Terpikat Pesona Cewek Cupu

Terpikat Pesona Cewek Cupu
Makan Malam Di Rumah Regan


__ADS_3

...Malam ini Pinky dan ibunya sudah bersiap-siap untuk pergi ke undangan makan malam....


Ibunya Pinky menatap penampilan putrinya dengan senyum yang merekah. Baju casual yang ternyata ia beli di pasar rupanya cocok buat tubuh anaknya.


tapi akan lebih cantik jika Pinky tidak mengepang rambutnya menjadi dua, di tambah kaca mata bulat yang besar itu menutupi kecantikannya.


"Ayo buk, tunggu apa lagi kita berangkat sekarang yah biar pulang gak kemaleman."


"Eh ok iya, ini ibu udah siap."


"Yaudah kalau gitu aku ambil helm sama kunci motor dulu." Kata Pinky yang langsung beranjak ke kamarnya.


"Pinky tunggu!" Kata ibu.


"Kita kesana gak naik motor,"


"Loh kalau gak naik motor terus naik apa buk?"


"Terus kalau kita naik motor emang kamu tau alamat rumah om Raymon?"


''Em, gak tau."


"Kita kesana naik mobil, bentar lagi supir om Raymon jemput kita."


Tiinn


"tuh, lihat itu pasti mobilnya udah ada di depan. ayo bersiap kita kedepan."


********************************


Waktunya bersiap-siap makan malam, Regan menurunin tangga untuk menuju meja makan. Ia nampak senang, menu makan malam kali ini sangat berbeda. Semuanya lengkap.


Saat Regan ingin duduk di kursi makan, papa memanggilnya.


"Regan apa yang kamu lakukan?" Kata papa seperti melarang.


Regan terlihat bingung menatap papanya dengan tatapan aneh.


"Yah apa lagi kalau bukan makan." jawab Regan di ikutin kekehan kecilnya.


"Ini belum waktunya untuk makan, kamu harus berganti pakaian dulu baru boleh makan." Perintah papa.


Celana kolor berukuran jumbo dan kaos oblong. Tidak salah dalam penampilannya, ini adalah penampilan Regan yang hampir rutinitas setiap di dalam rumah, yah kecuali mau pergi keluar.


"Pah! aku cuma mau makan malam bentar kok malah di suruh ganti baju''


"Malam kita akan kedatangan tamu istimewa malam ini, jadi papa mohon kamu harus menjaga sopan santun mu,"


"Tamu istimewa? siapa?"


"Papa mengundang Pinky dan juga ibunya untuk makan malam di rumah kita."

__ADS_1


"Apa!! jadi tamu istimewa papa sih cewek cupu kutu buku itu! apa gak salah!"


"Jaga bicara mu Regan. Gadis itu punya nama, lagian ini papa lakukan untuk membalas budi besar kepada mereka."


"Membalas budi dengan cara mengundang mereka makan malam kerumah kita. Untuk apa! lebih baik papa beri saja mereka uang dan urusan akan selesai."


"Mereka bukan tipe keluarga yang seperti kamu maksud Regan! Mereka berasal dari keluarga baik-baik dan tidak gila harta."


"Pah, bukanya papa udah kasih sih cupu itu motor yah, habis di kasih motor eh taunya malah di ajak makan malem. Tambah besar kepala loh mereka nantinya."


"Waktu kamu tidak banyak Regan, papa beri kamu waktu 10 menit dari sekarang untuk mengganti pakaian yang lebih sopan sebelum Pinky dan ibunya tiba."


"Enggak pa! aku gak mau. Mending aku nongkrong makan bareng temen di luar ketimbang aku harus makan malem bareng rakyat jelata kayak mereka."


"Baiklah kamu boleh pergi. Tapi jangan harap bisa menginjakan kaki di rumah ini, dan itu alhasil semua fasilitas kamu papa cabut." Papa bicara dengan nada serius.


Regan mengepal jemarinya, saat ingin


Beranjak. Di saat ini sepertinya rasa bencinya terhadap Pinky semakin bertambah besar.


''Papa harap kamu jangan salah bertindak, jika kamu bersikeras dengan keputusan mu, kamu tidak memiliki waktu lama. Cepat ganti pakaian agar tidak terlihat malu di depan gadis yang kamu benci."


Regan sedang menahan amarah, tapi ia tahan. Papa tidak pernah main-main dalam mengambil keputusan yang ia buat. sekali ia menentukan keputusan maka detik itu juga apa yang tidak ingin Regan inginkan terjadi.


Papa berkata lagi setelah pertanyaan tadi tidak di respon oleh anaknya sulungnya.


"Papa harap setelah ibunya Pinky datang, kamu dapat menjaga sikap mu. Jangan terlalu tunjukan jika kamu sangat membenci anaknya."


Regan langsung naik ke atas tangga untuk berganti pakaian.


"Pasti ibu dan nona ini keluarga yang di undang tuan Raymon yah." Tanya pelayan wanita itu dengan ramah, pada tamu yang masih berdiri di depan pintu utama.


"Iya, benar saya Ratih dan ini putri saya Pinky."


Pelayan wanita itu tersenyum. "Kalau begitu mari masuk sebab tuan Tuan Raymon dan tuan Regan telah menunggu di ruang makan."


Manik hitam Pinky menatap seluru bagian dari rumah ini dengan tatapan lekat, yah jantungnya terasa berdesir sebab ini kali pertama menginjakan kaki di rumah cowok yang tidak menyukainya. Mungkin ia telah terbiasa melihat wajah Regan jika berada di sekolah tapi sekarang ia akan bertemu cowok itu di rumahnya sendiri. Ya tuhan maka ia harus mempersiapan diri saja, pasrah di hina oleh Regan.


"Selamat malam bu Ratih dan__" Pak Raymon berhentih bicara, ia tersenyum nampak dengan wajah nampak bersalah ketika melihat seorang gadis di samping bu Rati.


Saat ini pak Raymon menghampirin kedua tamu itu menyambut mereka di dekat Pintu utama. Tapi ia hanya sendiri, lalu di mana Regan.


Bu Ratih memperkenalkan anaknya kepada pak Raymon.


"Ini Pinky anak saya pak, yang tadi sore saya ceritakan."


Pinky Tersenyum menarik sudut bibirnya sedikit. Ingatan itu terniang lagi di kepalanya. Om Raymon adalah orang yang membuat ayahnya meninggal.


Bu Ratih menyenggol siku tangan Pinky , menyuruh ia untuk menerima jabatan tangan yang terlebih dahulu ingin berjabat tangannya.


pinky menerima jabatan tangan itu dengan singkat, dan memperkenalkan diri sesuai apa yang ada di pikirannya.

__ADS_1


"Putri mu cantik bu Ratih, pasti bu Rati bangga memiliki seorang putri secantik Pinky."


Bu Ratih tersenyum mendengar pujian itu. Bahkan Pinky hanya tersenyum kecil, senyum paksaan ia tau itu bukan pujian tapi melainkan cacian.


"Oh yasudah mending kita langsung saja menuju ruang makan, di sana juga ada putra sulung saya yang menunggu di sana."


Mendengar kata seorang Putra sudah membuat kakinya sedikit bergetar, berkeringat.


Di meja makan ada seorang cowok sedang menunggu sembari memainkan hpnya. Yang Pinky tau dia adalah Regan.


Keringat terasa membanjirin seluruh tubuhya. Punya perasaan tidak kuat untuk berada di situasi ini.


"Nah bu Ratih perkenalkan ini putra sulung saya yang bernama Regan, yang waktu tadi sore saya ceritakan."


Regan berhentih bermain hp, ia berdiri bersiap memperkenalkan diri ke pada dua tamu yang papanya undang.


Pertama mata Regan menatap ibu Pinky dan kedua tatapan mata Regan berhentih tepat di gadis yang sedang memalingkan wajahnya kearah lain.


"Hallo tante, perkenalkan saya nama Regan." Regan berjabat tangan lalu mencium punggung tangan ibunya Pinky dengan hormat.


Bagus setidaknya sedikit ancaman dari papanya membuatnya menjadi tunduk.


"Hay, kamu sangat tampan dan gagah anak muda, saya Ratih senang berkenalan dengan mu."


"Tante bisa aja." Kata Regan sedikit malu-Malu kucing.


Kini pak Raymon yang mulai bicara.


"Pinky, apa kamu kenal dengan anak om dia satu sekolah dengan mu lo."


Kenapa om Raymon bertanya seperti itu bukankah ia tau jika Regan memanglah satu sekolah dengan Pinky atau apa jangan-jangan ah sudahlah tidak usah di pikirkan lagi. Ikuti saja permainan apa yang akan di mulai.


"Maaf om saya tidak pernah melihat wajah anak om, lagian pergaulan saya di sekolah sangat kecil." Di pikir gadis itu tidak dapat berakting.


Dalam hati Regan sedikit tidak terima. Sial rupanya sih cupu kutu buku ini pandai berakting. Berani-beraninya dia berbicara tidak mengenalin cowok seganteng dan sepopuler dia.


Regan juga mulai berakting, dia mulai berakting seperti mengingat-ngingat pura-pura polos. Padahal mata itu seperti menusuk, Pinky tau walaupun saat ini ia memalingkan wajah.


"Masak sih padahal saya sangat populer di kalangan sekolah. Mustahil jika kamu tidak mengenal...... ah tapi sudahlah lupakan, oh iya mulai hari ini mari kita saling mengenal." Regan ingin berjabat tangan.


Pinky berat hati untuk menerima jabatan itu. Tapi melihat tatapan ibunya, seketika ia menurut.


"Regan dari kelas 12 ipa satu!"


Degg.


Pinky dan Regan tenga berjabat tangan. Sementara pak Raymon telah menyuruh bu Ratih untuk duduk terlebih dahulu membiarkan keduanya anaknya saling mengenal satu sama lain.


"Saya Pinky 11 ipa 1"


Pinky ingin melepas jabatan tangan itu, tapi semakin di lepas, cengkraman tangan Regan semakin erat di tangannya. Perlahan Regan mendekatkan wajahnya di telinga Pinky, ia berbisik.

__ADS_1


"Sudah pintar berakting rupanya, tidak heran jika elo sudah mulai sedikit berani ketika sudah memiliki seorang pacar yang melindungin elo Tapi lihat saja nanti, gue gak akan biarin hidup lo bahagia melainkan menderita!"


Pinky dengan cepat mendorong tubuh Regan, Keringat membanjirin wajahnya. Ia mulai duduk di meja makan di samping ibunya.


__ADS_2