
Karena ada kehadiran motor baru di dalam kehidupan nya membuat Pinky jadi lebih semangat untuk berangkat kesekolah pagi-pagi sekali bahkan lebih pagi dari sebelum nya.
Dengan hati-hati Ia membawa motor dari rumah menuju sekolah beruntung nya dari pihak telkomsel juga membuatkan sebuah sim untuk nya jadi Pinky tidak perlu repot-repot membuat sim.
Setelah sampai Pinky langsung memarkirkan motor nya di parkiran pertama. Lalu dengan langka cepat dan bersenandung riah ia bernyanyi menuju kelas.
Seketika Pinky terkejut di saat melihat seorang cowok yang begitu di kenal nya dengen santai duduk di atas meja belajar nya sembari melipat kedua tangan dan menatap intens Pink yang masih berdiri di ambang pintu kelas.
Gadis berkaca mata bulat itu mencoba mencubit kedua pipi nya berharap itu semua mimpi.gak mungkin kan Regan sang penguasa sekolah datang sepagi ini apa lagi lebih pagi dari nya.
Di kira nya bukan mimpi Pinky pun mencoba bertanya."Kamu kok ada di kelas ku, kan ini bukan kelas kamu?" tanya Pinky yang mencoba akrab.
"Jangan sok-sok deket sama gue lo, sekali nya sampah lo tetap aja sampah jadi gak pantes buat lo sok akrab sama gue!"
Deg. Kata-kata itu kembali menusuk di relung hati Pinky, seakan menyayat hati nya.
"Bisakah kamu jaga ucapan mu, aku bukan lah sampah aku sama seperti mu"
Regan maju perlahan menyamai posisi Pinky.
"Chihh, sama lo bilang? Cepet bangun dari mimpi lo. woy kita berbeda kasta kita tidak sama elo miskin gue kaya, gue punya segala nya dan elo enggak punya."
Pinky hanya bisa mengganti amarahnya dengan seulas senyum meski kedua tangan tenga mengepal.
"kamu benar aku memang tidak memiliki segala nya seperti kamu dan papa kamu miliki, tapi aku masih punya harga diri yang tentu nya lebih mahal dari apapun."
"Sok bijak! sok nyeramahin." Regan dapat melihat jika tangan mungil milik Pinky seling mengepal.
''Punya nyali juga loh, mau nonjok gue yah, atau mau nampar gue kayak kemaren di saat elo nampar gue. Masih inget kan."
"bisa gak sih sekali aja jangan ganggu ganggu aku lagi, bahkan aku tidak bermaksud untuk mengganggu kamu lagi tolong jangan libatkan aku dalam bullyan kalian bisa kan"
__ADS_1
"Gak bisa dong, karena apa yang telah lo perbuat itu harus ada ganjaran yang setimpal,"Ucap Regan tersenyum sinis.
"Sebelum nya maaf aku benar-benar tidak tau jika malam itu kalian mengadakan balapan dan aku sungguh tidak bermaksud untuk membuat mu kalah dalam pertandingan dan soal ci____"
Pinky mengurungkan ucapan nya di saat suara seekor kucing yang sangat kenal nya terdengar jelas mengeong seperti di sekitar sini.
"Puss" Pinky melewati Regan begitu saja di saat ia melihat seekor kucing kecil yang waktu itu berada di bawah meja nya. Ia mengeong nyaring di dalam sebuah kurungan kecil bewarnah putih yang sesuai dengan warna bulu nya.
"Akhirnya aku menemukan mu puss, tapi siapa yang membawa mu kemari puss? apa mungkin," Pinky menoleh pada sosok cowok yang masih setia berdiri di depan.
''Gak mungkin gue. gue alergi terhadap bulu kucing." ucap nya dingin setelah itu ia menghilang setelah melewati pintu utama.
REgan pulang ke rumahnya dalam ke adaan marah besar, yah ia sangat marah karena kekalahannya malam ini. bahkan hp yang baru seminggu ia beli sudah ia banting begitu saja mungkin ini sudah yang ke sepuluh kali Regan berganti hp.
"Bik! bik!Bik Dira!"
"Eh i iya den Regan ada apa yah!" Tanya bik Dira selaku pekerja rumah tangga di rumah besar Regan.
Mata bi Dira sangat awas sehingga ia dapat melihat di mana hp Regan tergeletak di lantai dan di bagian layarnya sudah retak parah.
"eh baik den Regan laksanakan."
Regan merebahan dirinya di sofa ruang tamu, ia memijat pelipisnya, perlahan Regan memegang wajahnya yang masih terasa hangat dan perih.Berani sekali cewek cupu itu menampar wajah gantengnya. Regan beralih memegang bibirnya, kemudian ia flashback, ia pun membuyarkan lamunannya.
"Den Regan...Den..."Bik Dira sentenga berlari menghampiri Regan kembali sambil membawa kucing berbulu putih di gendongannya.
"Aduuh bik apa sih!"
"Den Regan beli kucing yah,"
Regan dapat melihat seekor kucing yang di gendong bik Dira. awalnya ia tidak ingat,tapi lama lama Regan ingat bahwa itu kucing yang waktu sama sih cewek cupu, tapi kok bisa ada sama dia.
__ADS_1
"oh itu kucing temen bik,udah masukin aja ke kandang bik eh bila perlu kasih makan dulu aja deh."
"Kandang yang mana den?"
"Itu lo bik kandang bekas hamster aku dulu,masukin situ aja nanti aku mau balikin ke sang pemilik sah."
"Oh baik den kalo gitu, tapi den kucingnya cantik yah pasti sang pemilik juga cantik,"
Regan tertawa simpul.Ia mengumpat dalam hati."Cantik dari mana coba di usahain lihat pakek sedotan aja gak bakalan jadi cantik tu cewek."
"Udahlah bik, terus jus mangga sama pizza aku mana?"
"oh iya den, maaf bibik lupa. kalau gitu nih den Regan pegang dulu kucingnya yah."
"eh eh bik."Kini kucing berbulu putih itu ada di pangkuan Regan, bik dira berlari ke dapur begitu saja.
pinky menangis saat pulang ke rumahnya, di situ ada ibunya menunggu. "Lo loh Ki kamu kenapa kok nangis,"
"Ibuu,hiks." Pinky bersandar di pelukan sang ibu.
dapat di rasakan seluruh tubuh Pinky menghangat,rambutnya acak acakan.Pinky ingin menceritakan kenapa ia jadi seperti ini, tapi itu tidak mungkin.
"Ki kamu kok diam, kamu kenapa siapa yang udah bikin kamu nangis kayak gini?"
sejenak Pinky melepaskan diri dari dalam pelukan ibunya."Buk, maafnya aku gak sempet pulang bawak gula, tadi sih sebenarnya udah Pinky beli tapi saat di persimpangan ada anjing gila makanya aku lari karena ketakutan. yaudah deh gula yang aku bawak gak sengaja jatuh"
"Ya ampun Astaga tapi kamu gak apa apa kan nak, maaf yah ibu udah bikin kamu kayak gini." Ibu Pinky kembali membawa Pinky ke dalam pelukan nya.
"Tapi gula ibu.."
"Udah gak usah khawatir,gak apa apa"
__ADS_1
"Tapi nanti ibu gak bisa bikin jus jambu lagi jam 5 subuh."
"iiya Ki udahlah besok juga kayaknya ibu oof dulu jualan nya. untung yah kamu tuh gak kenapa napa."