
"Tidak usah bahas itu lagi. Hal itu hanya masa lalu yang tidak penting," ucap Katya.
"Kau bilang tidak penting? Ini penting Katya karena kakek Abraham juga punya hubungan sama kakek Richard," pekik Leon menampilkan urat-urat di wajahnya.
"Aku tidak peduli, hubungan masa lalu kakek atau orang tua kita. Kita cuma cukup fokus sama masa depan kita saja dan tidak lebih dari itu," ucap Katya yang segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Leon memandang punggung Katya yang mulai memudar dari balik pintu cuma bisa mengangkat nafas berat.
"Masalahnya Katya masa lalu orang tua kita akan terus meneror kita sampai kapan pun sebelum kakek menyelesaikan semua urusannya," ucap Leon lirih sembari mencengkram rambutnya.
__ADS_1