
"Waktu habis!" ujar Leon dengan tersenyum lebar.
Keluarga Wijaya merasa gusar dan panik, orang mereka telah terlambat datang dan sesuai yang dijanjikan maka pernikahan ini batal.
"Kau tidak bisa seperti ini Leon," ujar Richard mengangkat suaranya keberatan.
"Kakek, bukannya kau sendiri yang bilang 30 menit dan aku cuma menuruti perintahmu saja," balas Leon tenang.
Richard tidak bisa berkata-kata ia akui ini kesalahannya, sepertinya prediksi yang ia buat salah, orangnya bahkan tidak bisa hadir tepat waktu.
Katya memalingkan wajahnya ke samping bisa ia lihat Aksa yang meremas celananya, ia tahu Aksa pasti sedang menahan amarahnya dan kekecewaan.
Katya memegang tangan Leon dan Leon melipat dahinya ke dalam, "apa?" tanyanya.
"Kak, bisa kita bicara secara pribadi?"
"Baik," balas Leon singkat.
Katya dan Leon berjalan meninggalkan tempat tersebut, mereka memilih berbicara di ruang kerja James dulunya.
Katya berbalik dan mendongakkan kepalanya, "kak, kenapa kau melakukan ini?" tanyanya spontan.
"Aku tidak paham dengan apa yang kau katakan," balas Leon.
"Kak, kau tidak ingin pernikahan ini terjadi kan?" tanya Katya.
Leon tidak menggubris pertanyaan Katya. Katya melihat itu cuma menarik tipis sudut bibirnya, "kak, aku mohon padamu biarkan aku menikah dengan Aksa," sambungnya.
"Sekali kakak bilang tidak maka tetap tidak," bentak Leon kuat.
"Kakak bisa lihat tadi kondisinya sekarang kan? Dia lumpuh kak, dan penyebabnya karena kecelakaan yang dibuat oleh papa," ucap Katya gemetar.
"Papa tidak salah, dia saja yang tidak bisa mengendarai mobilnya dengan benar," elak Leon.
"Kak, papa pasti akan kecewa dengan perbuatan kita ini. Papa tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi seorang pengecut," ucap Katya memegang kedua tangan Leon. "Kak, biarkan aku menikah dengannya, aku bisa jamin hidupku akan baik-baik saja. Yang aku butuhkan cuma restu darimu saja karena kau adalah kakakku dan juga pengganti papa," sambungnya dengan air mata yang telah mengalir.
Leon mengusap air mata pada wajah Katya, "jangan menangis kau jelek," ucapnya ketus.
Katya menarik sudut bibirnya lebar mendengar perkataan ketus kakaknya tersebut.
__ADS_1
"Hapus air matamu itu, kau tidak mau kan jadi pengantin jelek di hari pernikahanmu," ucap Leon.
Mendengar kata pengantin membuat perasaan Katya berbunga-bunga ia langsung memeluk tubuh Leon.
"Terimakasih kak. Aku janji akan hidup bahagia," ucap Katya dengan terisak.
Leon membelai punggung belakang Katya, ia menggerutu dirinya sendiri bagaimana bisa ia setuju hanya karena mendengar sepenggal kalimat dari Katya, ia menduga pasti tuhan telah membalikkan hatinya ini.
...****************...
Aksa duduk begitu gelisah ia menatap hampa ke arah kirinya menunggu Leon dan Katya kembali, ia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya jika pernikahan ini batal dan penghinaan yang akan ditujukan untuk dirinya.
Jordan menghampiri Aksa karena melihat gelagat aneh dari saudaranya, ia menepuk pundak Aksa. "Tenang saja, semua akan baik-baik saja," ucapnya berharap Aksa merasa lebih baik.
"Aku tidak menduga kakaknya akan hadir seperti ini, dan kakek malah mengacaukan segalanya," balas Aksa dengan nada suara tidak sedap. "Dan mana orang kakek apa dia juga belum datang? Padahal waktunya telah habis, jika pernikahan ini batal aku akan menghancurkan hidup orang itu," sambungnya.
Dari arah depan Katya dan Leon berjalan masuk dan mereka mengambil posisi duduk di tempat semula.
Leon melirik penghulu, "apa aku bisa menikahkan adikku sekarang?" tanyanya.
Mendengar kalimat tersebut semua orang dari pihak mempelai pria menghembus nafas lega, mereka juga tidak lupa mengucapkan puji syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.
"Silakan!" ucap penghulu tersebut.
Aksa mengulur tangan kanannya dan Leon membalas uluran tangan tersebut.
"Saudara Aksa Alvino bin David saya nikahkan engkau dengan adik perempuan saya, Katya Angelina binti James dengan beserta mas kawin berupa logam mulia sebesar 150 gram," ucap Leon lantang dalam satu kali tarikan nafas.
"Saya terima nikah dan mas kawinnya Katya Angelina binti James dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," balas Aksa.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu tersebut.
"Sah," balas para tamu kompak.
Penghulu membacakan doa untuk pengantin yang diikuti oleh para tamu.
Aksa mendekat ke arah ubun-ubun kepala Katya dan membaca doa untuknya, setelah itu dia mengecup sekilas kening Katya.
Pipi Katya sudah merah dan ia langsung menyentuhnya, "seperti ini rasanya dikecup selain sama papa," gumamnya.
__ADS_1
Katya yang sadar pandangan orang-orang ke arahnya langsung menetralkan mimik wajahnya, ia mencium punggung tangan Aksa sebagai bentuk penghormatan terhadap suami.
"Silakan kalian tanda tangani," ucap penghulu menyodorkan buku nikah.
Aksa dan Katya langsung membumbui tandatangan mereka di buku kecil berbentuk persegi tersebut.
"Semoga tiap hari orang kaya nikah, jadi enak tinggal nikahin pulang-pulang bawa bingkisan," gumam penghulu tersebut.
Penghulu yang merasa tugasnya telah selesai langsung pamit karena dia masih banyak pekerjaan dan tentu saja diantar oleh supir keluarga Wilson dan juga tidak lupa amplop dan bingkisan.
Leon memandang Aksa dengan tatapan tajam, "jika sampai adikku tidak bahagia maka aku tidak segan-segan untuk membawanya dari hidupmu," ucapnya penuh penekanan.
"Jangan khawatir, aku akan memperlakukannya dengan begitu baik," balas Aksa dengan ekspresi wajah tenang.
"Aku pegang perkataanmu," lontar Leon dingin.
Leon segera berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah dan sepertinya ia mau ke kamarnya untuk beristirahat.
"Maaf atas kejadian tadi yang dibuat oleh kakakku," ujar Katya dengan nada sungkan.
"Tidak apa-apa, yang penting kita sudah menikah," balas Aksa.
"Soal mahar tambahan tadi jika kakak tidak keberatan kakak tidak perlu memberikannya padaku," ucap Katya dengan hati-hati.
"Aku tetap akan berikan itu sebagai hadiah," balas Aksa dengan ekspresi wajah dingin.
Katya yang peka akan perubahan mimik wajah Aksa memilih diam saja, ia tidak ingin jika dilanjutkan mereka bertengkar di hari pertama nikah dan otomatis orang-orang akan tahu pertengkaran mereka.
Para sahabat Aksa berjalan menghampiri mereka untuk memberikan selamat.
"Selamat berbahagia, semoga pernikahan kalian langgeng," ujar Rayen tersenyum.
"Terimakasih," balas Katya juga dengan senyuman manis.
Mereka terpesona dengan senyuman Katya, selama ini mereka tidak pernah terpesona dengan penampilan wanita.
"Istri pak bos cantik kali, bikin iri aja," batin Rafael.
"Kalau pengantin wanitanya spek macam ini aku siap jika harus lumpuh," batin Rayen.
__ADS_1
Jordan memandang kedua temannya dengan ekspresi wajah meringis malu, "sudah ayo pergi masih banyak lagi yang mau salaman," ucapnya menarik mereka pergi dari hadapan Katya dan Aksa.