
Jam 6 pagi di sinilah Pinky menulis pr yang belum sempat ia kerjakan sama sekali di rumah, di jam 6 pagi tentunya sekolah masih sangat sepi, itu adalah kesempatan yang bagus untuk mengerjakan pr. Dua menit lagi di perkirakan tugasnya akan segera selesai.
Brakk...
Pinky tersentak kaget saat pintu kelasnya terbuka kasar oleh ulah seseorang. Dia Regan, kenapa ia datang dengan seragam yang terlihat compang-camping serta rambut yang berantakan bak orang yang habis bangun tidur.
cowok tinggi dengan balutan seragam sekolah itu bersedekap memandangin datar ke arah Pinky yang juga balas memandangnya. Hanya sebentar kemudian ia tidak memperdulikan Regan lagi dan malah melanjutkan menulis pr.
sebuah buku bersampul coffe di letakan di atas pr milik Pinky, ini membuat gadis itu merasa kebingungan. Manik hitam Pinky menatap cowok tinggi yang ada di hadapanya.
"Kerjakan tugas gue sekarang juga, jika hari ini gue gak mendapatkan nilai yang sempurna maka elo akan tanggung sendiri akibatnya!'' ucap Regan penuh ancaman.
"Tapi bagaimana mungkin aku dapat paham sedangkan kamu kelas 12 dan aku kelas 11 tema pelajaran kita berbeda Regan,''
"Gue gak peduli yang terpenting tugas gue harus selesai pagi ini juga!"
Pinky tidak perduli ia menggeser buku itu manjauh dari jangkauanya.
"Aku tidak mau, aku juga sudah kebal dengan ancaman mu dan akan lebih baik kamu kerjakan saja tugas mu sendiri,"
Alis tebal Regan bertaut miring mendengar penolakan itu.
"oh jadi elo gak mau kerjai tugas gue?"
"Iya aku tetap tidak mau! Pergilah aku juga harus menyelesaikan tugas ku juga.''
Tanpa aba-aba Regan merebut tugas pr Pinky dan berlalu pergi dari kelasnya.
"Regan buku pr ku mau di bawa kemana, regan cepat kembali kan!"
Regan berhenti di ambang pintu kelas,
"Setelah tugas gue selesai elo boleh ambil pr lo di kelas gue,"
Regan kembali membalikan badan pergi dari kelas Pinky. Demi tuhan tugas itu akan di kumpul pada jam 7 pagi. Regan cowok itu benar-benar menyebalkan.
Beruntung dia agak sedikit paham dengan soal biologi milik Regan soalnya sebelas duabelas hampir sama dengan soal biologi yang pernah Pinky pelajarin. Bukan kah Regan juga pintar tapi kenapa cowok itu tidak bisa mengerjakan tugas prnya sendiri.
Satu soal lagi hampir selesai dan satu persatu siswa siswi sudah berhamburan di dalam kelas. Begitu pun Lizia yang juga datang, tapi terlihat tergesa-gesa.
"sial, gue hampir aja kesiangan. Mana lagi pr gue hampir belum selesai, ki elo udah kerjain pr fisika kan gue liat dong, sumpah ki gue sama sekali gak paham."
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Pinky, Lizia melihat soal yang sedang Pinky tulis saat ini.
"Biologi, perasaan kita gak punya pr biologi apa lagi ini gak masuk dalam pelajaran kita sama sekali.."
Pinky berdiri dari bangkunya, dan menutup buku itu.
"aku gak punya waktu lagi Lizia, kalau gitu aku permisi dulu sebentar yah," Pinky langsung beranjak meninggalkan Lizia yang masih terlihat bingung.
"Hey pinky elo mau kemana.."
Pinky kini telah di luar kelas Regan, tapi ia tidak berani masuk. Di sana ia dapat melihat Regan tenga sibuk dengan hpnya. Romi dapat melihat kehadiran Pinky di luar pintu kelas, dan segara Romi memberi tahu Regan.
Regan berhenti bermain hp ia melihat di mana cewek berkacamata tebal itu berdiri sambil memegang buku tulis miliknya. Cowok itu pun juga keluar dengan membawa buku tulis berwarna pink.
"ini tugas mu sudah aku kerjakan semuanya.''
Regan meraih buku tulis miliknya dari tangan Pinky. Bahkan ia tidak mengucapkam rasa terimakasih dan mau masuk begitu saja ke dalam kelasnya.
"Regan...'' lirih Pinky pelan.
"Apa?" jawab Regan tanpa minat.
"buku tulis ku.."
"dasar cowok tidak sopan." Pinky dengan cepat mengambil buku prnya di lantai, perlahan ia membuka buku pr miliknya.
Deg matanya memanas, rasanya ingin menangis serta berteriak. Apa yang telah Regan lakukan pada buku prnya.
kedua bahu Pinky merosot lemah di dinding kamar mandi sekolah, tidak biasanya ia mendapatkan hukuman seperti ini. Ini kali kedua ia melakukan sebuah hukuman yang bahkan ia tau itu semua jelas bukan salahnya.
"Astaga ki kenapa coba elo gak bilang sama gue kalau sih cowok tengil itu nyuruh lo kerjai pr dia!'' kata Lizia yang juga menenteng kemoceng di tangannya. Keduanya sama-sama mendapatkan hukuman yang sama membersihkan toilet.
"Semuanya udah telanjur zi, gak bisa di ubah lagi," jawab Pinky lemah.
"coba aja elo juga ngelakuin hal yang sama kayak dia robekin tugas dia juga,"
"udah yuk kita lanjutin bersiin toiletnya biar cepet selesai."
"hmm yauda ayok.."
Regan dan teman-temannya bermain basket di lapangan, aura wajah Regan terlihat begitu senang.
__ADS_1
Romi menegurnya."gila lo gan, Pinky ngerjain tugas lo dengan bener apa adanya eh elo malah robekin pr yag telah di buat dia susah-susah."
Regan melempar bola basket pada Romi, dan dengan sigap Romi menangkap bola basket itu.
"Halah gak usah sok peduli, namun nyatanya elo juga menikmati hasilnya juga kan,"
"hehehe iya gan tiap hari aja tu, lo pr suruh sih cupu aja yang kerjai pr lo jadi elo gak capek mikir," kata Adit.
Romi juga melempar bola basket pada Adit."kejam sekali komentar mu wahai bapak Adit Nugraha tapi itu ide bagus juga."
"ide apa yang terlihat bagus bagimu wahai bapak Romi Mandala!" kata Lizia yang seketika hadir di belakang mereka bertiga di ikuti Pinky yang juga berada di sampingnya.
"Astaga Lizia elo ngagetin gue aja!'' ujar Romi.
"ngapain kalian berdua berada di sini bukan kah hukuman yang kalian dapat itu belum selesai" Sanggah adit.
"Adit bener dari pada kalian ganggu waktu kita mending kalian undur diri sebelum kita-kita aduin kalian sama buk Anita!'' Seringai Regan mengancam.
"Ini semua gara-gara ulah kamu Regan, aku mendapat hukuman seperti itu murni oleh perbuatan mu yang telah merobek pr ku!''
"Oh iya bagus deh, gue seneng banget ketika elo mendapat hukuman jadi mungkin itu tips untuk gue agar bisa buat lo keluar dari sekolah ini."
Pinky menarik nafas panjang, ia mendengus kesal. Sampai kapan cowok menyebalkan itu berhenti menganggu nya.
Dengan langkah yang cepat Pinky menghampiri Adit yang tenga memenggang bola basket, Ia merebut bola itu kemudian melempar bola basket tersebut pada parit yang tidak jauh dari lapangan basket.
Lizia menganga tak percaya apa yang di lakukan oleh temannya yang satu ini, akhirnya Pinky berhasil melakukan satu keberanian.
Regan menggeram kesal dan juga marah kepada cewek berkaca mata tebal itu.
"Apa yang elo lakukan pada bola basket kesayangan gue ha!" bentak Regan pada Pinky.
"Kita impas Regan, tapi yang aku lakukan itu bukan apa-apa.,"
"Gila bola mahal lo gan, di buang ke parit begitu aja oleh sih cupu,''Ucap Romi.
"Ambil gak!!" bentak Regan dengan tatapan berapi-api.
"Gak, aku gak mau, ayo Lizi kita pergi dari sini.''
Pinky kabur duluan,
__ADS_1
Lizia pun berlari mengikuti langkah Pinky. bahkan Lizia tersenyum penuh kemenangan.
Ayo dong yang komen mana...😪