Terpikat Pesona Cewek Cupu

Terpikat Pesona Cewek Cupu
Mereka Mendapatkan Hukuman


__ADS_3

"ini semua gara-gara ulah kalian berdua tau gak,  gue sama Pinky jadi berjemur panas-panasan terus ngalungin papan nama kayak gini!" Lizia menggerutu menyalahkan Arnold dan Juga Raiska sebagai biang kerok.


"Jangan salahin gue. Tuh salahin temen loh yang kampungan itu, sok kegenitan. Gue yakin pasti dia pakek ilmu pelet kan makanya pacar gue Arnold jadi bucin sama dia!"


Pinky tidak habis pikir Raiska berpikir jauh seperti itu bicara tentangnya, padahal itu tidak sesuai fakta.


"tuh mulut emangya kagak pernah di sekolahin yah. Berani banget lo ngatain temen gue pakek ilmu pelet supaya bikin cowok lo jadi bucin,yang ada cowok loh aja tu yang kegenitan."


"Kenapa lo yang jadi marah kan gue bicarain temen loh itu, atau jangan-jangan elo kesinggung yah karena elo juga pakek ilmu pelet?"


Sih Raiska ini benar-benar mampu memanas-manasin seorang Lizia. Sudah cukup sebuah hukuman yang di berikan buk Shella pada mereka berdiri panas-panas di lapangan upacara dengan mengalungkan papan nama bertuliskan *SAYA BERJANJI TIDAK AKAN MEMULAI KERIBUTAN LAGI*  dia tidak mau menambah hukuman lagi bila ia sampai bermain tangan dengan Raiska,  jika ini bukan area sekolah maka detik ini juga ia akan membungkam mulut Raiska dengan tinjunya.


"Zia sabar yah jangan sampai kamu kebawa emosi," Dengan lembut Pinky menasihatin.


"ini semua gara-gara elo Raiska, coba aja elo tadi gak bikin masalah pakek acara nginjek-nginjek coklat dan buket gue segala. Dasar cewek perusak suasana! " Arnol menimpalin dengan menyalahkan Raiska.


"Gak sepenuhnya salah gue Sebab elo yang mulai semuanya duluan Arl," Raiska tidak mau kalah.


"gue kan udah bilang kita gak ada hubungan apa-apa lagi Jadi elo jangan ngimpi bisa pacaran sama gue lagi!"


"tapi setidaknya gue butuh alesan kenapa elo tiba-tiba mutusin gue?"


"Elo tau sendiri kan Raiska sekarang bagaimana bejatnya seorang Arnold Dwi Anggara yang gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba mutusin hubungan dengan lo secara sepihak dan lebih memilih sih cupu." ujar Regan yang tiba-tiba datang ikut mencampurin urusan mereka.


"Elo ngapain pakek dateng kesini segala, bukannya ini masih jam pelajaran. Oh atau jangan-jangan elo juga mau ikutan di hukum seperti kita." Kata Arnol.


Lizia menggelengkan kepala bingung akan suasana yang seakan semakin panas. Ini lah detik-detik hukuman mereka akan bertambah dua kali lipat.


Berjemur di bawah terik matahari adalah hukuman pertama seumur hidupnya bagi Pinky, selama di sekolah lama ia tidak pernah mendapatkan hukuman seperti ini.


"Raiska coba aja waktu itu elo pilih gue aja di banding cowok playboy kayak dia. Bisanya cuma matahin hati cewek tanpa penjelasan, itu namanya banci!" Regan bermaksud memanas manaskan Arnold.

__ADS_1


Arnold tidak suka di bilang banci, ia marah dan hendak memukul wajah Regan tapi di tahan oleh Dandi dan juga Martin.


"Arl udah gak usah cari keributan nanti yang ada hukuman kita makin nambah"


"Iya Arl inget gak, tadi buk Shinta bilang kalau kita ngulangin keributan lagi hukuman kita bakalan di tambah dua kali lipat. "


Raiska seketika memeluk Regan. "hiks hiks makasi yah Regan setidaknya elo udah ngertiin perasaan gue, elo bener rupanya Arnold bukan yang terbaik untuk gue."


Regan tidak berniat membalas pelukan Raiska, pelukan ini terasa tidak begitu nyaman baginya. Tatapan Regan beralih Pada tatapan Pinky yang sedang melihatnya dengan penuh tanda tanya.


Pinky menghela nafas pelan, ada perasaan aneh di lubuk hatinya, ada perasaan rasa ketidak sukaan ketika Raiska memeluk Regan. Pinky tidak ingin mengambil resiko dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.  Tidak mungkin ia punya perasaan pada cowok yang sudah menyakiti perasaannya. Tanpa sengaja ia melihat Regan yang juga menatapnya balik, cepat-cepat Pinky membuang pandangannya kearah lain.


"Yaah malah main peluk-pelukan gak tau malu banget sih, kalau mau pelukan mending noh di dalem toilet." Lizia berkomentar pedas.


Raiska marasa geram tapi masih betah memeluk Regan, dengan terpaksa Regan melepas Raiska yang memeluknya.


"Nol elo gak liat Raiska meluk sih Regan emang elo enggak cemburu?" Tanya Dandi.


"ngapain gue cemburu lagian gue malah seneng karena Regan suka sama cewek yang sekenan alias bekas gue" Ini adalah cara yang ampuh untuk membalas perkataan Regan.


"Gue gak perduli yang penting gue udah dapet pengganti elo yang jauh lebih menarik dari semua cewek termaksud elo,"


Pinky reflek tiba-tiba Arnold merangkul bahunya. Arnold menatap lekat manik hitam Pinky.


Lizia melotot Arnold benar-benar kelewat batas.


"Pinky sih cupu yang sering kalian bully ini ternyata dia lumayan cantik juga coba bayangin kalau dia tanpa kaca mata dan rambutnya tidak di kepang dua.."


"kamu apaan sih!" Pinky menjauh kan dirinya dari rangkulan Arnold. Merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu.


Lizia bicara dalam hatinya. *Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan Arnol, di suatu sisi memang benar jika Pinky lebih cantik kalau kaca matanya di lepas, tapi dia tau dari mana.

__ADS_1


Raiska menjadi lebih kesal dengan kalimat teakhir Arnold,  matanya tertuju pada Pinky. Perlahan Raiska mencengkram rahang Pinky dengan jemarinya, Pinky meringis kesakitan di saat kuku tajam Raiska menyentuh kulit wajahnya.


"Model kayak gini elo bilang menarik Arl. menarik dari mananya coba yang ada wajahnya ini buruk rupa!?


"Raiska elo gila, lepas gak!'' Ujar Lizia yang tidak suka akan perlakuan Raiska ke pada temanya.


"kenapa Lizia elo marah jika wajah temen lo ini rusak, kalau rusak pun ggak masalah kan, memang dia jelek."


"Raiska! Cukup hentihkan!" Regan menghentikan aksi Raiska agar tidak mengusik Pinky lagi. Di saat Saat Raiska lengah Lizia langsung mendorong bahu Raiska hingga Raiska mundur beberapa langkah.


Arnold dan dengan siap siaga memeriksa bagian rahang Pinky yang terbekat oleh kuku tangan Raiska. 


"Kuku lo tajem banget sih! lihat tuh nyampe berbekat dan merah gini."


"Regan elo apaan sih pakek cegah gue buat beri nih cupu pelajaran,"


"Gue cuma kasih saran ke elo Ris, lebih baik jangan kotorin tangan lo dengan menyentuh cewek kampungan dan cupu kayak dia." Regan menunjuk Pinky, manik hitam Pinky melihat Regan penuh kebencian. Regan melanjutkan kalimatnya, Regan nampak terlihat senang melihat Gadis berkaca mata itu menatapnya dengan aura ketidak sukaan.


"elo kan cantik apalagi elo primadona di sekolah kita jadi gak mungkin kan kecantikan elo ada yang ngalahin, harusnya elo paham kelas lo dan sih cupu sangat berbeda kasta."


Raiska tersipu malu."Elo bener juga yah gan, ngapain juga gue percaya omongan Arnold dan gue yakin dia hanya buta gak bisa bedain mana yang menarik dan mana yang enggak"


Arnold merangkul Pinky kembali, Ini membuat Pinky tidak tahan. Lagi-lagi ia menepis tangan Arnold yang mencoba merangkul bahunya.


"Udah cukup! Bisa gak sih kamu gak usah ngelibat kan aku dalam hubungan kalian! Bisa gak sih kamu berhentih mengakui aku sebagai pacar kamu..., padahal aku gak ngerasa kita punya hubungan!" ucap Pinky tegas kepada Arnold.


Arnold Diam tidak bisa menjawab. Kali ini Pinky melihat Regan dengan tatapan tajam.


"Kamu Regan! Yah aku tau, aku memang orang miskin, tidak cantik, tidak menarik dan tidak sepuler Raiska," Mata Pinky berkaca ia tau air matanya akan mengalir detik ini juga.


"Bisa gak sih kamu menghargai seorang wanita seperti kamu menghargai ibu kamu_"

__ADS_1


"Stop!! Jangan pernah membahas tentang seorang ibu di depan gue sebab elo gak bakal tau apa arti seorang ibu dalam kehidupan gue! Dengan elo bicara seperti itu, elo pikir gue bakalan simpati, gue bakalan kasihan hah!!" Regan membentak, ia t terlihat tidak suka ketika Pinky berbicara tentang sosok ibu.


Air mata Pinky kini mengalir dengan sendirinya, mengapa ia terlihat sangat lemah saat di bentak Regan. rasa sakit muncul di benanya. Lizia paham kenapa Regan sangat marah seperti ini, Lizia tau jika Regan memiliki masalah dengan ibunya di saat ia masih kecil.


__ADS_2