
Gurat kebahagian mengiringin langkah gadis itu menuju parkiran sekolah. Ketika Pinky tenga menggapai motornya seorang cewek menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Pinky..." Memanggil sembari mangatur nafasnya.
"Lizia! kamu kok lari-lari kan pasti capek."
"huuuh...iya sih habisnya elo di panggil gak nyaut." Lizia sedikit cemberut.
"Maaf yah Li aku gak denger kan banyak orang juga yang buka suara,"
"kamu pulang naik motor?" Lizia to the poin.
"Hemm, emang naik apa lagi." Kata Pinky jujur.
"Kayaknya naik motor seruh juga yah" ucap Lizia senyam-senyum. "Ki gue nebeng di elo yah, soalnya gue udah lama banget pengen ngerasain naik motor bareng temen."
Pinky garuk kepala. Merasa gak enak masak cewek cantik,modis,gaul,kaya kayak Lizia mau boncengan dengan seorang Pinky yang jelas-jelas gak sederajat denganya.
"Ki! kok diem. Gimana boleh kan gue nebeng pulang bareng elo please."
"Gue gak enak Li masak cewek kayak elo naik motor kan kasian nanti elo bisa kepanasan."
"Aduuh udah deh, gue tau maksud elo apaan. Tapi tenang aja gue bukan seperti cewek-cewek lainya kok, malahan gue seneng banget bisa kenalan ama cewek sederhana kayak elo. jadi boleh yah gue ikut nebeng bareng lo."
"Oh yaudah deh kalau itu mau kamu, aku jelas gak keberatan."
"Ok sip."
"Tapi Li, bukannya kamu bawak mobil. Terus gimana?''
''tenang. Nanti gue bisa suruh sopir buat ambil mobil gue."
Pinky memberikan kunci motor dan helmnya untuk Lizia. Lizia tersenyum mengembang memperlihatkan barisan gigi putihnya.
Dari kejauhan banyak orang-orang yang memperhatikan Seorang Lizia yang ikut naik motor bersama sih cupu kutu buku. Terutama Regan And the geng.
"Ccih! mau aja sih Lizia bergaul sama sih cupu kutu buku itu." Kata Regan mengejek.
Romi menimpalin."Padahal level kelas Lizia berbeda dengan sih cupu, emang gak ada temen lain gitu yang lebih sepadan.
"Apa kalian gak sadar kalau Lizia gak pernah ada temen yang mau temenan sama cewek tomboy kayak dia. Apa lagi dia suka bar-bar, tapi kayaknya sih cupu wajib di beri apresiasi karena berhasil bisa temenan sama Lizia."kata Adit yang juga ikut membumbui percakapan.
"Yaudah mending kita cabut yuk. Dari pada sibuk ngurusin urusan mereka. Gak gunanya juga buat kita." Regan protes.
Dan semenjak hari itu pertemanan Pinky dan Lizia bertambah akrab seperti layaknya sahabat sejati. Selain itu tiada lagi orang-orang yang mau menganggu atau mengusik Pinky lagi.
Pada pagi ini kelas 11 A ada tugas kelompok. Pinky berdoa agar dia bisa mengerjakan tugas berkelompok bersama Lizia. Dia berdoa sembari mengenggam jemari Lizia. Lizia tersenyum, dan juga ikut mengenggam tangan Pinky.
"Jangan takut. Dan berdoa aja elo bisa 1 kelompok bareng gue."
Sementara buk Sinta membagi nama-nama kelompok dan satu kelompok ada 4 orang.
"Kelompok 1 ibu sebutkan namanya Anita,Farhan,Yuda,dan shellah. Kelompok 2 Mirna,Lizia,Vino,dan Mia.
Deg. Hati Pinky mulai tidak karuan, ia terlihat kecewa karena ia tidak masuk dalam kelompok Lizia.
__ADS_1
Lizia menghela nafas, mengenggam jemari Pinky kembali.
"Tenang lah, gue ngerti apa yang elo takutin."
Buk Sinta melanjutkan nama kelompok ke 3.
"Kelompok ke 3 Dewi,Elsa,Raiska,dan Pinky,"
Deg. Jantung Pinky berdesir, matanya mulai redup. Ia seperti ingin menangis tapi tidak bisa.
Geng Raiska sudah bertos ria karena mereka 1 kelompok. Tapi tidak dengan Lizia. Sebab Lizia merasa ini tidak adil., ia seakan tidak rela jika Pinky berada dalam kelompok mereka.
"Saya tidak setuju buk!" Kata Lizia yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Tidak setuju kenapa Lizi?" Tanya buk Sinta.
"maaf buk, saya hanya tidak setuju jika Pinky satu kelompok dengan Raiska apa lagi mereka adalah satu geng bukan kah itu tidak adil."
"Li udahlah aku gak apa-apa kok. Kamu udah duduk aja," Kata Pinky dengan nada suara rendah.
"Kamu jangan menentang apa yang sudah ibu putuskan Lizia, karena apa yang ibu pinta ini demi pelajaran bukan demi populeritas!"
Lizia diam, dia duduk kembali tidak bisa menjawab pernyataan itu lagi. Senyum itu, senyum yang berasal dari mulut Raika berasa ia ingin merobek mulut itu. Tapi ia harus tahan.
"Baiklah kelompok sudah ibu bagi, ibu berharap tidak ada yang seperti Lizia tadi menentang sebuah keputusan yang telah ibu buat. Kalau gitu ibu permisi."
selepas kepergian buk Sinta Raisa tersenyum miring sembari memberi jempol cemen kearah Lizia dan Pinky.
"Makanya jangan sok-sok'an jadi pahlawan pada akhirnya sih cewek kutu buku satu kelompok kan bareng gue."
"Aku mohon jangan cari masalah Li, udah biarin aja dia bicara apa. Yang penting aku mohon kamu jangan ke bawa emosi,tenangin diri kamu Li, aku bisa kok hadapin semua ini sendiri meski tanpa kamu.''
"Tuh kamu liat sendiri kan sih cupu aja paham apa yang gue maksud. Elo tenang aja kita bertiga pasti jaga temen kesayangan elo."
"ingat. Kalau bukan karena Pinky yang nenangin gue, pasti detik ini juga elo gak akan pernah bisa bicara lagi karena tuh mulut lo bakalan gue gunting."
"oouh takut...ahahaha bisanya main tangan. Pinky nanti sore jam 5 elo kerumah gue yah kita ngerjain tugas kelompok bareng-bareng."
Pinky mengangguk setuju, meski baginya berat.
"Eh ingat elo gak boleh ajak Lizia, karena jika lo ajak Lizia maka elo akan tau akibatnya. Dan buat elo Lizia jangan macem-macem dengan apa yang juga jadi urusan gue, kalau elo nyampe gak ingin di marahin sama gak di kasih nilai oleh bu Sinta."
Sial Lizia kali ini tidak bisa membantu Pinky karena ia juga termaksud ketua kelompok. Apa lagi tugas ini akan di selesaikan besok pagi.
"Ki maaf yah gue gak bisa bantu elo."
"Iya gak apa-apa aku paham kok,"
************************
Sore harinya di rumah besar milik seorang Raiska. Rupanya bukan hanya geng Raiska ternyata juga ada Arnol tapi tidak dengan gengnya.
mereka bertiga sedang sibuk main hp dan Raiska sibuk berpacaran. Sementara Pinky di tugaskan untuk membuat tugas sendirian tanpa di bantu.
Pinky melirik ketidak sukaan nya kepada Arnol dan Raiska karena sibuk berpacaran.
__ADS_1
"Apa lo liat-liat orang pacaran. Udah sana cepet kerjain tugasnya awas aja kalau gak selesai!" Bentak Raiska marah.
"Ia Ris maaf, aku gak bermaksud ganggu cuma ngerasa gak adil aja kalau aku ngerjai tugas ini sendiri."
"Eh cewek cupu! Jangan bawel deh jadi orang, karena emang tugas elo itu kesini emang sebagai pesuruh ngerjain tugas pacar gue yang cantik."
Dewi dan Elsa ikut cekikikan.
Pinky menarik nafas panjang, mencoba bersabar seiklas mungkin berharap tugas dapat terselesaikan.
hampir jam 7 malam sepertinya tugas hampir selesai meski tanpa dapat bantuan. Pada saat itu juga Arnol pamit pulang karena udah ada janji sama Martin dan Dandi.
"Sayang gue pulang dulu yah gak apa-apakan."
"Oh yaudah deh gak apa-apa. Maaf gak bisa nemenin elo nongkrong,"
"Iya. Lagian kan sayang lagi ada kerjaan tuh ngawasin sih cupu kerjain tugas haha."
"Haha iya sayang, elo bener. Kalau gak di awasin makan hati dia, malah ngelunjak."
"Yaudah dah sayang.."
Selang 30 menit Arnol pulang ternyata Pinky telah selesai dengan tugasnya dan bersiap untuk pulang.
Mata Raiska and the geng berbinar karena sih cupu ini cukup dapat di andalkan. Pada akhirnya mereka dengan senang hati menyuruh Pinky pulang.
Di tenga perjalanan menuju pulang hp Pinky berdering otomatis ia pun menghentikan laju motornya dan berhenti di pinggir jalan.
"Iya hallo buk waalaikumsalam,"
"kamu di mana ki, apa udah mau pulang?"
"iya buk. Ibu jangan khawatir bentar lagi aku pulang kok."
"oh yaudah kalau gitu kamu hati-hati yah, bawak motornya jangan ngebut-ngebut.'' Ibu terus menasihati dari telepon.
"Iya,iya ibu Pinky paham. Kalau gitu udah dulu yah, assalamualaikum."
Bib. Sambungan telepon terputus. Tidak jauh jangkauan Pinky ia melihat segerombolan preman dan membawa 3 motor masing masing motor ada 2 orang tiba-tiba sibuk mengejarin 1 mobil mewah warna biru. Kemudian mobil itu berhentih saat telah d kepung.
Tanpa aba-aba 6 preman berbaju serbah hitam itu memukulin cowok yang ada di dalam mobil itu. Cowok itu adalah Arnol.
Arnol mencoba melakukan perlawanan tapi ia tidak sanggup karena jumla lawannya bukan orang biasa. Entah ada angin apa Pinky muncul di tenga pertikaian itu dan memukup orang-orang itu dengan kayu balok yang ia bawak.
Bug bug satu persatu preman bertubuh kekar itu terjatuh dan kesakitan.
"Ha sih cupu, ngapain dia pakek ke sini segala. Berani banget sih dia ngelawan mereka padahal cewek lemah, mudah nangis,cengeng,ngapain dia bantu gue. Padahal gue.." Arnol berbicara dalam hati.
"Arnol kamu gak apa-apa kan. Ayo sini aku bantu berdiri." Kata Pinky yang mencoba membantu Arnol berdiri namun naas.
"Hei awas di belakang lo!"
"Aahk.." Pinky kehilangan kesadaran dia ambruk di pelukan Arnol, karena tubuh belakangnya juga di pukul pakai balok oleh preman itu.
Para preman panik. Ia takut jika gadis yang mereka pukul itu mati, pada akhirnya mereka pergi menggunakan motor mereka.
__ADS_1
"Eh kok jadi gini sih, hey cewek cupu ayo bangun." Arnol kesusahan berdiri karena hampir seluruh tubuhnya babak belur. Tapi ia mencoba untuk sekuat tenaga membawa tubuh Pinky yang tak bergeming. Arnol menaru Pinky di pangkuannya menatap wajah yang tanpa berkaca mata itu dengan lekat, meski sorot lampu di jalan hanya sedikit. Walau itu cahaya yang ada di wajah Pinky benar-benar bersinar. Dan saat ini Arnol sadar jika Pinky sangatlah cantik meski tidak memakai kaca mata, apa lagi jika rambutnya terurai.