
Ini adalah hari kedua Pinky masuk kesekolah. Awalnya ia sangat tidak mempunyai niat untuk masuk ke sekolah karena kejadian semalam, kalau bukan demi ibunya maka ia akan lebih memilih pindah saja lagi ke sekolah lain.
Pinky berangkat kesekolah dengan berjalan kaki berbanding dengan mereka yang datang ke sekolah dengan kendaraan mewah. Ia menatap gugup kesekelilingnya ia merasa canggung.
Entah kenapa semua seakan aneh ketika ia menjejakan langkahnya di sekitar koridor, orang-orang berjalan kearah nya menatap dirinya lekat sambil berbisik-bisik, lalu ada sebuah suara dan entah dari mana asalnya.
"Pinky sih cewek liar",
"Pinky bukan cewek polos."
Semua mata langsung tertuju padanya, seketika mereka tertawa seakan-akan ada hal yang pantas untuk di tertawakan.
Pinky masih kurang paham atas situasi aneh yang terjadi pagi ini, ia hanya bisa menundukan kepala sambil terus berjalan beberapa kali ia berpapasan dengan orang-orang mereka juga menyebutkan hal yang sama. Ada apa sebenarnya? dan apa yang telah terjadi?
Manik hitam Pinky sedikit teralihkan saat melihat sebuah pemandangan di hadapannya saat ini. Ada beberapa kerumunan orang memperhatikan pada papan pengumuman. Entah mengapa ia tertarik untuk melihatnya, saat Pinky melihat dengan berdiri di belakang orang-orang itu keadaannya awalnya mulai ricu tersaat semuannya menjadi hening. Semuanya menatap kearah Pinky sambil berbisik-bisik bahkan ada pula yang tertawa, sampai pada akhirnya mereka semua memutuskan untuk bubar meninggalkan Pinky sendiri.
Pinky sekarang paham mengapa orang-orang itu menyebutnya sebagai gadis liar. Ia menggigit keras bibir bawahnya yang bergetar memperhatikan sebuah poster berukuran besar di papan mengumuman di dalam poster itu terlihat jelas foto dirinya dan juga Regan tenga berciuman dan di bawahnya bertuliskan. ''JIKA KALIAN MELIHAT KU, PANGGIL AKU SIH CEWEK LIAR"
Gadis mungil itu bergetar menghela nafasnya, ia tidak boleh menangis. Kedua tangannya saling mengenggam erat, menahan tangis yang seakan pecah. Baru saja tanganya ingin melepas poster itu, sebuah tangan tiba-tiba menariknya.
"Ikut Gue!" ucap suara itu terdengar dingin.
Pinky merasa pergelangan tangannya seakan memerah karena Regan menarik tangannya dengan cengkraman kuat.
"Apa yang kamu lakukan lepaskan aku!"
Namun Regan tidak memperdulikan suara itu, dan tibalah mereka di atas balkon atap sekolah. Balkon sekolah di lantai 4 selalu terlihat sepi, dan balkon itu sendiri adalah tempat di mana Regan menghabiskan waktu untuk menyendiri.
Pinky memperhatikan sekelilingnya, jujur rupanya ia memiliki Trauma dengan ketinggian. Ia menatap Regan dengan was-was dan sedikit gemetar.
"Untuk apa kamu membawa aku ketempat seperti ini?Tanya Pinky sebari berusaha melepaskan tangan Regan dari tangannya namun masih tidak terlepas.
__ADS_1
Seketika itu pula Regan langsung menghempaskan tangan itu dengan hentakan kuat, lalu setelanya ia juga mendorong tubuh Pinky ketembok pembatas pagar dan menghimpit kedua bahunya dengan kedua tangan.
''Auwhh!" Pinky meringis kesakitan sambil terisak.
"Sekarang coba lo jujur sama gue apa benar jika elo adalah orang suruhan nya Arnold untuk bisa ngalahin gue dalam pertandingan semalam! jawab gadis jelek!"
Suara berintone milik seorang Regan cukup membuat nyali Pinky menciut, Pinky menangis sejadi-jadinya namun apa daya, cukup ia akui bahwa dia merupakan gadis yang lemah.
"Tidak! kamu salah paham aku sama sekali tidak mengetahui pertandingan kalian hiks tolong jangan salahkan aku mohon"
"gak usah pakekĀ buang air mata kebohongan di depan gue, padahal gue sangat paham jenis cewek kayak lo. Dan sekarang seneng kan loh mendapatkan ciuman dari Gue."
Regan berucap sebari mendekati wajah nya 1 cm di depan wajah Pinky, rupanya sedari tadi ia memperhatikan bibir cerry milik Pinky mungkin Regan masih mengingat bekas ciuman semalam.
Gadis itu merasa kedua bahunya terasa amat sakit, ternyata kedua tangan Regan mencengkram ia dengan sangat kuat. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menunduk demi menghindari tatapan tajam itu.
Regan membuang jauh pikiran itu, ia tidak boleh tergoda dengan bibir cerry milik sih cewek cupu yang jelek ini. Pada akhirnya ia melepaskan cengkraman tangannya dari kedua bahu itu dan kemudian melangkah berencana ingin meninggalkan tempat ini,
baru 2 langkah ia melangkah ia pun memutar balik badannya melihat kembali seorang gadis yang tenga menangis sambil Memegang kedua bahunya.
Pinky berusaha kuat, dan ia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Regan terhadapnya. Apa harus ia kabur dari sekolah itu agar ia tidak berurusan dengan Regan dan semua penghuni sekolah ini, tapi itu sangat tidak mungkin.
Setelah turun dari balkon sekolah dengan perasaan yang masih terbilang emosi, Regan melepas semua poster dari papan pengumuman, ia pun meremukan nya menjadi seperti bulatan yang sangat kecil. Semua orang di sana memperhatikannya dengan deretan tawa dan bisikan yang tersembunyi. Regan menatap semua dengan rasa tidak suka.
"Berani kalian semua sama gue! ngetawain gue! Apa kalian semua ngerasa udah hebat karena udah ngebuat gue malu!" Ucap Regan dengan emosi.
Semua orang yang tadi menertawakannya, alhasil menjadi diam dan tertunduk.
Regan sangat malas berhadapan dengan orang-orang seperti ini, hanya membuang waktunya saja dan akhirnya pun ia melangkahkan kaki panjangnya menuju kelas Arnol karena ia sangat tau jika mereka lah menyebarkan semua poster tentang dirinya.
Arnol berada di kelas 12 IPA 2 sedangkan Regan berada di kelas 12 IPA 1, masih di penuhi dengan nada amara dan tentunya ia masih menggenggam erat itu, setelah itu
__ADS_1
ia langsung masuk saja ke kelas Arnol kemudian tanpa aba-aba Regan melempar bulatan poster itu pas di wajah nya Arnol.
Bukanya malah marah atau membalas Arnol disini malah tertawa seperti meremehkan Regan.
"Hahahaha rupanya lo cukup terlihat sangat senang, bagaimana apakah lo suka dengan kejutan yang gue beri harusnya lo tau itu lakukan khusus menyambut kekalahan lo, iya kan guys." kedua teman Arnol ikut tertawa menundukung apa yang telah ucapkan Arnol. Sebut saja Dandi dan Martin.
Regan merasa tidak terima dengan apa yang telah di ucapkan oleh musuhnya satu
Ini. Akhirnya ia menarik kencang kerah seragam sekolah Arnol.
"Sialan! kekalahan gue semalam hanya sebuah kecurangan yang elo buat kan, gue sangat tau jika elo yang suruh cewek cupu itu buat jebak gue!"
Arnol rupanya masih terlihat tenang, ia sepertinya sengaja memancing amarah Regan.
"Oh iya kalau iya kenapa bagus deh kalau elo udah tau. Gimana enak kan bisa ciuman sama sih cupu itu, bisa di liat malam itu sepertinya elo sangat menikmatinya Lalu kenapa gak lo boking aja untuk satu malam." Sebenarnya Arnol sedang berbohong, bahkan ia sama sekali tidak melibatkan gadis cupu itu dalam malam itu dan ketika Regan menuduhnya jika dia telah menyuruh Pinky menjebaknya Regan jadinya Arnol memiliki rencana melibatkan seorang Pinky dalam prilaku kasar Regan.
BUGGG
satu pukulan yang teramat kuat berhasil mendarat di pinggiran bibir Arnol.
"kurang ajar! dan ternyata bener kan jika lo bersekutu dengan sih cupu itu! sialan! bajingan! selicik ini kah permainan elo!"
Seketika kelas menjadi rusuh, Dandi dan Martin segera membantu Arnol yang tersungkur akibat mendapat pukulan dari
Regan.
"Arl mari sini gue bantu," ucap Dandi.
Arnol menolak uluran tangan Dandi dan ia
Langsung menatap Regan serta menyeringai.
__ADS_1
"Chii benar kan dugaan gue jika lo menyukai jenis hal seperti itu!" kata Arnol sebari menghapus jejak darah di pinggir bibirnya dengan jari tangan.
Emosi Regan benar-benar tidak terkontrol ia ingin meluncurkan tinjunya lagi pada Arnol dan seketika sebuah tinju itu berhentih di udara tersaat seorang guru bk memergoki perkelahian itu.