
Arnol telah memarkirkan mobilnya di parkiran utama depan teras rumah besar milik keluarganya. Bukdenya pun keluar dan merasa heran dengan keadaan sekitarnya.
"Ya ampun ini dinding atau papan tulis sih kok kotor banget gini, mana banyak coretan lagi"
"Aduuh udalah bukde ini udah biasa, mending bukde masuk aja dulu terus istirahat."
"Emangnya Mami kamu itu gak rajin bersiin rumah apa, tuh liat perkarangan nya aja masih di tumbuhi rumput liar." Bukde tak henti mengoceh hingga Sindy sebagai Maminya Arnold pun keluar dari rumah.
"Mbak Maya! loh mbak ngapain di sini?"
"Apakah aneh jika aku berada di sini, toh ini juga dulu rumah bekas almarhum adikku" Sanggah Bukde yang tak mau kalah.
"Ah enggak bukan gitu mbak, tapi kan bukde gak bilang dulu ke aku mau kesini, kalau pun mbak mau kesini pasti aku bakal suruh supir untuk jemput mbak di kampung. Tapi kok mbak bisa sama Arnold ?"
"Mi bukde tadi kesekolah Arnold, masak Bukde tadi malu maluin Arnold di depan Regan musuhku kan gak banget mi."
"Apa Regan! kok bisa..
"Lah malah ngobrol debat di sini lagi. bukde tuh capek ajak masuk dulu kasih minum kasih makan!"
"Oh i iya mbak, ayo mbak mari masuk.." Ajak Sindy merangkul mbak maya wanita yang 6 tahun lebih tua di atasnya.
"Mi kalo gitu Aku kembali kesekolah dulu yah.."
"Oke.
Regan pulang kerumah dengan memainkan kunci mobilnya menggunakan jari telunjuknya, dia berjalan melewati papa begitu saja yang tenga duduk sambil membaca koran.
"Regan tunggu!"
"Eh ada papa, Regan kira siapa. papa udah pulang? kenapa gak bilang-bilang pulangnya"
"Kamu benar-benar keterlaluan Regan apa yang kamu lakukan pada Pinky itu sungguh kekanak-kanakan."
Regan menautan kedua alisnya."Apa maksud papa, emang aku salah apa pah?"
"berhenti pura-pura tidak tau Regan, papa tau selama ini kamu masih saja menganggu Pinky, terutama rupanya kamu yang telah mengambil motor Pinky!"
"ya elah pa, cuma itu doang apa masalah nya sih lagian itu kan pemberian dari papa, bearti aku masih berhak dong mengambilnya lagian motornya gak aku pakek kok masih aku simpan di suatu tempat"
"keterlaluan kamu Regan!papa tidak mau tau kamu harus kembali kan motor itu sekarang juga sama Pinky!"
"Apa! enggak pah, bakal turun nanti derajat aku. enak saja kecuali jika dia memohon pasti akan aku kembalikan"
"selain itu papa juga mau memberi mu satu pilihan lagi, jika kamu tidak mau mengembalikan motor itu maka kamu harus mengantar jemput Pinky setiap hari ke sekolah"
__ADS_1
"what! papa gak salah kan. gak mungkin lah dia bukan ratu pah, ngapain pakek di anter jemput segala. ogah banget!"
"Baiklah jika kamu gengsi dan tidak mau jangan salah kan papa jika tidak memberi mu uang jajan lagi dan kamu pun tidak boleh makan siang lagi di sini."
"ah okke terserah papa, lebih baik aku makan siang di resto saja."
"yauda sana!"
Regan tidak sendiri Regan juga mengajak temannya Adit serta Romi makan di resto mewah.
"papa gue nyebelin tau gak. masak dia lebih memilih cupu dari gue anaknya sendiri"
"gan jadi papa lo, nyuruh lo buag anter jemput Pinky?" Kata Romi.
"Yauda lah Gan lakuin aja untung untung nanti lo bisa cinlok sama cupu iya gak rom" Adit memainkan mata.
"cinlok gigi lu, ogah gue cinlok dengan tu cupu,yauda yok udah pada kenyang kan. tunggu di sini biar gue yang bayar" ucap Regan lalu beranjak mau ke kasir.
"mbak saya gak bawak uang cash saya pakek kartu atm saja yah"
"oh boleh mas"
Regan memberi kartu atm warna hitamnya pada mbak-mbak kasir tersebut.
"mas, kartunya gak bisa di gunain mas, apa ada kartu lain."
"ini beneran gak bisa mas,"
"oh kalau gitu coba yang ini deh," Regan menawarkan kartu atm yang bewarna abu abu.
"ini juga gak bisa mas,"
"serius, masak sih gak bisa!"
"ah coba deh ini kartu terakhir atm warna biru." Regan terlihat panik.
mbak kasir dengan wajah memelas sukses mengatakan bahwa atmnya Benar-benar tidak bisa.
alhasil Regan memanggil Romi dan adit.
"Kalian berdua bawak uang gak, atau credit cart kek?"
"aduh mana bawak gan, kan lo ngajakan kita makan saat pulang sekolah kita aja belom ganti seragam dompet gue aja gue tinggal di kamar."ujar Romi.
"Iya gan gue juga gak bawak, jadi makanannya belum bayar yah gan" Sanggah Adit.
__ADS_1
"Aduuh mampus jadi malu kan gue, percuma gue ngajak kalian berdua makan di sini kalau gak bawak uang sama sekali."
"mas-mas ini jadi bayar gak sih, enak saja udah makan enak di resto mewah tapi gak bawak uang sama sekali. pasti mas mas ini mau nipu yah!"
"eh mbak jangan sembarangan ngomong yah, mbak gak tau yah kalau bokap gue pengusaha terkenal bahkan restoran ini bisa gue beli jika gue mau!"
"Kalau bokap situ pengusaha bayar dong, masak di atm nya sama sekali gak ada uang."
Regan tidak tahan lagi, dia mengambil hpnya dia menelpon papa.
"pah, kenapa semua atm Regan gangguan semua apa papa blokir?"
"itu baru permulaan Regan, itu resiko jika kamu tidak menuruti perintah papa"
"astaga pah, masak demi sih cupu papa blokir atm Regan. Kembaliin uangnya dong pa, Regan malu nih masak mau bayar makanan Regan gak punya uang."
"Yaudah kamu tinggal nuruti aja apa mau papa nanti bakal papa bantu buat bayar makananya."
"mas jangan lama loh, jadi bayar gak saya bilangin satpam loh kalau gak bisa bayar biar masnya viral terus nasuk ke kantor polisi."
"what jangan dong mbak, mbak sabar aja dulu, temen kita mau usaha buat telpon bokapnya." Kata adit menyakinkan embak kasirnya.
"lihat kamu bakalan di viralkan, kalau gak bisa bayar. gak lucu masak anak pengusaha besar gak bisa bayar makanan mewah."
"Iyyah okke! aku setuju! dari pada aku malu karena papa!"
"deal kamu setuju kan, maka buatlah voice perjanjian terus kirim ke papa."
tanpa basa basi Regan mengirim voice bahwa ia bersedia mengantar jemput Pinky setiap hari.
"Good voice ini akan papa simpan sebagai bukti jika kamu pria sejati dan tidak akan pernah ingkar janji. sekarang berikan telepon nya pada kasirnya papa akan mentransfer uangnya lewat dana saja."
"baiklah pah!"
Bunyi klakson mobil berkali kali dari halaman depan rumah Pinky.
Pinky dan ibunya yang lagi sarapan pagi pun saling melempar pandangan.
"Buk itu mobil siapa sih?"
"Ibu juga gak tau ki,"
tok tok tok
Kini bunyi ketokan pintu rumah Pinky berbunci seperti ada seseorang yang mengetok pintu rumahnya.
__ADS_1
"Yaudah bu kalau gitu biar aku aja yang bukai pintunya. ibu tunggu sini aja."
" Oh oke ki."