
Mami Cindy atau mamanya Arnold sedang santai duduk di kursi di atas balkon sambil membaca majalah.
"Kerjaan mu ini hanya membaca dan membaca saja apa kau tidak melihat jika tempat tidur mu belum di bereskan!"Tegur Bukde Maya selaku kakak ipar dari almarhum suaminya Cindy.
"Aduuh mbak udahlah biarin aja palingan ijah pembantu kita sore ini pulang,"Ucap Cindy yang saat ini masih terlihat fokus membaca majala.
Bukde Maya dengan sigap merebut majala itu dari tangannya Cindy, kamudian wanita yang masih separu muda itu menduduki bokongnya di kursi samping Cindy.
"Aduuh mbak tu, apa-apaan sih ganggu aja tau gak. Orang lagi asyik baca juga!"
"Coba sekali-kali biasakan dirimu untuk bekerja sendiri membersihkan rumah jangan cuma biasakan pakai jasa pembantu!"Celetuk bukde May.
Cindy pun langsung berdiri dan menggerutu sebal.
"Sore mi,sore bukde!" sapa Arnol saat tiba di rumah pasalnya Arnold tidak ada di rumah tadinya.
"Eh kami sudah pulang Ar,"Ucap bukde saat melihat Arnold yang sudah berdiri di belakangnya.
"Mami sama bukde bisa gak sih sehari aja gak berseturu mulut."
__ADS_1
"Ini loh Ar, bukde mu ini yang cari perkara duluan." ucap Cindy membela diri supaya Arnold bisa memihak pada dirinya.
Tapi langsung saja bukde Maya mencari topik lain.
"Kamu pulang dari rumah sakit sore banget sih Ar, terus gimana keadaan temen kamu?"tanya bukde.
"Hmm syukur alhamdulilah sih keadaanya udah mulai membaik sih bukde dan besok dia di perbolehkan pulang."
"Hooh syukurlah tapi bukde tetep gak nyangka masih aja khasus bullying di sekolah-sekolah hingga separah itu,terus Ar bukde mau tanya?" Kali ini jenis pertanyaan bukde terlihat serius.
"Emangnya bukde mau tanya apa?"Ucap Arnold yang penasaran.
"Aduuh mbak, Arnold ini anak baik-baik jadi mana mungkin dia melakukan bullying di sekolah. Paling itu tu sih Regan anak dari musuh ku itu yang sering melakukan bullying"
"Husst yang aku tanya itu Arnold bukan kamu cindy"
"Ih bukde, bener apa kata mami kan Arnold di sekolah terkenal gak banyak ulah, baik apa lagi sama temen."Kali ini Arnold berkata dengan bohong agar mendapatkan sebuah kepercayaan dari bukdenya ini.
"Baguslah, bukde jadi seneng dengernya."
__ADS_1
Di rumah sakit kini hanya Renita yang menjaga Pinky seorang diri.
"Ki, ibu gak penjarain temen kamu itu semua ibu lakukan atas kehendak mu."Ucap Renita sembari menyuapi Pinky bubur.
"Iya bu, kalau kita penjarain Raiska akan jadi gimana dengan nasibnya bu, sekolahnya,karirnya pasti akan hancur."
"kamu terlalu baik sama orang ki, kalau ibu tau sekolah kamu itu terdapat khasus bully akan lebih baik jika kamu ibu pindahkan kamu aja kesekolah lain yang lebih baik dari sekolah itu."
Mata hazel hitam pekat itu pun membulat saat ibunya berbicara perihal pindah sekolah.
"Bu, jika memutuskan untuk pindah sekolah kan sayang. Tanggung juga, kan bentar lagi aku kelas 3 dan akan lulus,"
Sejenak Renita bernafas tidak tenang, memikirkan nasib malang yang menimpah putrinya.
"Katakan siapa saja orang-orang udah pernah bully kamu di sekolah!"Renita berbicara dengan nafas memburu.
apakah harus Pinky berkata jujur jika orang-orang yang suka membully nya baru saja pulang dari rumah sakit ini yaitu Regan dan Arnold.
Pinky yang terlihat gusar tidak tau harus bicara apa kini hanya bisa meremas sedikit jemarinya.
__ADS_1
"Ki. Kenapa kamu bilang, ayo bicara siapa saja yang pernah bully kamu di sekolah!"