
Rika membantu suaminya bersiap pergi ke kantor, ia membantu suaminya memakai dasi.
"Rika sayang, tolong bicarakan yang kita bahas semalam dengan Aksa," ujar David.
"Kenapa enggak dirimu aja kenapa harus aku?" tanya Rika mengangkat satu alisnya.
"Aku takut akan terbawa emosi membicarakannya dengan Aksa, lebih baik kau saja, kau bisa memberikan pengertian padanya," jawab David.
"Bagaimana jika Aksa menolak?"
"Dia tidak akan bisa menolaknya, jika kau kesulitan berbicara dengan Aksa bicaralah bersama dengan mama pasti pembicara itu akan lebih mudah," saran David.
"Terus tugas Jordan apa? Tidak mungkin dia cuma diam, aku yakin kau pasti menyuruh dia melakukan sesuatu, kan?" tanya Rika menaikkan alisnya.
"Aku memberikan tugas yang penting untuk Jordan, aku harap dia mengerjakannya dengan baik," balasnya santai.
"Kau tidak perlu memberikan dia banyak pekerjaan, bagaimanapun dia baru kembali, dia harus beristirahat," ujar Rika tidak suka dengan suaminya.
"Ini bukan pekerjaan berat, aku cuma memintanya untuk menghandle pekerjaan Aksa selama dia masih tahap pemulihan."
"Aku tidak ingin putraku yang lain kelelahan, minta orang lain saja. Jordan sudah mempunyai banyak pekerjaan jangan menambahkan lagi," lontarnya.
"Jangan khawatir, aku cuma meminta sedikit bantuannya saja. Bicarakan hal itu dengan Aksa hari ini juga," cetusnya menyisir rambutnya.
"Kau yakin aku harus bicara dengannya hari ini! Mentalnya belum siap untuk diajak bicara," omelnya bergeleng pelan.
"Harus hari ini Rika, besok aku akan pergi menemui Katya dengan ayah."
"Semoga pembicaraannya lancar," ucapnya pelan.
Mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan, di meja makan sudah ada Cherry, tuan dan nyonya besar Wijaya.
Rika tidak melihat kedua putranya, "dimana Aksa sama Jordan?" tanyanya seraya menarik kursi untuk duduk.
"Kak Jordan lagi olahraga, kalau kak Aksa dia minta sama pelayan bawa sarapannya ke kamar," jawab Cherry sambil memasukkan ayam ke mulutnya.
Rika mengangguk ia menuangkan beberapa lauk di atas piring suaminya dan dirinya, mereka sarapan dengan keadaan hening tidak ada pembicaraan satupun.
...----------------...
Seorang pria yang duduk di kursi roda memandang hampa ke arah luar yang menampilkan pemandangan kebun bunga berwarna-warni.
"Andai kecelakaan itu tidak terjadi mungkin aku tidak akan seperti ini. Mungkin aku masih bisa berjalan dan sekarang mungkin aku lagi berada di kantor meeting sama klien," ucapnya dengan tangan menumbuk kursi roda.
__ADS_1
Aksa memutar roda ke arah kasurnya, ia mengambil ponselnya dan mencari kontak.
"Halo! Ada apa Aksa? Semua baik-baik saja?" suara seorang pria dari sebrang sana.
"Rafael, tolong cari tahu kasus kecelakaan aku dan aku mau informasinya hari ini juga, beserta informasi mengenai Fani," ucap Aksa dengan suara dingin.
"Baik, aku akan mencarinya dan aku akan mengirimnya ke email nanti," balas Rafael sedikit berteriak.
Aksa langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak, ia melempar asal ponselnya.
"Fani lihat aja nanti aku akan membalas dirimu, aku akan biarkan dirimu terlebih dahulu setelah itu akan ku buat karirmu hancur," ucapnya tersenyum smirk dengan tangan mengepal.
...****************...
Rika berjalan mondar-mandir di kamarnya, ia meremas jari-jarinya, perasaannya sedikit kacau, ia mendengar pintu kamarnya terbuka dan langsung menoleh siapa gerangan yang datang ke kamarnya.
Ia dapat melihat ibu mertuanya yang masuk ke dalam kamarnya, "ada apa ma?" tanyanya.
"Enggak ada, aku cuma ingin tahu kau sudah bicara dengan Aksa?" tanyanya balik.
"Aku belum bicara dengannya, aku sedikit ragu," keluhnya meremas gaunnya.
"Kau harus membicarakan perjodohannya dengan Katya," ucap Lisa dingin.
"Ma, aku rasa mending suamiku saja yang bicara dengan Aksa, mungkin dia mau menurutinya," balas Rika bergetar.
Lisa melangkah kakinya keluar ketika ia membuka pintu betapa kagetnya ia melihat cucu perempuannya Cherry yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kau membuatku terkejut saja, kau mau aku terkena serangan jantung," omel Lisa menyentuh dadanya.
"Tinggal ke rumah sakit aja pasti dokter akan melakukan pertolongan pertama pada nenek," cetus Cherry tanpa berdosa sama sekali.
"Dasar cucu tidak ada akhlak," umpatnya dengan menghentakkan kakinya pergi dari sana.
Cherry menautkan alisnya memandang neneknya, "kan yang aku katakan benar, kalau kena serangan jantung pergi ke rumah sakit. Tapi kenapa nenek marah gitu?" tanyanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Cherry tidak mengambil pusing sama sekali tentang neneknya, ia berjalan masuk ke dalam kamar ibunya.
Rika melihat putrinya melipat dahinya, "apa?" tanyanya.
"Mami, Cherry mau minta izin belanja boleh?" tanyanya dengan mengedipkan matanya.
"Pergi saja, tidak perlu minta izin sama mami," balas Rika ketus.
__ADS_1
Cherry mengerucutkan bibirnya dan menyilang tangannya, "mami kenapa sih? Padahal Cherry cuma minta izin pergi keluar doang kenapa jawaban mami ketus gitu sih," sewotnya.
"Cherry mami tolong mending kamu keluar sebelum mami mengatakan sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Rika dingin dengan jari menunjuk pintu kamarnya yang terbuka.
Cherry mendengar pengusiran ibunya yang halus cuma bisa melangkah kakinya keluar. Cherry pergi ke kamar kakaknya Jordan, ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dahulu.
Cherry dapat melihat kakaknya sedang berkutat dengan beberapa berkas dan jari-jarinya menari di keyboard.
Cherry langsung mengalungkan tangannya ke leher Jordan, "kakakku sayang," ucapnya riang.
Jordan menarik sudut bibirnya dengan tangan menjangkau pipi Cherry, "ada apa adikku sayang?" tanyanya.
"Kakak aku lagi kesal," adunya.
"Adikku kesal karena apa?"
"Aku minta izin sama mami untuk pergi belanja tapi mami malah jawabnya ketus sama ku," paparnya.
"Mungkin mami tidak bermaksud gitu, kau tahu mami akhir-akhir ini begitu lelah mengurus Aksa di rumah sakit," ungkap Jordan berharap Cherry bisa mengerti.
"Tapi tetap saja mami enggak boleh ngomong gitu sama Cherry," balasnya.
Jordan menghela nafasnya kasar, "Cherry, usiamu sudah 18 tahun belajarlah bersikap dengan peka akan suatu keadaan," ucapnya lembut.
Cherry cuma memanyukan bibirnya tidak menggubris apa yang dikatakan oleh kakaknya. Ia menatap gambar seorang gadis berambut panjang dengan topi baret di atas kepalanya.
"Cantik amat ini cewek, pasti pacar kakak," gumamnya.
"Kak, ini pacar kakak?" tanya Cherry mengangkat alisnya.
"Bukan," balas Jordan cepat.
"Terus ngapain kakak simpan foto ini cewek?" tanya Cherry kepo.
"Bukan urusanmu, kamu masih kecil mending belajar sana untuk ujian universitas," ujar Jordan datar.
"Bilang aja itu pacar kakak. Aku janji enggak akan kasih tahu siapa-siapa," ucap Cherry dengan jari membentuk huruf v.
Jordan menyentil kening Cherry, "ini urusan orang dewasa, anak kecil mending belajar sana," ucapnya.
Cherry mengusap keningnya dengan pipi yang mengembung, "aku bilang ke mami kalau kakak udah punya pacar," ucapnya.
"Adukan aja sana," balas Jordan ketus.
__ADS_1
Cherry keluar dari kamar Jordan. Jordan melihat siluet Cherry yang tidak ada lagi di kamarnya membuat ia bernapas lega.
"Untung anak itu enggak baca informasi di bawahnya," ucap Jordan.