Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 79


__ADS_3

Auris tersenyum memandang ponsel di genggaman tangannya, ia bisa merasakan ada pelangi yang muncul di hatinya dan terdapat kupu-kupu yang lagi menari.


Auris memencet ikon panggilan dan tidak lama kemudian seseorang mengangkat telepon darinya.


"Hello baby, you are missing me," ujarnya terkekeh dari belahan dunia sana.


"Engga, buat apa rindu sama kakak," balas Auris.


"Padahal aku sangat merindukanmu," ucapnya dengan isakan.


"Aku tidak kasihan sama sekali kak," balas Auris terkekeh. "Mau ganti panggilan ini jadi video call nggak?" tanyanya.


Tidak ada jawaban namun terdapat ikon panggilan video yang masuk ke ponsel Auris. Ia mengangkat panggilan tersebut dan bisa ia lihat seorang pria yang lagi duduk bersandar pada jendela.


"Kak Leon," pekik Auris riang.


Yups, pria yang selalu menghubungi Auris setiap malam adalah Leon, mereka mulai dekat semenjak Leon datang ke rumah Auris sebelum ia kembali ke Prancis, dan tidak ada satu pun orang yang tahu tentang hubungan mereka ini.


"Wajahmu cantik Ris," pujinya.


"Kak bisa aja gombal. Kenapa kau posting fotoku ke sosial media-mu? Bagaimana jika ada orang yang tahu itu aku pasti mereka akan menyerang ku," omel Auris dengan mengembung pipinya.


Leon mengetuk dagunya, "kenapa ya? Aku juga tidak tahu. Jangan khawatir tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuhmu Ris, pegang janjiku itu," balasnya dengan nada halus.


"Dasar nyebelin. Aku akan pegang janji kakak awas aja langgar," ancam Auris dengan tatapan melotot.


"Ris, libur kuliah nanti mau datang kemari?"


"Datangnya gampang tapi ongkosnya!"


"Gampang aku akan kirim tiket," jawab Leon cepat.


"Ih kakak aku bercanda, akuu tidak serius. Aku tidak bisa pergi ke sana alasan apa yang mau aku bilang ke ibuku," ucap Auris panjang.


Leon cuma mengangguk kepalanya saja. "Bagaimana kita nikah!" celetuknya.


"Ih kakak, kita masih kecil," balasnya ketus.


"Kamu lucu Ris apalagi waktu marah," ucap Leon yang berhasil menyemburkan rona merah di pipi Auris.

__ADS_1


Auris yang tidak tahan dengan gombalan dari Leon langsung mengakhiri panggilan secara sepihak, ia melempar ponselnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Ahhhh Leon buat aku malu aja," ucapnya dengan menggoyangkan kakinya.


Auris menarik tipis sudut bibirnya dan tertawa kecil, "selamat tidur Auris dan have a nice day Leon," ucapnya kecil dan matanya perlahan mulai tertutup.


...****************...


Katya sedang berkutat di dapur, ia memasak nasi goreng seafood, setelah cukup matang ia hidangkan di atas piring dengan didampingi dengan ayam semur.


Katya meminta pelayan untuk menyusunnya di atas meja, Katya berjalan ke kamarnya dan ia melihat Aksa yang masih betah dengan tidurnya dan ia tidak menunjukkan pergerakan sedikit pun untuk bangun.


Katya mendekat ke suaminya ketika ia menyentuh tubuh suaminya bisa ia rasakan hangat, Katya langsung menempelkan punggung tangannya di kening Aksa dan bisa ia prediksi Aksa mengalami demam.


Katya masuk ke toilet dan keluar membawa wadah berisi air hangat, Katya duduk di pinggir ranjang. Ia memasukkan handuk ke dalam air hangat lalu memerasnya dan menempelkan di kening suaminya.


"Kenapa mas Aksa bisa demam? Mungkin faktor kelelahan," ucap Katya berspekulasi.


Katya duduk dengan mencelupkan handuk dan menempelkannya kembali ke kening Aksa dan ia terus melakukan itu, setelah ia rasa panasnya turun ia bisa bernafas lega.


"Syukurlah," ucapnya sambil mengusap rambutnya.


"Kitty," panggil Aksa parau.


Katya menoleh, "apa ada yang sakit?" tanyanya.


"Kepalaku sedikit pusing," jawabnya.


"Makan dulu setelah itu minum obat."


"Aku tidak selera, aku minum obat aja."


Katya menghela nafas kasar lalu ia beranjak dari sana, 10 menit kemudian Katya kembali dengan membawa semangkuk bubur. Ia meletakkan nampan di atas meja nakas, Katya membantu Aksa bersandar pada headboard dan meletakkan bantal di belakang punggungnya.


"Mas harus makan!" ucap Katya tegas.


Aksa tidak punya tenaga untuk melawan cuma pasrah membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya sampai bubur itu tandas. Katya memberikan obat penurun panas dan membantunya minum.


"Kau tidak kuliah hari ini Kitty?" tanya Aksa.

__ADS_1


"Hari ini nggak ada mata kuliah," jawabnya membereskan nampak tadi. "Mau aku seka aja badannya mas?"


"Boleh," balasnya singkat.


Katya mengambil semua keperluan suaminya dan mulai membuka pakaian dan menyekanya secara lembut, dan juga tidak pula ia menyeka area sensitifnya. Setelah semuanya selesai ia memakaikan sweater dan celana pendek.


"Makasih Kitty," ucap Aksa halus.


"Istirahatlah!" seru Katya menyelimuti tubuh suaminya dan mengecup pelipis suaminya.


Aksa mulai memejamkan matanya dan tertidur, Katya melambaikan tangannya di atas wajah Aksa dan Aksa tidak terganggu sama sekali, Katya langsung beranjak dari sana.


Katya berjalan masuk ke ruang makan dapat ia lihat ibu asuhnya sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca berita di surat kabar.


Wati menurunkan korannya dan melihat Katya, "bagaimana keadaan Aksa?" tanyanya.


"Demamnya sudah mulai turun aku baru saja kasih obat," papar Katya sembari tangannya menjangkau gelas.


"Suruh dia istirahat total, tubuhnya mudah lelah dan daya tahan tubuhnya pasti menurun," ujar Wati.


"Mungkin yang ibu bilang benar."


"Kevin udah berangkat sekolah?"


"Sudah dari tadi," balasnya sambil membalikkan halaman koran.


Wati mengatur nafasnya, "Katya, apa kau yakin dengan keputusanmu membiarkan tuan Adylson tinggal di sini?" tanyanya dengan tatapan serius.


Katya berhenti meneguk air ia meletakkan gelasnya yang berhasil menimbulkan bunyi nyaring.


"Aku tidak pernah membuat keputusan sembarangan jika aku tidak yakin. Dia kakekku jadi tidak ada alasan untuk melarangnya tinggal di rumah ini," papar Katya panjang.


"Bagaimana kau akan menjelaskannya pada Leon? apa kau tidak ingin memberitahu Leon?"


"Aku pasti akan beritahu kakak tapi tidak sekarang," ucap Katya penuh penekanan.


"Terserah dan aku tidak peduli," balas Wati ketus dan melipat korannya secara kasar.


"Baguslah. Oh iya ibu tolong siapkan kamar untuk kakek," ucap Katya tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2