
Katya dan Wati tiba di rumah mereka masuk dan mendaratkan bokong mereka di atas sofa.
"Katya, apa kau yakin menikah dengan Aksa?" tanya Wati khawatir akan masa depan putrinya.
"Ibu, aku sangat yakin. Ibu tenang saja, aku tidak akan hancur," balas Katya berusaha menenangkan ibunya.
"Ibu bisa merasakan jika dia bukan pria baik-baik."
"Kenapa ibu bisa berkata seperti itu?"
"Kau tidak lihat ekspresi wajahnya tadi ketika kau minta di perjanjian pranikah kalian siapa yang berselingkuh akan kehilangan asetnya, dia sepertinya akan mengkhianati kamu," jelas Wati.
"Silakan jika ia akan bermain di belakang, akan aku balas jika itu memang terjadi baik dirinya maupun selingkuhannya," balas Katya tersenyum menyeringai lebar.
"Ingat perkataan aku ini Katya dalam keluarga konglomerat tidak ada namanya cinta melainkan keuntungan, bisnis dan koneksi," imbuh Wati secara lugas.
"Aku akan mengingat itu Bu," balas Katya.
"Pergilah tidur, aku akan memesan tiket untuk penerbangan ke Prancis," ucap Wati.
"Ibu biar aku saja yang pergi ke sana," putus Katya.
"Tidak, aku akan menemani dirimu. Kita tidak tahu situasi dan keadaan di sana."
"Namun, jika kita pergi siapa yang akan menjaga Kevin?"
"Minta saja temanmu Auris menginap di sini untuk menjaga Kevin," saran Wati.
"Aku merasa segan padanya ibu," tolak Katya halus.
"Aku lebih percaya pada dia, apa aku perlu mengirim Kevin ke rumah keluarga Wijaya biar mereka menjaganya," kelit Wati.
__ADS_1
"Tidak usah seperti itu ibu. Baiklah aku akan menghubungi Auris besok," balas Katya.
Katya memutuskan untuk ke kamarnya, ia merasa tubuhnya begitu lelah. Katya berdiri di depan meja riasnya, ia menghapus riasan pada wajahnya.
Ketika ia menoleh ke arah ponselnya, ia melihat terdapat notifikasi email masuk pada handphone.
"Besok saja dibaca," ucap Katya seraya melempar asal kapas bekasnya.
Katya berjalan ke arah kamar mandi, ia menyikat giginya, dan mencuci wajahnya dengan facial foam. Ia mengelap wajahnya dan melanjutkan serangakaian rutinitas skincare malam.
"Wajahmu udah cantik Katya, aku penasaran secantik apa wanita mantan kekasih kak Aksa pasti lebih cantik aku pada dia," ujar Katya percaya diri.
Ia membaringkan tubuhnya di kasur, dan menarik selimut dan mematikan cahaya pada kamarnya, "good night Katya cantik," ucapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sudut kota Prancis terdapat sebuah tempat yang sangat menyenangkan, semua orang datang untuk menyalurkan birahi dan emosi, tempat yang remang-remang dan sesak akan kerumunan orang-orang. Berbagai macam alasan orang datang ada yang sekedar minum, bersenang dan bercinta.
Pria bermata hitam oksida meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik yang diputar oleh DJ.
"Leon, mari kita bersenang-senang sampai besok," teriak seorang gadis yang mengenakan crop top.
"Ayo bersenang sampai kita tidak bisa bangun lagi," teriak Leon mengangkat sebotol Vodka.
Mereka malah semakin meliukkan badan mereka bahkan sekali juga bercumbu dengan orang yang tepat berada di depan mereka.
Pemuda bermanik oksida tadi adalah Leon Orlingo Wilson merupakan kakak dari Katya, ia telah berada di Prancis selama satu tahun. Kesehariannya cuma pergi ke kampus dan berpesta dengan temannya.
Leon merasa sedikit jenuh dengan aktivitas club malam, ia memilih untuk keluar secara pelan-pelan dan teman-temannya tidak menyadari kepergiannya. Ia merasa sedikit lega bisa menghirup udara malam yang dingin, ia merasa sedikit sejuk jadi ia mengambil rokok dan membakar sedikit ujungnya, ia mengisap rokok tersebut dengan santai.
"Ini sangat nikmat," ucapnya menghembus asap rokok. "Katya, Kevin kalian apa kabar? Aku sangat merindukan kalian, aku harap kalian baik-baik saja setelah apa yang terjadi pada papa," ucapnya parau.
__ADS_1
Leon tersenyum kecut mengingat kembali atas kematian ayahnya, ia sungguh menyesal tidak bisa berada saat terakhirnya.
"Papa tenang saja di sana. Aku akan membalas kematian papa," ucapnya dengan tatapan berapi-api.
...****************...
Di kuda besi terdapat dua pria yang berbeda usia, seorang pria muda fokus pada jalanan dan seorang pria tua malah duduk tenang di kursi belakang.
"Bagaimana kabar cucuku Lucas?" tanya Abraham sembari menyesap jus jeruk kemasan.
"Tuan, aku mendapat kabar bahwa nona Katya dan ibu asuhnya baru saja bertemu dengan keluarga Wijaya," jawab Lucas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh orang suruhannya.
"Buat apa mereka bertemu?"
"Aku tidak tahu tuan, mereka mengadakan pertemuan di kediaman Wijaya," tutur Lucas.
"Sepertinya itu hal yang serius, cari tahu apa yang mereka lakukan," perintahnya dengan tegas.
"Baik tuan. Apa kau tidak penasaran dengan kabar tuan Leon?"
"Aku tidak penasaran, aku bisa melihatnya langsung di depan mataku ini," ucap Abraham menunjuk seorang pria yang berdiri di depan pintu masuk club melalui kaca mobilnya.
"Sepertinya tuan Leon sedang bersenang-senang," celetuk Lucas.
"Anak itu ayahnya baru beberapa minggu meninggal dia malah sudah bertandang ke club malam," balas Abraham berdecak sinis.
"Tuan, bisa jadi dia datang ke sini ingin melampiaskan semua kesedihannya," sambung Lucas berusaha berpikir positif.
"Cari tahu semua kegiatan anak itu selama di Prancis, dan cari tahu juga apa anak itu sudah lepas dari narkoba atau belum. Aku tidak ingin ada satupun cela dari dirinya bagaimanapun dia adalah penerus keluargaku," ucap Abraham datar.
"Baik tuan," balas asisten tersebut tanpa menatap tuannya sama sekali.
__ADS_1