
Aksa telah kembali ke rumahnya setelah satu minggu dia dirawat di rumah sakit. Katya selalu datang menjenguknya dengan membawa berbagai macam makanan sehingga dia tidak perlu makan makanan rumah sakit.
Dari pertemuan mereka Katya dan Aksa saling mengetahui tentang diri mereka satu sama lain dan mereka juga baru tahu jika mereka punya visi dan misi yang sama.
Aksa sedang berada di kamarnya, ia sedang berbaring karena merasa kepalanya sedikit pusing.
Pintu kamarnya terbuka memperlihatkan ibunya yang sedang berjalan ke arahnya, "Aksa, ini pakaianmu," ujarnya meletakkan setelan kemeja di pinggir ranjang.
Aksa melirik sekilas pakaian tersebut, "buat apa?" tanyanya.
"Hari ini kita akan makan malam dengan keluarga Katya."
"Dimana? Restoran atau hotel?"
"Di sini. Mami minta karena kamu baru keluar dari rumah sakit," jawab Rika.
Alasan Rika meminta acara makan malam diadakan di kediamannya karena ia tahu anaknya pasti merasa tidak nyaman jika berada di luar rumah.
"Ngapain buat acara makan malam dengan mereka?" tanya Aksa.
"Kita akan membahas pernikahan kalian, kita juga harus tentukan tanggalnya mulai dari undangan, terus gedung dan masih banyak yang lain," papar Rika.
"Enggak bisa apa nikah di KUA aja?" tanya Aksa dengan nada malas.
"Enggak. Kakek enggak akan biarkan kau menikah seperti itu, mau diletakkan dimana wajah kita jika kau menikah secara sederhana gitu," omel Rika panjang yang berhasil membuat Aksa menggaruk telinganya yang tidak gatal sama sekali.
"Terserah kalian saja. Mami tolong panggilkan Jordan," pinta Aksa.
"Iya mami panggilkan. Mami harap kau menjaga sikap di depan keluarga Katya," peringat Rika tegas.
Aksa cuma mengangguk kepalanya malas, Rika melihat respon anaknya cuma bisa jengah dengan sikap anaknya itu. Ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya saja yang sempat terhenti karena memberikan pakaian pada Aksa atas permintaan ibu mertuanya.
...****************...
Katya sedang menatap pantulan wajahnya di depan cermin, ia mengoles blush di pipinya dan memberikan sedikit pewarna bibir pada bibir pink ranumnya.
Ibu Wati masuk ke kamar Katya tanpa mengetuk pintu sama sekali.
"Kau sudah siap?" tanya ibu Wati.
"Aku belum menata rambutku," balas Katya seraya mengoles mascara pada bulu matanya.
"Sini biar ibu tata rambutmu," ujar Wati mengambil sisir di atas meja.
__ADS_1
"Ibu cantik," puji Katya.
Penampilan Wati hari ini sedikit berbeda, dia mengenakan sheath dress dengan sentuhan brokat di bagian atasnya membuat tampilannya sedikit glamor. Dan gaya rambutnya low updo, sanggul yang ditata dengan ditekuk memberikan kesan elegan padanya.
"Terimakasih Katya," balas Wati menyisir rambut Katya.
Wati menata rambut Katya dengan gaya kepang ala Prancis ditata dengan sebagian rambut dikepang dan sisanya dibiarkan mengalir ke bawah, seperti air terjun, dan gaya rambut ini dikenal waterfall french braid.
"Sudah selesai," ucap Wati seraya merapikan sedikit rambut Katya.
"Aku begitu cantik ibu," puji Katya pada dirinya sendiri.
"Tentu saja kau begitu cantik sayang."
"Ibu, kita pergi sekarang," ajak Katya.
"Apa Kevin ikut dengan kita?"
"Ku rasa tidak, kita akan terlibat pembicaraan serius dengan mereka. Dan Kevin tidak perlu ikut dan mendengar itu semua. Pas sekali hari ini dia sibuk dengan latihan berkuda," jelas Katya yang khawatir.
"Ibu rasa yang kau katakan benar. Ayo kita pergi sekarang sebelum terlalu malam," ajak ibu Wati merangkul bahu Katya.
Mereka melangkah kaki keluar dari kamar dan menapaki anak tangga untuk turun ke bawah, mereka berjalan ke keluar.
Mobil sudah terparkir tepat di depan rumah beserta supir, mereka masuk dan kuda besi itu menancap gas meninggalkan pekarangan kediaman mereka.
Nyonya Rika menyiapkan acara makan malam untuk menyambut kedatangan keluarga besannya.
"Mi, buat apa kita harus menyiapkan acara mewah ini kalau cuma makan malam doang," ujar Cherry ketus
"Ingat ajaran keluarga kita apapun yang terjadi kita harus mempersiapkan semua dengan terbaik bahkan acara makan malam sekalipun," balas Rika tenang.
"Mami yakin biarkan kak Aksa nikah sama anak kenalan kakek?
"Pilihan kakekmu tidak pernah salah contohnya kakak iparmu Bella, dia menjadi istri yang baik untuk kakakmu Alex," jelas Rika sedang menata piring.
"Aku tidak suka gadis itu mi, lihat kemarin di rumah sakit dia main nyelonong masuk aja ke ruang rawat kakak," protes Cherry.
"Pendapatmu tidak dibutuhkan Cherry," ujar tuan Richard berjalan menghampiri mereka.
Cherry menyilang kedua lengannya, "kenapa gitu? Aku berhak mengutarakan pendapat karena aku adik kak Aksa," protesnya.
"Mau kau setuju ataupun tidak pernikahan tetap akan terjadi. Oh iya tolong ganti bajumu itu aku sungguh malu melihatnya," perintah Richard memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Ayolah kek, ini style aku," balas Cherry mengangkat bahunya.
"Kita akan makan malam dengan keluarga Wilson dan kau ingin membuatku malu dengan pakaianmu itu," teriak Richard murka.
Penampilan Cherry begitu santai, ia cuma mengenakan hot pant dan crop top.
"Enggak mau," ucap Cherry ngotot.
"Rika, suruh putrimu ini ganti baju atau aku sendiri yang akan menggantikan bajunya," ujar Richard dingin.
Rika langsung menarik lengan anaknya, "ayo!" serunya membawa Cherry pergi dari ruang makan.
Richard memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut itu, "aku tidak bisa biarkan Cherry seperti ini, setelah pernikahan Aksa aku harus mengatur pernikahan juga untuk Cherry," ucapnya pelan.
...----------------...
"Mami lepasin," rengek Cherry.
Rika tidak mempedulikan rengekan Cherry, ia tetap terus menarik Cherry hingga tiba di kamarnya.
Rika lalu melepaskan tangannya dari Cherry secara kasar.
"Ini sakit mi," ujar Cherry mengusap lengannya.
"Masih mending aku yang menarik dirimu daripada kakekmu," balas Rika dingin.
Rika membuka lemari pakaian dan memilih salah satu gaun yang cocok untuk Cherry.
"Cepat ganti bajumu sekarang!" Perintah Rika menyodorkan sebuah long dress pada Cherry.
"Aku enggak mau, buat apa aku ganti baju!" Ujar Cherry dengan nada santai.
"Baiklah. Jangan ikut makan malam sama kami dan mami akan mengunci pintu kamar ini, mami akan membukanya setelah siap bicara dengan keluarga Wilson," ancam Rika dengan mimik wajah serius.
Cherry memajukan bibirnya, ia merampas gaun dari tangan Rika secara kasar, "Baik aku akan ganti baju," ucapnya.
"Cepatlah, sebentar lagi mereka akan tiba," bentak Rika secara kuat.
"Buat apa sih buat acara makan malam kalau paling yang dibahas cuma bisnis dan keuntungan jangka panjang dari pernikahan ini," gerutu Cherry menyunggingkan senyum masam.
Rika mendengar hal itu merasa sedikit murka, ia ingin melayangkan telapak tangannya pada Cherry namun akal sehatnya melarangnya karena masih memikirkan Cherry sebagai putrinya.
"Tutup mulutmu itu, sekali lagi aku mendengar kau berkata sembarangan aku tidak segan-segan akan melayangkan tanganku ini ke wajahmu. Ingat itu baik-baik!" Ujar Rika datar.
__ADS_1
Rika langsung keluar dari kamar Cherry. Cherry mendengar ancaman ibunya merasa bulu kuduknya berdiri bergetar ketakutan.
"Sial, mami kenapa menakutkan gitu!" gumamnya mengusap tengkuknya.