Terpikat Pesona Cewek Cupu

Terpikat Pesona Cewek Cupu
Kedatangan Lizia Teman Baru


__ADS_3

"Apakah seperti ini cara siswa dan siswi yang ada di SMA BUNGA DARMA memperlakukan seorang cewek lemah dengan cara membully!"


Suara menggelegar yang berasal dari ujung pintu kantin dapat membuat semua siswa-siswi itu menjadi kikuk. Perlahan seorang cewek menyeruak masuk ke dalam kerumuan siswa siswi yang sedang menyaksikan hasil kubullyan dari Regan.



"Sial dia lagi." ucap Raiska yang merasa tidak suka.


Regan manaru gelas nya kembali ke atas meja saat ia tau siapa yang datang. Cewek berparas cantik dan memiliki sikap tegas itu pun tanpa di duga langsung membantu Pinky untuk berdiri.


"Ayo gue bantu, bertahan lah para siswa di sini memang tidak memiliki hati" Kata cewek itu sambil menatap mata Regan.


Pinky menurut ia menerima perbantuan dari cewek yang belum ia kenal sama sekali.


"Makasih," ucap Pinky lembut di sertai isakan tangis.


Sih cewek mengambil tissu dan perlahan mulai mengelap wajah Pinky yang berair.


"Gue belum selesai dengan permainan gue, dan elo tanpa aba-aba malah mengganggu urusan gue." ucap Regan menyeringai.


"Permainan? Chhii. Apa lo banci, lawan mu itu cewek lemah dia gak pantes buat jadi pemain lo, saran gue bermain lah dengan cara yang imbang. Yah seperti biasa Arnol." ucap cewek itu pada Arnol.


"Hay Lizia sudah lama tidak bertemu" Ucap Arnol mencoba akrab.


"Lama? tidak lama baru aja 2 minggu gue tinggal." Kata Lizia membenarkan yaps dia adalah Lizia. Lizia sama seperti Pinky sama-sama kelas 11.


"Gue gak bodoh, lo pikir gue akan bermain dengan lawan yang enggak bersalah. Cewek ini udah permaluin gue, dia sengaja siram baju gue dengan 4 jus jeruk sekali gus!" Ucap Regan menjelas kan.


"Maafkan aku Regan, aku benar-benar gak sengaja. Aku bersumpah" Perlahan air mata bertambah deras membasahi wajah Pinky.


"Lihat dia sudah meminta maaf, gue yakin dia gak bersalah."


"Gue kasih saran sama lo Zi jangan mudah percaya sama orang asing, orang asing gak ada kata-katanya yang dapat di percayai." Kata Regan.


Lizia sangat senang jika beradu debat dengan Regan, tapi melihat kondisi cewek yang ada di samping nya sekarang, itu seakan membuat nya Iba apa lagi kondisi tubuh nya tidak memprihatikan.


"Sudahlah gue malas banyak debat  Re. Ayo elo harus ikut gue ke UKS kita bersiih luka lo habis itu ganti baju biar gak masuk angin,'' kata Lizia .


Pinky menurut di sertai anggukan.


Selesai membersihkan luka, kini Lizia telah membawa Pinky ke dalam toilet. Untuk membantu Pinky membersihkan diri akibat lelehan jus yang ada kepala nya dan juga seragam.

__ADS_1


Sebelum berganti seragam Lizia meminta agar Pinky mencuci rambut agar tidak terlihat lengket.


"Tapi bagaimana aku bisa mencuci rambut, itu gak mungkin,"


"Tenang aja, selama ada gue,lo gak perlu khawatir, nanti gue yang akan bantu lo buat keramas." kata Lizia sembari menepuk-nepus tas ransel yang ia bawak.


Lizia membuka tas itu, dan memperlihat kan isi nya.


"Bukan kah tas gue seperti dora,semua lengkap. Ada sisir,shampo,conditioner,hairdryer, bedak,lipstik,dan lengkap deh untuk kecantikan." Ucap Lizia panjang lebar.


Pinky tersenyum simpul, baru kenal beberapa menit aja sikap Lizia sudah membuat nya mudah akrab dan nyaman.


"Tapi sebentar lagi akan masuk kelas,"


"iya gue tau, tadi kan gue yang udah izinin elo jadi tenang aja."


"oh baik lah."


10 menit


Lizia sudah mengkeramas rambut Pinky dan sekarang bersiap menggunakan Hairdryer.


Lizia mumuji kecantikan Pinky.


"Maaf aku tidak terbiasa di puji," jawab Pinky seadanya.


"Eh gue beneran, gue gak boong elo tu beneran cantik. Sedangkan kalau sih Raiska songong itu pasti kalah cantik dari lo, ehm gimana kalau lo gak usah pake kaca mata."


"Aku memiliki penglihatan kurang baik, lagian aku merasa suka kok dengan penampilan apa adanya"


"Jika elo gak bisa ubah penampilan lo, maka elo harus bisa merubah sikap agar lebih berani."


"Maksud kamu apa?"


"entah apa yang akan terjadi jika gue enggk bantu elo saat di bully Regan tadi. Pinky lo pasti bisa melawan semua itu,melawan rasa rakut itu dengan keberanian, dengan cara kamu takut, dan lo lemah. semua nya sudah pasti akan menindas lo lebih dalam."


"Aku gak bisa mengubah kodrat Zi, aku terbiasa menjadi lemah,tidak berani melawan dan cuma bisa menangis. Rasanya aku mau pindah sekolah aja"


"Jangan berpikiran seperti itu Ki, kamu punya 2 tahun lagi untuk berhentih sekolah, aku yakin elo bisa kuat sebab sekarang elo gak bakalan sendiri, ada gue yang akan ngebantu elo ngelewati itu semua." Kata Lizia menguatkan.


Pinky seketika tenang. Ia merasa legah akhirnya ada juga yang mau berteman dengan nya den setia membantu nya.

__ADS_1


"Selesai, rambut lo sudah gue tata dan kambali seperti rambut lo yang semulah. Dan sekarang tinggal ganti seragam aja, nih buruan pakek nanti kita akan ke kelas bareng-bareng."


"hmm iya makasi yah"


************************************


Lizia dan Pinky sudah berjalan menuju kelas 11, saat masuk ke kelas semua mata memandang ke arah mereka berdua. Di kelas juga tidak ada guru, sampai lupa jika hari ini guru sedang rapat di gedung sebelah.


Pinky duduk di bangku duluan, sedangkan Lizia mengambil bangku yang berada di belakang dan langsung duduk di samping Pinky.


"Ingat sekarang Pinky adalah teman sebangku dengan gue, tidak ada yang boleh menganggu nya jika tidak ingin berhadapan dengan gue!" ucap Lizia menekan kan volume suara nya.


Kini Lizia berjalan ke depan menghampiri Raiska yang seperti nya mencibir kedatangan nya.


"Setelah 2 minggu gue gak masuk kelas, ternyata gue tiba-tiba rindu pengen liat muka songong lo Ris. berani nya bully orang lemah, seharus nya elo gak pantes di cap sebagai primadona ratu kecantik dan akan lebih pantas jika elo di sebut Primadona songong!"Ujar Lizia di iringin tawa.


"Harusnya elo menetap lama aja di bali terus sekarang ngapain lagi kembali ke sekolah ini. Nyatanya kelas ini nyaman dan tentram aja tanpa kehadiran lo." Kata Raiska membalas perkataan Lizia.


Lizia melipat kedua tangan.


"Tentram dan damai? Terus jika membully apa itu juga termaksud tentram."


"Hahaha sih cupu itu aja yang tolol, muka dan penampilan nya emang pantas di bully, bahkan sekolah tanpa permainan itu gak bakalan seruh Lizia!"  Kata Raiska tersenyum miring.


Bahkan Elsa dan Dewi hanya diam saja. Mereka tidak berani melawan kerasnya seorang Lizia.


Lizia mengambil nafas pelan lalu membuang nafas dengan hembusan kencang. "Sebenernya tangan gue ini lumayan gatel lo, udah lama gak nampar mulut orang yang mulut nya kayak petasan."


Raiska dapat melihat saat tangan Lizia ia naikan ke udara seperti akan menampar dirinya.


"Gak usah main tangan!" Kata Raiska yang mulai menutupi wajah cantik nya.


"Lizia!" Panggil Pinky.


Seketika tangan Lizia berhentih di udara. "Kenapa,'' jawab Lizia.


"Kamu harus sabar Zi, gak boleh emosi apa lagi main tangan." Kata Pinky menasihati.


Lizia tersenyum baru kali ini ada seseorang yang memperingati nya dengan baik.


"Main tangan? enggak kok ki lagian gue cuma menggeretak ini curut satu aja." Lizia menurun kan tangan nya.

__ADS_1


Sebelum kembali ke bangku, Lizia kembali mengejek Raiska.


"Dasar ular berbisah yang panakut!"


__ADS_2