
Katya, Wati, dan Leon telah menyelesaikan acara makan siang mereka.
Leon meletakkannya lengannya dalam keadaan mengepal di atas meja, "sebutkan saja apa alasan kalian kemari?" tanyanya to the point.
Wati menghembus nafasnya kasar, "ibu akan menjawab pertanyaanmu tapi tidak di sini, ini harus dibicarakan di ruang yang private," ucapnya.
"Baik, kita kembali ke griya tawang," ajak Leon.
Mereka berjalan meninggalkan restoran namun Leon terlebih dahulu membayar makanan yang dimakan oleh mereka.
Leon kembali menyusul Katya dan Wati yang pergi dulu, Leon masuk ke lift dan menekan angka 100 menuju penthouse. Keluar dari lift bisa ia lihat Katya dan Wati menunggu di depan pintu.
"Kenapa kalian enggak masuk?" tanya Leon mengangkat satu alisnya.
"Pertanyaan kakak sungguh bodoh. Bagaimana bisa kami masuk jika yang punya akses masuk cuma kakak," bentak Katya dengan menghentakkan kaki kirinya.
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali ia langsung mengeluarkan kartu dan menempelkannya tepat di samping pintu, dan pintu otomatis terbuka.
Mereka masuk ke dalam dan langsung menjatuhkan bokong ke atas sofa yang empuk.
"Tidak usah berbasa-basi lagi, sebutkan tujuan kalian datang kemari?" tanya Leon spontan tidak memberi jeda terlebih dahulu pada mereka.
"Leon, kita baru bertemu dan kau tidak ada ingin menanyakan kabar kami!" seru Wati menggeleng kepalanya.
"Dari cara kalian menyusul aku kemari pasti keadaan kalian tidak baik-baik saja," serang Leon tepat sasaran yang berhasil membuat Katya diam dan meremas dress-nya.
"Aku tidak akan berlama-lama. Aku ingin menikah," ujar Katya spontan.
Leon mengeluarkan ekspresi wajah cengo, hening, dan tidak melakukan pergerakan sama sekali, ia masih mencerna ucapan Katya padanya.
Ia menghembus nafasnya kasar, "tidak usah bercanda, kau masih kecil tidak akan ada pernikahan lebih baik kau belajar aja sana," ucapnya sedikit ketus.
"Namun aku sedang tidak bercanda, bulan depan aku akan menikah," pekik Katya satu oktaf.
__ADS_1
"Kau masih muda Katya, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Kau tidak lihat kedua orang tua kita, pernikahan mereka tidak pernah direstui," cerca Leon dengan wajah yang sudah memerah.
"Kakak pikir aku mau nikah muda! Aku lakukan ini sebagai bentuk pertanggung jawaban perbuatan papa," teriak Katya.
Leon mengerutkan dahinya, "apa maksudmu? Perbuatan papa apanya?" tanya Leon dengan mencengkram bahu Katya.
Katya merasa sakit pada bahunya tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit pada batinnya dan tanpa diperintah kristal bening mulai tumpah membasahi wajahnya.
Leon melihat adiknya yang menangis langsung melonggarkan cengkeramannya, ia membawa Katya ke dalam pelukannya.
"Maafin kakak sudah menyakiti kamu," ucap Leon lembut sembari mengusap punggung Katya.
Katya tidak merespon yang ada tangisannya semakin kencang yang berhasil membuat Leon kebingungan dan khawatir.
Leon membiarkan Katya menangis di dadanya, sudah beberapa waktu isakan Katya sedikit mereda, Leon menurunkan pandangannya dan bisa melihat mata Katya yang sudah tertutup dan suara dengkuran yang halus.
Leon membaringkan tubuh Katya secara hati-hati di sofa, ia meluruskan kaki Katya dan membuka sepatunya.
Leon menatap lekat wajah Katya yang sembab dan wajah yang sedikit memerah, "apa yang terjadi ibu? Semua pasti sedang tidak berjalan baik, bukan?" tanyanya.
Leon mendengar secara seksama semua yang diceritakan oleh ibu asuhnya, ia tidak ada sama sekali memotong omongan ibunya. Leon mengepalkan tangannya dan wajahnya telah mengeras menahan amarah.
"Kurang aja, berani sekali mereka meminta adikku sebagai pengganti kekasih putra mereka. Dasar orang-orang sialan," umpat Leon tanpa sadar memukul meja dan berhasil melukai buku-buku tangannya.
"Apa yang harus kami lakukan? Kita tidak ada pilihan lain, kami sudah terdesak," tanya Wati dengan nada lesu.
"Aku tidak akan biarkan pernikahan ini terjadi, besok kita akan pulang ke Indonesia," putus Leon bulat.
"Terimakasih nak," balas Wati merasa lega dan tersenyum lebar.
Leon meremas jari-jarinya, "engga akan aku biarkan hidup adikku hancur," batinnya.
...****************...
__ADS_1
Jordan sedang menunggu seseorang disebuah restoran dekat pinggiran kota dan juga dia memesan private room agar lebih leluasa. Selama menunggu ia lebih memilih memainkan benda persegi panjang dengan sesekali menyesap kopinya.
Terdengar suara decitan pintu yang terbuka, Jordan mengalihkan atensinya dan melihat seorang pria bermata sipit.
"Hello bro! maaf buat kau menunggu lama," ucap orang tersebut dengan mimik wajah yang sungkan.
"Gak apa-apa, aku juga baru tiba di sini, Loren, silakan duduk," balas Jordan dengan tangan mengarah ke kursi depan.
Kim Loren keturunan Korea-Indo yang memiliki mata sipit kulit putih mulus dan rahang yang begitu tegas menggambarkan ketampanan nya
Loren menarik kursi dan duduk, "maaf, karena aku belum sempat menjenguk Aksa dan juga aku turut prihatin dengan apa yang menimpa dirinya," tutur Loren dengan nada rendah.
"Tidak apa-apa, aku tahu kau cukup sibuk belakangan ini," ucap Jordan.
"Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tanya loren.
Jordan meminta Loren datang ke restoran ini karena ia ingin membicarakan hal penting, dan ini tidak bisa diwakilkan atau dibicarakan lewat panggilan telepon.
"Aku rasa kau akan terkejut dengan apa yang akan aku bicarakan, dan ini juga masih ada hubungannya dengan keluarga kalian," ujar Jordan dengan tenang.
"Tidak usah berbelit-belit langsung katakan saja," bentak Loren yang memiliki kesabaran setipis tissue.
"Adik sepupumu akan menikah dengan Aksa," ucap Jordan spontan.
Loren mengerutkan keningnya dan mencerna apa yang barusan dikatakan oleh temannya, "adik sepupu? Perasaan aku tidak punya sepupu," ucapnya bingung.
"Tanyakan saja ke kakekmu atau nenekmu, cuma ini yang ingin aku katakan," ujar Jordan menepuk pundak Loren.
Jordan langsung melangkah kakinya meninggalkan Loren seorang diri dengan mimik wajah kebingungan.
Loren berdiri mematung dan tidak menghentikan kepergian Jordan dari hadapannya, ia masih mencerna apa yang sedang terjadi dan ketika kesadaran telah kembali ia langsung berdiri dan memukul meja dengan kedua tangannya.
Loren juga mengacak rambutnya secara kasar, dan menendang kursi di depannya, "sialan sih Jordan, dia panggil aku cuma untuk main teka-teki seperti ini. Dia gila!" umpatnya.
__ADS_1
Loren tidak mau berlama-lama di sana, ia langsung berjalan pergi dari private room dan menuju ke parkiran.
Ia masuk ke dalam kuda besinya, dan menghidupkan mesin mobilnya dan memanaskannya untuk beberapa menit, setelah itu ia langsung menancap gas dan meninggalkan pekarangan restoran.