
Jordan melangkah kakinya ke arah ruangan kerja papinya, Jordan mengetuk pintu dahulu dan mendengar sautan dari dalam ia langsung membuka pintu.
"Duduklah Jordan," ujar David tegas.
Jordan duduk di sofa yang berada di tengah ruangan, David menyodorkan sebuah berkas ke hadapan Jordan.
Jordan mengangkat satu alisnya, "apa ini Pi?" tanyanya.
"Bukalah," balas David.
Jordan membuka berkas itu dan melihat seksama isi yang berada di berkas. Berkas itu berisi informasi tentang seorang gadis keturunan Rusia.
"Apa maksudnya ini Pi? jangan bilang papi mau jodohin aku," pekik Jordan menampilkan urat-urat di wajahnya.
"Kau salah paham, aku tidak ada niat ingin menjodohkan dirimu."
"Terus buat apa papi suruh aku lihat ini?"
"Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?"
"Dari informasi yang tertera ku rasa dia gadis yang baik dan latar belakang keluarganya bukan sembarangan," papar Jordan.
"Gadis itu cocok dengan Aksa?" tanya David secara spontan yang berhasil membuat wajah Jordan cengo.
"Tunggu maksud papi mau jodohin Aksa sama gadis ini?"
"Iya, papi ingin menjodohkan mereka."
"Pi, bukan aku meremehkan Aksa tapi apa gadis itu mau menerimanya?" tanya Jordan ragu.
"Dia harus menerimanya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan ayahnya," balas David tersenyum miring.
"Jangan bilang gadis ini putri dari penyebab kecelakaan Aksa?"
"Iya, kau benar."
__ADS_1
"Papi kau tidak bisa melakukan ini, kita tidak mengenal mereka dan bagaimana perangai mereka," protes Jordan keberatan.
"Aku mengenal orang tuanya. Ibu gadis itu adalah mantan calon istri papi," ujar David tenang.
"Apa maksud papi?" tanya Jordan bingung dengan perkataan papinya.
"Papi dulu dijodohkan sama kakek mu dengan anak dari keluarga Kim dulu, sebenarnya papi sangat tertarik dengannya, ketika hari pernikahan papi tidak menyangka kalo dia memutuskan kawin lari bersama kekasihnya. Kekasihnya adalah penyebab dari kecelakaan itu," papar David mengenang masa lalu.
"Tapi kenapa keluarga Kim menjodohkannya dengan papi kalo dia sudah memiliki kekasih?" tanya Jordan penasaran.
"Keluarga Kim tidak menyukainya karena perbedaan keyakinan di antara mereka berdua dan juga kekasihnya itu bukanlah pria baik-baik, dan sampai sekarang keluarga Kim tidak pernah merestui hubungan mereka," jawab David tersenyum getir.
"Sebelum kita menghubungi gadis itu lebih baik bicarakan ini dengan Aksa dan mami. Bagaimanapun yang menjalani pernikahan ini adalah Aksa," saran Jordan.
"Besok papi akan bicara dengan Aksa, papi harap dia setuju," ujarnya lesu.
"Semoga dia setuju," sambung Jordan.
"Pergilah tidur. Ini sudah malam," ujar David halus.
Jordan pergi meninggalkan ruangan dan menyisakan David.
...****************...
Di pagi hari yang cerah untuk memulai hari yang indah namun tidak dengan seorang pria yang terbaring di atas kasurnya. Ia bahkan tidak bisa untuk bersandar pada head board.
Seseorang masuk ke dalam kamar itu, pertama ia membuka tirai agar sinar mentari masuk menyinari ruangan.
"Pagi Aksa," sapa Jordan.
"Hem," saut Aksa dingin.
Jordan cuma tersenyum kecut, ia menarik selimut dan bisa ia rasakan bau pesing dari bagian bawah Aksa.
"Sa, diaper-nya bocor," ucap Jordan kikuk.
__ADS_1
Aksa cuma bisa menggigit bibirnya dan tangannya mencengkram seprai. Jordan langsung saja menggendong Aksa ala bridal style dan itu berhasil membuat harga dirinya terhina.
"Kau tidak perlu menggendong aku," ujar Aksa ketus.
Jordan tidak menggubris perkataan Aksa ia memilih membawa Aksa ke dalam kamar mandi, Jordan mendudukkan Aksa di atas kursi, Ia melepaskan pakaian Aksa dan menyisakan diaper yang mengembung berwarna kuning lalu mengikat tubuhnya agar tidak merosot.
Cedera tulang belakang membuat tubuhnya bahkan tidak bisa duduk tegak, jika tidak ada penyangga di punggungnya ia akan merosot jatuh ke bawah.
Jordan merobek diaper lalu membuangnya di tempat sampah, Jordan menyiram tubuh Aksa dengan air hangat dan memijatnya lembut. Setelah selesai ia memasang handuk di pinggang, lalu menggendongnya kembali membawa keluar.
Jordan membaringkan Aksa di atas sofa karena kasurnya basah, ia mengambil perlengkapan Aksa dimulai dari diaper, krim ruam dan lainnya.
Jordan meletakkan underpad di bawah bokong Aksa, Jordan mengelap seluruh tubuh Aksa dengan handuk. Ia melebarkan kaki dan membuat Aksa mengangkang terus ia mengoles krim ruam di selangkang*n dan segera memakaikan diaper agar dia tidak mengompol.
Jordan memakai Aksa kaos dengan celana pendek, setelah selesai Jordan membereskan semua perlengkapannya.
"Panggil dokter agar dia memasang kateter saja," ujar Aksa dengan wajah murung.
"Engga bisa. Dokter berkata itu infeksi lebih baik pakai diaper," terang Jordan.
"Aku tidak ingin merepotkan kau."
"Aku cuma sementara mengurus dirimu sebelum kita menemuka perawat untukmu," balas Jordan.
"Aku cuma bayi besar yang masih memakai popok," ucap Aksa tersenyum getir.
Jordan menghela nafas kasar. "Ayo kita keluar sarapan," ajaknya.
"Aku ingin sarapan di sini," jawab Aksa cepat.
"Tidak bisa. Aku akan meminta pelayan membersihkan kamarmu ini," lontarnya membawa kursi roda.
Jordan mengangkat Aksa lalu mendudukkan di kursi roda dan memasang sabuk, Jordan mendorong kursi itu keluar dari kamar dan membawanya ke ruang makan.
Suasana ruang makan berbeda tidak seperti biasanya, pasti sudah terdengar suara Cherry yang terus mengoceh tapi ini berbeda ruangan ini begitu hening.
__ADS_1
Ketika mereka sudah mencapai ruang makan betapa terkejutnya mereka melihat sepasang suami istri yang sudah berumur.
"Apa kabar cucuku?" tanya pria tua tersenyum lebar.