Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 46


__ADS_3

Katya dan Wati sekarang sedang berada di atas balkon hotel tempat mereka menginap. Setelah menghabiskan waktu sekitar 16 jam dari Indonesia ke Prancis.


Katya memandang langit malam kota Paris yang sedikit berbeda dengan Indonesia, bintang di sana terlihat lebih bersinar, dan keindahan menara Eiffel yang berdiri kokoh, indah dan kuat. Hal yang menarik dari menara Eiffel di malam hari adalah lampu memiliki sensor cahaya sehingga dia otomatis menyala.


Lampu-lampu Eiffel Tower berkilau dan mengeluarkan kelap-kelip setiap lima menit. Katya mengambil ponselnya untuk mengabadikan pemandangan indah yang berada tepat di matanya.


"Kau terlihat senang Katya," celetuk Wati.


"Aku sangat menyukai tempat ini, aku ingin berlama-lama di sini," balas Katya tersenyum lebar.


"Sayangnya kita datang ke sini bukan untuk berlibur," sambung Wati dengan mimik wajah masam.


"Iya Ibu benar, apa kita akan bertemu dengan Leon?" tanya Katya seraya meletakkan benda persegi panjang di atas meja.


"Lebih cepat lebih baik," balas Wati bijak seraya menyeduh daun teh.


"Aku takut tidak bisa menghadapi dirinya, dan bagaimana mengatakan padanya jika adiknya ini datang untuk membicarakan pernikahan," ucap Katya lesu dan menangkup kedua pipinya.


"Tenang saja ibu akan menemanimu, ibu berharap Leon bisa mengerti," balas Wati mengusap punggung tangan Katya.


"Aku juga ingin bertanya padanya apa alasan dia menyentuh benda haram," ujar Katya.


"Sudah tidak usah dipikirkan, pergilah tidur besok kita harus bertemu dengan Leon," ucap Wati mengelus pucuk kepala Katya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku dengar Katya bersama ibunya terbang ke Prancis," celetuk Rika seraya menyusun beberapa cemilan di atas meja.


Mereka semua sedang berkumpul santai di ruang keluarga, mereka sering melakukan ini agar hubungan mereka semakin lebih kuat dan dekat.

__ADS_1


"Dia harus bicara dengan kakaknya bagaimanapun juga mereka boleh menikah jika ada wali," balas Lisa sambil mencomot pisang goreng.


"Kak Bella dulu aja bisa nikah tanpa pakai wali, seharusnya Katya juga bisa," sambung Cherry santai.


"Mereka berdua berbeda Cherry. Bella yatim piatu, sedangkan Katya..." belum siap Richard menyelesaikan kalimatnya, Cherry sudah memotongnya, "dia juga yatim piatu, apa bedanya. Tinggal nikah aja susah," selanya.


"Bella tidak punya siapapun lagi sedangkan Katya dia masih memiliki kakak laki-laki, diibaratkan semua keputusan yang menyangkut hidup Katya masih dipegang oleh kakaknya," papar Richard panjang dan jelas berharap semua perkataannya bisa dimengerti oleh Cherry.


"Bagaimana jika kakaknya menolak apa pernikahan masih dilakukan?" tanya Cherry sarkas.


"Tutup mulutmu itu Cherry, jangan mengatakan apapun sebelum tangan ku ini tanpa sadar telah melayang ke arahmu," sambung Aksa dengan nada suara dingin dan aura yang sedikit mencekam.


Cherry merasa badannya sedikit gemetar dan buku kuduknya berdiri, "sial, kak Aksa kenapa seram gini," gerutunya.


"Cherry mending pergi ke kamarmu untuk belajar, ujian masuk universitas tinggal sedikit lagi," ujar Rika.


Rika berkata seperti itu agar putrinya segera pergi dari sini, sebelum suasana kurang baik karena dirinya.


"Bikin kesal saja, kan enggak salah aku tanya gitu. Bagaimana kakaknya tidak setuju pasti harga diri keluarga ini dipertaruhkan lagi! Kenapa sih semua orang menganggap perkataanku selalu salah dan tidak ada yang mau mendengarkan aku," keluh Cherry dengan kakinya yang terus menendang selimut dan tangan memukul kasur.


...----------------...


"Mi, enggak terlalu kasar mengusirnya tadi?" tanya Jordan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan ibunya.


"Yang dilakukan Rika sudah benar, Cherry harus belajar untuk ujian masuk universitas, itu juga demi masa depannya," sahut Lisa.


"Kalian tidak perlu memaksa dirinya biarkan dia melakukan apa yang ia mau," harap Jordan mengusap punggung tangan Rika secara lembut.


"Tidak usah bahas Cherry, mari kita fokus pada Aksa," tungkas David menyesap capuccino.

__ADS_1


"Apa rencanamu ke depannya Aksa? Kau tidak mungkin seperti ini terus," cetus Richard spontan.


Aksa meremas celananya, "aku tidak tahu," jawabnya singkat.


"Pikirkan masa depanmu sekarang kau punya tanggung jawab terhadap Katya setelah menikah dengannya," lontar Lisa.


"Aku akan memikirkan kembali," jawab Aksa tenang.


"Aku berharap penyatuan ini bisa memperbaiki hubungan kita dengan keluarga Kim," tutur Richard.


"Kita tidak memiliki masalah dengan mereka," sambung Jordan.


"Kalian tidak perlu tahu apa yang terjadi di masa lalu antara keluarga kita dengan keluarga Kim," putus Richard tanpa bantahan.


Jordan dan Aksa saling melirik satu sama lain, Jordan mengedikkan bahunya acuh dan tidak mau ambil pusing, namun berbeda dengan Aksa pikirannya sedikit resah dan ingin menemukan jawabannya.


"Aku sepertinya harus minta pada Rafael untuk kembali menyelidiki Katya, biar perlu silsilah keluarganya juga," gumam Aksa pelan berusaha mengatur mimik wajahnya agar tidak ada yang curiga padanya.


...----------------...


Di pagi hari yang cerah dengan udara yang sejuk membuat siapapun betah untuk berlama-lama berbaring di atas kasur. Termasuk Leon ia tidak berkutik sedikitpun ia masih bergelut dengan dunia mimpinya.


Terdengar suara dering bel yang berbunyi namun Leon memilih mengabaikan, bel itu terus berbunyi tanpa henti sehingga Leon terjaga dari tidurnya.


Leon malas beranjak dari kasurnya ia biarkan saja sampai orang itu lelah tanpa disadari sudah 30 menit dering bel berbunyi.


Leon terpaksa beranjak dari kasurnya, "siapa sih ganggu orang tidur aja," gerutunya.


Leon berjalan ke arah pintu depan dan ketika ia membuka handle pintu, "What up!" serunya.

__ADS_1


Ia mengangkat pandangannya dan betapa terkejutnya ia melihat orang yang berada tepat di depan matanya.


"Apa kabar Leon?" ucap orang tersebut dengan senyum lebar.


__ADS_2