
Kabar duka juga di rasakan Arnold kecil. Ia tidak menyangkah bahwa dirinya mendapatkan kabar jika papanya di kabarkan meninggal akibat kecelakaan.
Regan kecil dan papanya berpapasan dengan Arnold kecil dan juga mamanya,hanya Regan dan Arnold yang saling mengenal tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka berjalan menuju ruangan yang sama.
Regan Dan Arnold tidak menyadari bahwa mereka bertemu di rumah sakit, Regan fokus pada tangisannya begitu pun dengan Arnold yang menangis tersengal-sengal seakan tak rela melihat papanya pergi secepat itu.
Dua petugas ambulans datang menghampiri keluarga yang merasa kehilangan itu dengan membawa dua jenasa untuk di masukan ke dalam ruangan kamar jenasa.
"Mama...!!"
"Paapaa...!!"
Regan dan Arnold kecil tak kuasa menahan tangis yang histeris ketika melihat jenaza dari masing-orang yang mereka sayangin.
"Arnold sudah nak, sudah...ini sudah terjadi sayang...biarkan papa mu pergi...hiks hiks hiks"
Cindy memang lebih menginginkan suaminya pergi dari rumah saja tapi bukan bearti pergi dari dunia ini, hatinya sangat sedih dan juga hancur ketika mendengarkan kenyataan bahwa suaminya tiada bersama wanita yang sudah menjadi jenaza tepat di sampingnya.
Begitu pun Pak Raymon hanya bisa menangis dalam diam yang saat ini ia rasakan, dunia seakan pecah seribu ketika juga mengetahui kepergian istrinya lebih cepat menghadap sang pencipta meninggalkan Regan yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.
"Maa, papa ma, jadi Arnold sekarang gak punya papa lagi hiks hiks."
__ADS_1
Regan tersadar bahwa boca yang menangis di depannya itu adalah Arnold, jadi ini adalah papanya Arnold om om yang waktu itu berduaan sama mama.
"Lihat gara-gara kegatalan istri anda, suami saya menjadi korban!"Cindy memarahi papanya Regan dengan seringainya.
"Ma, jadi wanita ini yang udah buat papa tiada."
Kini barulah Arnold tersadar bahwa yang ada di depannya adalah teman sekolahnya.
"Tidak...!!!jangan selahkan papa ku hiks hiks hiks yang salah itu om itu jangan salahin papa aku.."Regan membela papanya.
"Jadi kamu Regan, anaknya tante genit yang udah rebut papa aku dari mama...!"Hardik Arnold pada Regan.
"Lihat kalau mama aku gak ikut papa kamu..!!pasti semuanya gak akan kayak gini..hiks hiks"
"Kamu yang salah,,kamu...Arnold aku bencii kamu...paapa kamu jahat bearti kamu juga jahat...,!!"
"Aku benci kamu Regan, aku benci kamu...mulai hari ini kita bukan teman lagi.. Kita musuhh...!!!"
"Yaah...!! Ayo kita musuhan..aku gak mau punya temen jahat kayak kamu...!!"
......................
__ADS_1
Pinky berlinangan air mata mendengar curhatan yang Arnold ceritakan tentang masa kecilnya, cerita masa kecil mengapa ia dan Regan bisa bermusuhkan hingga saat ini.
"Kami gak punya niat gitu, untuk baikan kembali sama Regan..?"Ucap Pinky sembari menghapus jejak air matanya.
"Dih, ngapain baikan sama gue baikan sama musuh gue sendiri. Gak sudih gue. Lagian elo kenapa sih gak terima cinta gue aja, kan gue tulus sama elo."
"Kan, aku gak ada rasa buat kamu Arl,"
"Udahlah Ki Elo emang gak suka sama gue, tapi elo ada rasa kan untuk Regan. Udah elo jujur aja."
Pinky menarik nafas perlahan dengan memandangi makanan yang ada di depannya.
"Pengennya sih aku gak pacaran-pacaran dulu, malahan aku tuh pengen sekolah dulu yang bener dan soal jodoh bisa belakangan.Oh iya Arl kalau lulus sekolah nanti kira-kira cita kamu pengen jadi apa?"
Mendengar cita-cita seketika Arnold teringat akan masa kecilnya dan juga Regan. Dulu ia dan Regan sering membahas cita-cita yang tak masuk akal. Mengingat itu Arnold jadi tersenyum sendiri.
"Woy, malah bengong. Mikirin apa kamu?"
"Sebenernya gue tuh gak kepikiran kalau lulus nanti mau jadi apaan, mungkin gue kerja atau lainnya gitu. Oh ini sudah sore, kalau gitu gue anterin elo pulang yuk."
"Gak usah aku nanti naik ojek aja,"
__ADS_1
"Lah kan gue yang ajak elo ke cafe ini sama gue naik mobil, terus elo pulangnya naik ojek kan gak lucu. Ntar yang ada ibu lo nyalahin gue lago gara-gara gak tangung jawab sama elo."
"Hmm yaudah deh, yuk."