
"Apa kabar cucuku?" tanya pria tua tersenyum lebar.
"Kakek," ucap Aksa pelan.
Jordan mendorong kursi roda mendekati meja makan lalu ia duduk di sebelah Aksa.
"Kenapa kalian di sini? Bukannya kalian lagi liburan?" tanya Jordan penasaran.
"Apa kami tidak boleh berada di sini padahal ini rumah kami juga," jawab wanita tua.
"Bukan seperti itu ma. Mungkin Jordan kaget melihat kalian tiba-tiba di sini," bela Rika.
Pria tua yang dipanggil kakek oleh Aksa adalah Richard Wijaya, berusia 60 tahun, tubuhnya masih terlihat bugar diusianya yang sudah lanjut.
Istrinya Lisa Wijaya seorang wanita tua yang wajahnya masih terlihat bersinar dengan dihiasi garis-garis halus di wajahnya.
"Sudah ku katakan aku akan kembali jika Aksa membatalkan pertunangannya dengan Fani," ujar Richard tenang dengan memasukkan anggur ke mulutnya.
"Lihat pilihanmu Aksa, udah berapa kali nenek bilang Fani tidak pantas masuk ke keluarga kita," lontar Lisa tersenyum remeh.
"Pada membahas hal itu lebih baik kita makan," ujar Richard tegas.
Mereka memakan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya dan dilengkapi kerupuk, Aksa tidak memakan makanannya.
Rika melihat anaknya tidak menyentuh makanannya sama sekali melipat dahinya. "Aksa, kenapa makanannya enggak dimakan?" tanyanya.
"Enggak lapar," jawabnya.
Jordan melihat ada gelagat aneh dari saudaranya itu langsung saja berbisik di telinga Aksa, "apa ada yang sakit?" tanyanya.
"Tanganku lemas," bisik Aksa.
"Aku suapi?"
"Enggak usah," tolak Aksa halus.
"Apa perlu kakek menyuapi dirimu agar kau mau makan!" seru Richard dingin.
Aksa menggeleng kepalanya ia mencoba memegang sendok walaupun sedikit gemetar, Aksa memakan makanannya perlahan, ia cuma makan beberapa suap saja karena ia tidak bernafsu makan.
"Sudah selesai? David ayo bicara," seru Richard beranjak bangkit.
Richard berjalan keluar dari ruang makan dan David segera menyusul ayahnya itu.
"Menurutmu apa yang akan kakek bicarakan dengan papi, Aksa?" tanya Jordan dengan berbisik.
"Aku tidak tahu apa yang akan mereka bahas, namun aku yakin itu pasti sesuatu yang sangat penting sampai membuat kakek pulang, bahkan dia tidak ada melihatku kemarin di rumah sakit," jawab Aksa dengan nada datar.
...****************...
Tuan besar Wijaya duduk di atas dengan kaki menyilang, ia duduk begitu tenang lalu melemparkan beberapa foto di atas meja.
David langsung melihat dan betapa terkejutnya ia melihat wajah yang ada di foto. "Apa maksudmu ayah?" tanyanya menatap lekat Richard.
"Dia adalah gadis yang ingin aku jodohin dengan Aksa sebelumnya," jawabnya.
"Jadi kau mengenal gadis ini beserta keluarganya?"
"Tentu saja aku tahu. Dia adalah Katya Angelina Wilson putri dari James dan Irene," ucap Richard tersenyum miring.
"Dan kau juga tahu ayahnya adalah penyebab Aksa lumpuh," pekik David menampilkan urat-urat wajahnya.
"Itu bukan salah Katya maupun ayahnya, kecelakaan itu sudah takdir," ujar Richard logis.
"Bagaimana bisa kau mengenal mereka? Ayah tidak lupa apa yang Irene perbuat beberapa tahun lalu kan?"
"Aku tidak akan lupa dengan hal itu. Kau mau tahu bagaimana aku bisa berhubungan baik dengan mereka?"
David tidak memberikan respon apapun ia cuma berdehem.
"Aku bertemu dengan James pertama kali adalah ketika aku memeriksa jantungku dan dia dokter yang menangani aku," ujar Richard.
"Terus dari sana kalian berhubungan baik gitu?"
"Ku rasa iya, bagaimanapun itu masa lalu dan kalian sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing."
"Kenapa kau ingin menjodohkan Aksa dengan putrinya?" tanya David dengan dahi terlipat.
"Aku ingin dengan perjodohan ini hubungan kita yang buruk bisa berubah menjadi baik," jawabnya lugas.
David mengambil nafas lalu menghembuskannya, "ayah, apa kau bisa mengatur pertemuan dengan Katya?" tanyanya spontan.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Richard balik.
"Aku ingin menyelamatkan harga diri keluarga kita dengan pernikahan antara Katya dan Aksa," ucap David.
"Kenapa kau bisa kepikiran sampai sana?"
"Aku sudah memikirkannya secara matang, aku akan meminta Katya mempertanggung jawabkan perbuatan ayahnya. Jika dia tidak mau maka aku akan terus menekannya hingga dia setuju," papar David dengan seringai.
"Kau tidak akan menyesal menjadikan Katya sebagai menantu keluarga ini," balas Richard tidak kalah dengan seringai tajam.
"Aku akan membicarakan ini terlebih dahulu dengan istriku, baru aku bicara dengan Aksa," ucap David.
"Sebelum bicara dengan mereka lebih baik beri pelajaran buat keluarga Fani," ujar Richard dingin.
"Kita akan berikan mereka pembalasan tapi tidak sekarang, aku akan memberi mereka kehidupan tenang untuk beberapa saat lalu aku hancurkan hidup mereka," jawab David tersenyum smirk.
"Buat mereka terbang setinggi langit lalu hempaskan," ucap Richard terkekeh kecil.
...----------------...
Seorang wanita paruh baya yang sedang menyiapkan pemanggangan dan juga meracik bumbu mengunakan rempah-rempah.
Seorang gadis dengan rambut coklat terurai dengan tangan memegang alat pancing, ia duduk dan fokus pada alat pancingnya sampai bergoyang, ia segera memutar kailnya dan menariknya dan betapa masam wajahnya melihat apa yang baru saja dia tangkap.
"Kak itu udah sepatu yang ke berapa?" goda seorang anak kecil.
"ke seratus puas," balasnya ketus.
"Lihat ember Kevin udah penuh sama ikan, sedangkan kakak masih kosong," ledek Kevin menjulur lidahnya.
"Kita lihat nanti, kakak pasti akan menangkap ikan besar," balas Katya bersemangat.
"Bukannya dapat ikan malah dapat sampah nanti," balas Kevin.
Di hari cerah Katya, Kevin dan ibu Wati pergi memancing di sebuah sungai yang berada di tengah hutan yang tidak jauh dari rumah mereka.
Air sungai yang jernih dengan batu-batu besar mengeliling dan rumput-rumput halus yang mereka duduki.
Katya merasa bosan menunggu ikan yang tidak mau muncul dan memakan umpannya, Katya memilih membiarkan kail tergeletak begitu saja ia menghampiri ibunya.
"Ibu, aku sangat bosan menunggu ikan," ujarnya memeluk pinggang ibu Wati dari belakang.
"Kau memang tidak berbakat dalam hal memancing Katya," balasnya terkekeh.
"Kevin sudah sering pergi mancing bersama tuan dulunya," ucap Wati dengan tersenyum kecil.
"Papa dulu sering pergi mancing sama Kevin? kenapa aku tidak tahu?"
"Mereka sering pergi sebelum Kevin masuk sekolah dan alasan mereka tidak mengajakmu bukannya kau harus sekolah," papar ibu Wati.
"Kenapa harus mancing waktu hari biasa? kenapa enggak weekend pasti aku bisa ikut," decak Katya.
"Bukannya tuan adil, dia memberikan kasih sayang sesuai porsi masing-masing," ujar Wati.
"Maksud ibu?" tanya Katya mengerut keningnya.
"Kevin sangat menyukai memancing dan berpetualang makanya tuan sering mengajaknya touring. Leon sangat menyukai billiar dan permainan bola lainnya sehingga tuan sering bermain basket waktu weekend, dan kau Katya tuan tahu kau sangat menyukai belanja makanya tuan rela menemani dirimu berbelanja walaupun itu sangat membosankan," papar ibu Wati tersenyum sedih.
"Mengapa aku tidak memikirkan seperti itu? Aku sepertinya egois ingin semua perhatian papa tertuju padaku," ucap Katya terkekeh perih.
"Wajar seorang anak ingin semua perhatian orang tuanya tertuju padanya, tapi kita juga tidak boleh egois dengan ingin menguasainya," balas Wati mengusap pundak Katya.
"Kakak bantu aku," teriak Kevin.
Katya segera berlari kecil menghampiri Kevin, ia segera merampas pancing di genggaman tangan Kevin, Katya memutar kail dengan gesit lalu menarik kail ke arah atas dan menampilkan seekor ikan
"Hore dapat ikan besar," sorak Kevin riang dengan melompat.
"Kita berhasil Kevin," seru Katya tidak kalah riang berputar.
Ibu Wati menarik senyum lebar dan menggeleng kepalanya melihat kegirangan anak-anaknya.
"Katya, Kevin, sudah cukup mancingnya. Waktunya kita bakar ikan itu," seru ibu Wati.
Katya mengangkat satu ember yang berisikan ikan, mereka berjalan ke arah ibu Wati yang sedang memanaskan panggangan.
"Ibu, ikan ini diapakan?" tanya Katya meletakkan ember tersebut.
"Dicuci," jawabnya.
"Enggak langsung dibakar? Emang harus dicuci?" tanya Katya polos.
__ADS_1
"Katya tentu saja ikan itu harus dibersihkan dulu, ikan itu bersisik dan amis," pekik Wati menepuk jidatnya.
"Aku pikir langsung dibakar."
"Kau memang harus belajar memasak, bagaimana nanti suamimu makan jika kau tidak pandai masak," omelnya.
"Aku tidak akan menikah, aku akan selalu bersamamu ibu," ujar Katya memeluk ibunya.
"Kau ini," ucapnya memeluk punggung Katya.
Kevin memasang wajah cemberut ia melipat kedua tangannya, lalu menghampiri mereka Kevin melepas kasar tangan Katya dari ibu Wati.
"Menjauh dari ibuku," ucap Kevin ketus.
"Enggak, dia juga ibuku," balas Katya memeluk ibunya kembali.
"Dia cuma ibuku, ibu cuma milik Kevin," sungutnya.
"Kalian berhenti bertengkar, ibu adalah ibu kalian," ujarnya terkekeh.
Kevin masih memeluk ibunya posesif, ia berdengus kesal melihat Katya menjulurkan lidahnya mengejek dirinya.
"Ibu, lihat kakak mengejekku," adu Kevin.
"Dia bohong, padahal dari tadi aku diam," elak Katya.
"Katya, Kevin, daripada kalian bertengkar lebih baik kalian membakar ikan-ikan ini," ucap ibu Wati dengan jari menunjuk ember berisi ikan.
Katya dan Kevin berdengus kesal, Katya mengangkat ember ikan itu dan membawanya untuk dibersihkan.
Kevin membantu ibunya memanggang sosis, ia cuma mengoles saus pada bagian sosis dan membalikkannya saja.
Katya membersihkan sisik ikan kasar dan terus mengomel, "Kevin yang nangkap kok aku yang bersihkan, ih sebel," gerutunya.
Selesai membersihkan ikan Katya membawa ikan itu lalu memberikan ke ibunya.
"Terimakasih Katya," ucap Wati.
"Sama-sama Bu," balasnya.
Katya membantu ibunya mengoles bumbu pada ikan terus dipanggang, dan sesekali ia akan mengoles bumbu lagi pada ikan. Ikan siap dipanggang dan disajikan di atas piring.
Mereka makan ikan bakar tersebut didampingi dengan nasi dan sambal pedas buatan ibu Wati.
"Ibu ini lezat sekali," ujar Kevin menggoyang kecil kepalanya.
"Tentu saja enak kau tinggal makan," sungut Katya mencolek sambal.
"Pada kakak enggak dapat ikan sama sekali," balas Kevin.
"Jika bukan aku yang panggang ini ikan kau juga enggak akan bisa makan," balas Katya berdengus kesal.
Ibu Wati cuma bisa menghela nafas kasar, "udah jangan ribut! kalian coba satu hari aja tidak ribut enggak bisa apa," keluhnya.
"Enggak!" jawab mereka kompak.
Ibu Wati menepuk jidatnya, "giliran gini baru kompak sisanya ribut terus," omelnya.
Mereka melanjutkan acara makan mereka yang sempat tertunda karena adu mulut tadi, selesai makan Katya dan Kevin membantu membereskan semua perlengkapan yang mereka bawa.
Katya memasukkan semua barang ke bagasi mobil, "ibu, Kevin, ayo masuk," serunya sedikit nyaring.
Kevin dan ibunya segera masuk ke dalam mobil, Katya pun juga masuk, ia menancapkan gas mobilnya pergi dari hutan sebelum matahari terbenam.
"Kakak, ibu, kapan-kapan kita pergi mancing lagi," ujar Kevin.
"Baiklah, sesuai yang kau inginkan," jawab wati mengelus pucuk kepalanya.
"Kapan-kapan kita coba berkemah di tengah hutan bagaimana?" tanya Katya.
"Enggak," balas mereka bersamaan.
"Kok enggak? Padahal asik tahu kemah di hutan," ucap Katya berdengus.
"Bagaimana jika ada hewan buas yang akan menyakiti kita waktu kita kemah," lontar Kevin.
"Kita bukan berkemah di hutan liar Kevin. Kita akan kemah di hutan yang dikhususkan untuk berkemah," papar Katya.
"Kakak enggak bilang, Kevin pikir hutan lebat," ujarnya mengerucutkan bibirnya.
"Bilang aja kau penakut," sungut Katya tersenyum miring.
__ADS_1
"Enggak, aku pemberani," lontarnya menyilang tangannya.
Perjalanan pulang ke rumah diisi dengan keributan antara Katya dan Kevin yang tidak mau kalah dan ibu Wati cuma bisa menggeleng kepalanya melihat tingkah mereka berdua.