Terpikat Pesona Cewek Cupu

Terpikat Pesona Cewek Cupu
Masa lalu Regan


__ADS_3

Regan kecil terus saja gelisa di tidur nyenyaknya, ia pun terbangun karena merasa haus, Regan mengambil gelas yang ada di atas meja di samping ranjang besar miliknya sudah di duga gelas itu kosong. Perlahan kaki kecilnya menurunin ranjang dan mulai berjalan sambil membawa gelas kosong dari kamarnya. Kamar ini sangatlah luas untuk tubuh mungil sepertinya. Di saat ia keluar dari kamarnya seluru ruangan terlihat redup tidak terang seperti biasanya.


"Maa..." lirih suara kecil itu memanggil nama mama nya. Tidak ada sautan sama sekali. Ia memanggil mama nya sekali lagi.


"Maa..mamaa...Regan haus ma, regan mau minum,"


dua bulan lagi usia Regan kecil akan menginjak 9 tahun, walau usia segitu regan kecil sangat lah masih ingin butuh perhatian dari kedua orang tuanya seperti saat ini ia masih sangat ingin di temanin mama untuk mengambil minum di dapur.


Regan berjalan lagi menuju kamar mamanya, belum sempat ia mengetuk pintu itu, sebuah suara aneh cukup terdengar di telinganya.


"Apa mama lagi sama papa?kok ada suara cowok, kan papa lagi ada tugas di luar kota" lagi-lagi Regan kecil berkata dengan lirih yang sangat pelan.


Regan kecil berusaha menempelkan telinganya di dasar pintu luar kamar mamanya.


"Sekar sayang harusnya kita chek in saja di hotel mewah ketimbang di sini nanti kalau ketahuan sama anak mu itu bagaimana,"


"Regan itu masih kecil mas jadi dia gak tau apa-apa, lagian dia itu pasti udah tidur nyenyak gak mungkin bangun, kamu tenang aja yah,"


"Sekar aku semakin mencintai mu, menikahlah dengan ku dan ceraikan saja suami mu itu lagian perusahaan ku jauh lebih besar ketimbang suami mu."


"Tenang lah mas secepatnya aku akan urus perceraian kami dan kita tentunya akan menikah."


Mereka pun melanjutkan aktivitas yang seharusnya bukan di lakukan suami istri sungguhan.


Regan kecil tak bergeming ia menangis dalam diam, mengepal kedua jemarinya. Ia sangat paham apa yang di lakukan mama dan om asing itu di dalam kamar mama dari balik cela pintu yang sedikit terbuka.


tanpa sengaja Regan menjatuhkan gelas yang ia bawa setelah gelas itu pecah cepat-cepat Regan berlari menuju kamarnya.


Sekar dan tentunya lelaki itu pun kaget, mereka pun menghentikan aktivitasnya dan berlari menuju pintu keluar.


"Hey siapa yang memecahkan gelas ini?"tanya lelaki itu kepada Sekar.


Di dalam hati Sekar sudah mengira pasti ini ulah Regan.


''Ini pasti ulah Pembantu ku mas, sudahlah jangan di permasalahkan, dan lebih baik mas pulang saja dulu,"


"pembantu!eh tapi jika dia mengadu yang tidak-tidak tentang kita bagaimana?"


"Selagi bisa di bayar dengan sejumlah uang kenapa tidak mas, kamu mengerti kan apa maksudku"


"kamu sangat pintar sekar, aku semakin mencintai mu."


Regan kecil telah berada di meja makan untuk memulai sarapan pagi, sehelai roti bertoping coklat telah tersedia di atas piring milik Regan. Tapi sedari tadi Regan hanya menusuk-nusuk roti itu dengan garpu.


"cepat habiskan sarapan mu, dan segera habiskan juga susu yang sudah bik Imah buat."Perintah mama kepadanya.


Regan memhempas garpu itu di atas piring sehingga bunyi nyaring terdengar di telinga.


"aku tidak nafsu makan!" ReganĀ  membentak sang mama.

__ADS_1


Mama berhenti memotong roti di piringnya.


"maka jangan salahkan mama jika mama berbuat kasar terhadap kamu Regan!" bentak mama dengan tatapan berapi-api.


Regan kecil memanyunkan bibirnya dan perlahan air mata mengalir deras di wajahnya. Mama tidak perna membentaknya, tapi kali ini mama melakukannya.


"aku bilang tidak nafsu makan! Aku juga tidak mau sekolah! Mama jahat," Regan langsung turun dari meja makan ia hendak berlari menuju kamarnya.


Namun sekar menarik tangannya, memaksa Regan kecil untuk memakan sarapanya dan pergi ke sekolah.


"sejak kapan kamu menjadi seperti ini ha! apa kamu mau mama kutuk menjadi batu karena telah membantah omongan mama."


"Regan benci mama!harusnya yang di kutuk jadi batu itu mama karena mama main sama om om lain di saat papa gak ada!!'' Teriak Regan dengan lantang.


*PLAAKK..*


Sekar menampar Regan karena berani kurang ajar terhadapnya.


"Anak kurang ajar, jadi kamu yang mengintip mama semalam ha! Berani sekali kamu.."


sekar ingin menampar Regan kembali namun naas sebuah tangan Menangkis tangannya agar tidak menampar Regan lagi.


"Papaa..." Regan langsung memeluk papa dan menangis kencang dalam pelukan itu.


"Ternyata bukan hanya aku yang tau perselingkuhan itu bahkan anak kita pun sendiri juga mengetahui hal bejat yang kamu lakukan dengan lelaki itu!"


"oh yah entah ini kebetulan atau apa yang terpenting aku memang sudah tidak tahan lagi menjadi istri mu" Ucap Sekar tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"tentu saja dengan senang hati jika aku bercerai dengan mu, toh aku juga tidak tahan hidup dengan sedikit harta dari mu," cibir sekar pada suaminya.


"Dasar wanita tidak tau di untung, tidak cukup kah selama ini harta yang telah aku berikan kepada mu"


"lelaki yang saat ini berhubungan dengan ku dia bahkan memiliki perusahaan yang jauh lebih besar ke timbang perusahaan mu itu dan dia tentunya dapat memberikan aku harta yang jauh lebih banyak dari mu mas,"


''Oh yah kalau gitu pergi saja temui lelaki itu dan dengan cepat ajak dia menikah jika karena aku juga tidak tahan jika terus bersama dengan wanita benalu seperti mu,"


"yah benar dengan senang hati, aku juga tidak tahan tinggal di rumah ini. Urus saja anak kita sendiri!" Setelah mengucapkan itu sekar beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.


Regan kecil memeluk erat papanya, "Pa mama mau pergi kemana, terus kenapa mama jadi jahat pa.."


Pak raymon melepas regan dari dekapannya, dengan lembut ia menghapus jejak air mata di pelupuk mata regan.


"sekarang tidak ada lagi mama, sekarang regan cuma ada papa yang akan jagain kamu, jika kamu besar nanti berhati-hatilah dalam memilih wanita yah sayang, dan jangan sampai suatu saat nanti kamu mengalamin hal yang sama seperti papa.''


"Iya pa aku paham.Aku sayang papa"


"Papa juga lebih sayang kamu Regan,"


Balkon Sekolah, di sinilah Regan menghabiskan waktu untuk lebih memilih menyediri membuang rasa sedih saat mengingat masalalu terburuk yang Pernah hadir di dalam hidupnya. Kata-kata gadis itu cukup membuat emosinya terulang lagi kali ini, dan ini benar-benar dapat menikam perasaan yang mendalam.

__ADS_1


Perlahan Regan berteriak di udara.


"Sampai kapan pun aku akan tetap benci mamaa!...."


"Apa pantas kamu membenci seseorang yang sudah tidak ada di dunia ini!"


Regan menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang telah mengganggu aktivitasnya.


"Elo!" ucapnya pada cewek yang berkaca mata tebal itu.


Pinky tidak tau apa yang membuatnya tiba-tiba berada di sini, berargumentasi lagi dengan cowok yang sering sekali menyakitinya, tapi apa yang telah di cerita kan oleh Lizia dapat membuat jiwa Pinky begitu iba, entah dari mana pikiran itu kenapa gadis itu sangat tau jika Regan sering menghabiskan waktu sendirian di atas balkon sekolah.


"Maaf apapun itu masalahnya tolong jangan pernah untuk membenci mama kamu, karena itu sangat tidak pantas untuk di lakukan." Ucap Pinky menjelaskan dia berharap Regan luluh dengan kalimatnya.


Regan perlahan maju menyamai posisi Pinky.


"gue gak suka dengan orang yang suka ganggu urusan gue! Karena itu jangan pernah menasihati gue dengan kata-kata mutiara sebab itu gak akan mempan sama sekali dan lebih baik elo undur diri dari tempat ini karena gue gak mau di ganggu terlebih oleh gadis cupu yang gue juga benci!"


Demi tuhan ia sangat benci dengan ketinggian, bahkan ia tidak berani melihat di kanan dan kirinya pandangannya kini hanya tertuju pada Regan saja, di tambah angin yang kencang di atas balkon cukup membuat bulu kuduknya berdiri karena menahan rasa takut.


Regan dapat melihat jika gadis yang ada di depannya itu seperti bergetar, dan seluru tubuhnya mengeluarkan keringat terutama di daera wajahnya.


"udah tau takut dengan ketinggian, tapi masih aja bertekat naik ke balkon sekolah ini!"


"soalnya aku khawatir jika kamu akan melompat dari atas balkon ini karena prustasi " tebak Pinky asal.


Segera Pinky ingin meninggal kan tempat ini setelah mengatakan itu, entah kenapa kata-kata ini harus keluar dari mulutnya. Regan menahan lengannya agar tidak pergi dulu.


"khawatir.?kenapa elo punya pikiran seperti itu, sudah gue duga elo diam-diam suka sama gue?"


Pinky kesal dam melepas tangan yang telah menahan lengannya.


"Jangan geer kamu, lagian mana mungkin suka sama cowok yang jelas-jelas udah nyakitin aku dan terus ganggu aku!"


Regan menautkan kedua alisnya. "lalu kenapa elo bisa tau kalau gue berada di sini?" tanya Regan serius.


"entahlah aku hanya menebak,"


Seketika Regan mencengkram kedua bahu Pinky dan menarinya agar lebih dekat dengannya. pinky berusaha ingin melepas, tetapi Regan semakin mempererat cengkramannya.


Wangi aroma maskulin yang berasal dari tubuh Regan benar-benar memabukan hastrat yang ingin terus berada di sisi ini sekarang.


"elo itu jauh dari kata cantik, kenapa harus ada cewek yang modelnya kayak elo udah jelek,cupu,terus pendek lagi!''


Regan berbohong dengan ucapanya padahal saratus persen Regan menikmati pandangan yang ada tepat di depanya, wangi aroma vanilla bercampur dengan wangi stroberi juga tercium. Ia baru sadar rupanya gadis ini memiliki kondisi wajah yang putih, lembut dan bibir yang mungil bewarna pink.


Sekuat tenaga Pinky mendorong tubuh Regan dan akhirnya ia berhasil.


"aku sadar aku emang jelek tidak seperti Raiska yang cantik dan modis. Kamu pokoknya jangan pernah ganggu aku lagi!'' Pinky lekas berlari menjauhi Regan.

__ADS_1


''Rupanya gue punya mainan baru kali ini mainan yang jauh lebih unik dari mainan gue sebelumnya."


__ADS_2