
Sepasang suami istri duduk di kursi yang terletak di atas balkon dengan ditemani secangkir coklat panas.
Wanita paruh baya mengenakan gaun malam berwarna hijau zamrud yang memperlihatkan dadanya yang masih kencang di usianya sekarang.
"Rika sayang, gaunmu itu terlalu terbuka, kau tidak kedinginan?" tanya David menyesap coklat panas.
"Tidak sama sekali. Aku suka mengenakan gaun ini," balas Rika mengaduk coklat.
David mengangkat nafasnya berat lalu menghembuskannya, "sayang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ujarnya dengan ekspresi serius.
Rika mengerutkan keningnya, "apa yang mau kau bicarakan honey?" tanyanya dengan tangan menopang dagunya.
"Tidak usah menggodaku, aku tidak sedang bersemangat untuk melakukan itu," balas David kikuk.
Rika mendengus kesal dengan penolakan halus yang dilakukan suaminya.
"Apa yang mau dibicarakan?" tanya Rika datar.
"Ini tentang Aksa."
"Aksa? ada apa?"
"Pertunangannya dengan Fani dibatalkan, setelah aku putuskan aku akan melanjutkan rencana perjodohan dengan kenalan ayah," ujar David.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
"Rika, aku ingin menyelamatkan harga diri keluarga kita."
"Menyelamatkan dengan cara pernikahan?"
"Iya, pernikahan antara Katya dan Aksa," jawabnya.
"Katya? Apa itu gadis yang dijodohkan oleh ayah?"
"Iya, kau tahu gadis itu putri Irene," ujar David tersenyum kecut.
"Irene? Maksudmu mantan calon istrimu itu!" pekik Rika menggeleng kepalanya.
"Iya, Irene."
"Kau gila! Bagaimana bisa kau menjodohkan anakmu dengan mantan kekasihmu itu," pekik Rika menepuk dada David.
"Ini belum setengah dari apa yang aku ingin bicarakan, masih ada hal yang harus kau tahu," ujarnya menangkup pipi istrinya.
"Apa yang masih ingin kau katakan?"
"Ayah gadis itu penyebab kecelakaan itu terjadi," ucapnya pelan.
Rika begitu geram mendengarnya ia langsung memberikan pukulan ke dada suaminya kembali.
"Belum cukup dengan dia putri Irene rupanya ayahnya penyebab Aksa lumpuh," teriaknya nyaring. "Kau memang sudah gila! Bagaimana bisa kau memikirkan pernikahan anakku dengan putrinya."
"Aku harus melakukan ini, kehormatan keluarga kita sedang dipertaruhkan."
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan kehormatan keluarga, aku lebih mementingkan kebahagiaan putraku."
"Jika kau memikirkan kebahagiaan Aksa maka biarkan Aksa menikahi Katya, gadis itu akan menjadi tameng untuk orang-orang yang akan menghina dirinya," teriak David menonjolkan urat wajahnya.
Rika terpaku menatap lekat suaminya, ia bergeleng pelan. "Aku tidak ingin putraku dihina tapi tidak dengan cara ini menghentikannya," ucapnya.
"Aku terpaksa Rika. Aku yakin dia bisa menjadi istri yang baik buat Aksa."
"Kau tidak mengenal dirinya, kau juga tidak tahu bagaimana perangainya," cecar Rika.
"Ayah dan mama mengenal Katya bahkan dari awal sebelum kecelakaan ini terjadi mereka ingin Katya yang menjadi menantu keluarga ini," papar David.
Rika memalingkan wajahnya ke samping, "bagaimana gadis itu apa dia mau menerima Aksa?" tanyanya meremas jari-jarinya.
"Besok aku dan ayah akan pergi menemuinya di kediaman mereka, aku cuma minta satu hal padamu jangan biarkan yang lain tahu tentang pernikahan ini, cukup aku, kamu, ayah, mama, dan Jordan."
"Kenapa tidak ada yang boleh tahu?"
"Aku tidak ingin masalah ini panjang sebelum kami bicara dengan keluarga Katya," jawab David lesu.
"Ketika kau bertemu mereka aku harap kau tidak akan bernostalgia dengan mantan kekasihmu itu," sungut Rika.
"Irene sudah meninggal," jawabnya cepat.
Rika menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia dengar, "kau serius dia sudah tiada?" tanyanya memastikan.
David mengangguk, "dia sudah tiada begitupun juga dengan James meninggal karena kecelakaan itu," paparnya.
"Aku tidak ingin menekannya, kami ingin melakukan pembicaraan secara kekeluargaan," ucap David tegas.
"Aku tidak ingin bicara denganmu, keluar," ujar Rika.
David melihat istrinya yang sedang emosi lebih memilih keluar saja dari kamarnya, ia menapaki menuruni anak tangga ia berjalan menuju dapur.
Ia menuangkan air di gelas lalu meminumnya dalam sekali teguk, "untung saja istri sendiri yang usir kalau sempat orang lain rasanya pengen," ucapnya.
David berjalan ke ruang keluarga tapi ketika ia melangkah kakinya terdengar suara dari dalam kamar Aksa yang terletak di dekat ruang keluarga.
David segera membuka pintu dan betapa terkejutnya ia melihat Aksa yang sudah tergeletak di atas lantai dengan pecahan kaca.
"Aksa," pekiknya.
David langsung berlari masuk dan mengangkat tubuh Aksa dan membaringkannya di tempat tidur dan ia baru menyadari bahwa celana Aksa basah.
"Aku ngompol," ujar Aksa bergetar.
"Tidak apa-apa, papa akan membersihkannya," ucapnya tersenyum.
David mengambil perlengkapan Aksa yang berada di lemari, David melapisi underpad di bawah Aksa, ia membuka celananya dan dapat melihat diaper yang mengembung berwarna kuning.
Ia merobek diaper dari sisi kiri lalu kanan, terus membuangnya, ia mengelap **** ***** Aksa dengan air hangat lalu memakai cream anti ruam terus memakai diaper baru dan celana boxer.
Sebenarnya Aksa merasa malu diperlakukan seperti ini, harga dirinya seperti diinjak ketika **** ***** disentuh.
__ADS_1
"Aku bahkan lebih parah dari bayi," cetus Aksa tersenyum getir.
"Jangan bilang seperti itu, kau tetap putra papa," balasnya.
"Papa bisa lihat bagaimana tidak berguna diriku, bahkan aku memakai diaper layaknya bayi yang tidak berdaya," pekiknya dengan mata memerah. "Aku juga malu ketika papa mengganti diaper-ku, itu membuat harga diriku terinjak dan mengingatkan bahwa aku tidak berguna," ucapnya.
"Jangan katakan itu, apapun kondisimu papa tetap menyayangimu, bahkan jika kau cuma bisa bernapas papa tetap akan merawat mu," ucap David memeluk Aksa.
Aksa tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya sehingga tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya, David mengelus punggung putranya itu dan membiarkan dia mengeluarkan semua kesedihannya.
David tidak mendengar suara isakan Aksa lagi ia mengeceknya dan melihat Aksa yang sudah tertidur.
Ia membetulkan posisi tidur Aksa lalu menyelimutinya, "selamat tidur putra papa, mimpi yang indah," ucapnya mengecup dahi Aksa.
...----------------...
Katya sedang membaca bukunya di atas tempat tidur, ia begitu fokus membaca setiap kata yang berada di buku.
Katya merasa tenggorokannya sedikit kering, ia mengulur tangannya untuk menjangkau gelas yang ada di atas meja samping tempat tidurnya.
Ia minum dan baru menyadari tidak ada air yang terisi, "malas kali harus pergi ke dapur," gerutunya beranjak bangkit dari kasurnya.
Katya keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju dapur, bisa ia rasakan angin malam yang masuk dari jendela menerpa kulit putihnya yang seputih salju, hawa dingin menusuk kulitnya pas sekali ia mengenakan piyama yang bahannya tipis.
Katya membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu menuangkannya ke gelas, Katya meminumnya.
"Lapar," ucapnya meraba perutnya.
Katya membuka lemari dan mencari apa ada yang bisa ia makan, Katya melihat sebuah mie cup ia mengambilnya lalu ia menyeduhnya dengan air panas yang selalu disiapkan oleh pelayan.
Ia menunggu mie itu tiga menit lalu memakannya, gumpalan uap keluar dari mie tersebut Katya menghembusnya agar tidak terlalu panas.
"Itu orang apa kabarnya? Udah keluar belum dari rumah sakit? Pasti kondisinya lagi tidak baik-baik saja," ucapnya lesu mengaduk mie.
Katya menopang kepalanya dengan tangannya ia mengaduk mie dengan perasaan lesu.
"Andai aku mencegah papa pergi mungkin papa masih hidup dan pasti orang itu masih bisa berjalan," ucapnya terkekeh.
Rasa laparnya hilang seketika ia mengambil satu kendi air lalu pergi dari dapur. Ia melangkah kakinya menuju kamarnya namun ia melintasi kamar ibunya yang pintunya terbuka dengan lampu yang masih menyala.
Katya ingin menghampiri ibunya tapi ia mendengar percakapan ibunya dengan seseorang melalui telepon.
"Kami tunggu kehadiran kalian tuan," ucap ibu Wati kepada seseorang di sebrang sana melalui panggil teleponnya.
Katya mengerutkan keningnya, "ibu bicara sama siapa? Siapa yang mau datang kemari?" tanyanya pada diri sendiri.
Katya segera masuk ke kamarnya sebelum ibunya mengetahui ia mendengar pembicaraannya.
Katya mengunci pintu kamarnya, ia meletakkan kendi air di atas mejanya dan ia langsung menghempaskan tubuhnya kasar.
"Aku masih penasaran ibu bicara sama siapa? siapa yang lagi ibu tunggu kedatangannya?" tanyanya.
"Ngapain sih mikir urusan ibu! Kalaupun ada yang datang itu pasti tamu ibu. Lebih baik aku tidur," ucapnya mematikan lampu dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
__ADS_1