
Raiska kembali lagi kerumahnya bersama Pinky dan juga Lizia yang turut menemaninya. Segera Raiska turun dari mobil di ikuti Pinky yang juga turun.
"Kalian aja yah gue masih ngantuk nih."Ucap Lizia yang saat ini kembali memejamkan mata karena masih mengantuk.
"Yaudah Zi, aku sama Raiska ke dalam dulu yah."
Lizia tak merespon, yang ada hanya dengkuran kecil yang keluar dari dalam mulutnya.
Raiska terlebih dahulu memencet bel pintu rumah itu berulang kali, namun kali ini pintu pun terbuka bersama papa yang tenga berdiri di depan pintu.
"Raiska, baru pulang kamu!"
"Siapa mas, yang pagi-pagi sudah bertamu?"Mama tiri Raiska menongolkan diri di balik papa Raiska.
"Loh, bukan kah orang ini yang tempo hari kamu buat masuk rumah sakit."
"Raiska udah pulang, tuh kan mas aku bilang juga apa Raiska itu pasti tidak akan tahan pergi dari rumah ini lama-lama."
Pinky hanya diam saja tak bergeming bahkan sekarang ia bingung harus menjawab apa, berada di samping Raiska rupanya Pinky juga merasakan kepedihan yang di alamin Raiska.
__ADS_1
"Aku kemari hanya untuk mengambil barang-barang ku yang tertinggal saja pa, bukan bermaksud untuk kembali lagi kerumah ini. Lagi pula buat apa kembali kerumah ini kalau papa saja tidak pernah perduli pada ku dan lebih mengutamakan istri kesayangan papa ini"
Mama Raiska kembali berakting seolah-oleh merasa terbebanin.
"Raiska, mama sudah berusaha semaksimal mungkin agar kau dapat menerima mama seutuhnya tanpa ada rasa irih. Mama sayang pada mu, apa kau tidak mengerti juga."
"Apa sayang, mungkin di depan papa anda bersikap seperti menyayangin ku tapi jika papa tidak ada mungkin kau akan terus menyiksa ku"
"Cukup Raisak. Berhenti bersikap durhaka kepada mama mu! Lalu jika kau ingin pergi dari rumah ini yah silakan tidak ada yang melarang mu."
Raiska menahan air matanya agar tidak terjatuh saat ini juga, kemudian tanpa ragu ia menarik tangan Pinky untuk ikut kedalam bersamanya.
"Tapi ingat Raiska kau boleh meninggalkan rumah ini tapi tanpa fasilitas yang pernah papa berikan kepada mu!"
Raiska berhenti melangkah, lalu membalikan tubuh menghadap papanya.
"Baiklah pa, papa tenang saja."
Lizia terbangun dari tidurnya karena terganggu oleh suara keributan. Kemudian ia membuka jendela mobilnya melihat Raiska yang tenga menenteng kopernya dan juga kucing yang ada di dalam kandang.
__ADS_1
Segera Lizia membuka pintu mobilnya.
"Pergi sana yang jauh, awas kalau kamu mengemis untuk kembali lagi..!"
Raiska tak kuasa menahan tangisnya saat papanya berani bicara seperti itu.
"Om tega banget sih, ini kan anak om sendiri!"
"Diam kamu bocah ingusan tau apa kamu dengan ketidak tegaan..!"
"Oh, aku bukan boca ingusan yah. Ingat om aku udah kelas 3 SMA!"
"Zi, udahlah ayo bantuin Raiska untuk masukin barang-barangnya kedalam mobil mu.
Baru kali ini Lizia merasa prihatin dengan kondisi yang Raiska alamin, ternyata di balik Raiska yang sombong dan Aroghan rupanya Raiska memiliki cerita tersedih di balik keluarganya.
"Yasudah ayo masuk," Lizia membuka mobilnya untuk menyuruh keduanya untuk masuk. Namun sebelum pergi Lizia mengatakan kalimat terakhir.
"om ingat Om akan menyesalin perbuatan om nantinya percaya itu om."
__ADS_1