
"Ki, akhirnya elo nyampe juga sini cepet duduk dulu?" kata Lizia kepada Pinky, saat Pinky baru saja datang di kelas.
Saat itu Raiska,Dewi, dan Elsa juga baru saja datang. Pinky yang akan duduk di bangku, tidak menyangkah mendapat perlakuan buruk dari Raiska.
Raiska menarik rambut kepang Pinky dengan perasaan tidak sukanya.
"Dasar pelakor! udah penampilan cupu gak tau nya suka rebut cowok orang."
"Arrg Raiska lepaskan ini sakitt! Arggh tolong lepaskan.."
Lizia tidak tinggal diam, dia berdiri dan mendorong tubuh Raiska yang menarik rambut Pinky dengan brutal.
"Elo udah mulai berani yah! Kan udah gue bilang. Jangan pernah elo biarin tangan lo itu untuk nyakitin sahabat gue"
"elo gak usah ikut campur Lizia! wajar gue marah. Karna sahabat lo ini udah berani rebut pacar gue! cih muka aja polos tapi nyatanya murahan!"
semua orang yang ada di kelas juga ikut-ikutan mulai bicara yang enggak-enggak tentang Pinky. Air mata Pinky berjatuhan saat di cap sebagai murahan.
Lizia merasa iba, hatinya sakit melihat sahabatnya di katakan sebagai seperti itu. Untuk memperkeru suasana Lizia tertawa terbahak-bahan.
"Ahahahahah jadi pacar karena taruhan aja bangga! di pikir Arnol pacarin elo itu karena cinta! Sadar diri dong, sebab Arnol mau pacarin elo karena cantik bukan cinta hahaha"
"Hahaha elo irih yah, gue emang cantik Lizia. Gue tau elo bilang kayak gitu karena elo irih, gak suka, dengan kecantikan yang gue milikin." Kata Raiska mengejek balik.
Di babak perdebatan ini Lizia meyakin kan jika dia akan menang."Yaps gue akuin elo emang cantik sih, tapi kok Arnol putusin elo dan malah lebih memilih Pinky gue yakin Pinky jauh lebih baik dan jauh lebih cantik dari pada elo!"
"What! cantik. Elo bilang sih cupu kutu ini cantik! hey cantik dari mana mata lo udah buta yah." Semua orang terkekeh tertawa kecil.
"Li udahlah, hentikan jangan memperpanjangkan masalah." Kata Pinky dengan suara pelan.
Lizia tersenyum miring, lalu mencengkram rahang Raiska."kita lihat aja nanti, dan nanti gue harap elo bawa tissu yang banyak yah."
Raiska melepas tangan Lizia yang mencengkram rahangnya. Menghentakan kakinya di lantai dan kembali duduk di bangkunya.
Lizia mengajak Pinky untuk makan di kantin. Setelah duduk di meja kantin seperti biasa Lizia yang pergi ke ibu kantin untuk memesan makanan sedangkan Pinky hanya menunggu di meja kantin.
Tanpa ada angin dan tanpa ada asap Arnol tiba-tiba duduk di samping Pinky.
"Gue boleh kan duduk di sini." Pinky tidak menjawab, ia malah membuang muka berharap Lizia cepat datang.
__ADS_1
"Kok diem sih. Kan gue cuma numpang duduk bentar." Arnol memasang wajah sedih.
Gara-gara Arnol ia malah di cap yang tidak-tidak oleh orang-orang.
"kenapa gak gabung bareng temen kamu, kan meja di kantin ini banyak."
Lizia akhirnya pun datang. Dia menegur Arnol. "Ngapain lo di sini, udah sana cepet pindah tempat duduk gak usah ganggu temen gue."
"Temen? Elo cuma temen Lizia. Gue pacarnya jadi wajar dong jika gue mau deket-deket sama dia."
dari jarak yang tak terlalu jauh paling kelang beberapa jarak, Regan dan kedua temennya menyaksikan apa yang mereka lihat. Regan menampilkan senyum sinis.
"Ini dia jenis pemandangan yang jarang terjadi, seorang Arnol berpacaran dengan sih cupu. Dasar buta kayak gak ada cewek lain aja!"
"elo kenapa gan cemburu?" Tanya Adit tiba-tiba.
Regan menampol kepala Adit. "kalau ngomong ati-ati! enak aja bilang gue cemburu. Lagian mana mau gue suka sama cewek yang cupunya minta ampun kayak dia!"
"Gan hati-hati lo. Udah banyak kok kisah yang terjadi awalnya benci eh lama-lama jadi cinta," Romi menjaukan kursinya dari Regan ia tau Regan akan ikut menampol nya seperti ia menampol adit.
"Sialan, ternyata kata-kata lo jauh lebih parah yah dari adit. Denger yah gue gak mungkin cinta sama sih cupu sebab benci gue udah permanent dan sampai kapan pun gak akan pernah bisa di hapus!"
"Lagian elo aneh tau gak, gak ada angin gak ada petir tiba-tiba mutusin buat pacaran dengan Pinky. Bukanya dari awal elo gak suka sama Pinky."
"Jangan salahkan cinta dong, elo tau kan cinta dapat tumbuh kapan saja. Jadi intinya elo gak bisa larang gue buat cinta sama pacar gue sediri."
Lizia mengbuang nafas kasar. "elo gak tau malu banget sih, denger yah Pinky itu bukan tipe gadis seperti Raiska__"
"Lizia, udahlah gak usah di perpanjang."
Pinky menoleh ke Menatap Arnol. "Untuk kamu, terserah deh kamu mau ngomong apa. Yang penting aku menganggap kamu cuma temen kok bukan pacar." Ucapan Pinky begitu lembut.
Arnold tersenyum. Ini kali pertama seorang gadis menolaknya, lagian entah kenapa Arnol ingin menjadi seperti Lizia yang bersedia menjadi teman sekaligus sahabat yang akan melindungin Pinky. Dia sengaja mengambil kesempatan dan bilang kepada semua orang jika dia adalah Pacar Pinky maka saat ini tidak ada lagi yang berani mengganggu Pinky.
"Tuh denger sendiri kan apa yang sahabat aku bilang. Udah buruan elo pindah tempat duduk karena gue sama Pinky mau makan."
"Gue akan pindah tempat duduk setelah gue boleh suapin Pinky makan." Arnold menatap mie instan yang ada di depan Pinky.
"Maksud kamu apa Arl?" Tanya Pinky lembut.
__ADS_1
"Iya maksudnya gue akan pindah tempat duduk setelah gue bisa suapin elo mie instan itu. Sekali aja habis itu gue janji gue akan pergi."
"Elo gimana sih gue suruh pergi malah banyak kehendak!"
"Oh yaudah kalau gak mau terpaksa gue duduk di sini dan menemanin pacar gue makan."
"Dasar keras kepala banget sih!"
Arnold mengambil Mie instan yang ada di depan Pinky. dan mengambil sumpit untuk menyuapin Pinky.
"aaagh please ayo dong. Kali ini aja gue pengen banget suapin elo makan." kali ini muka Arnold sangat memelas.
Pinky seketika merasa iba, meskipun berat ia terpaksa menerima suapan mie dari Arnold.
Arnol berhasil memenangkan hatinya Pinky. Sedangkan semua orang berteriak. Ciee ciee.
"Sekarang kamu cepet pindah tempat duduk." Kata Pinky sedikit menahan malu.
"Oke siap gue akan pergi sesuai perintah pacar gue sendiri, tapi tunggu."
Arnold tiba-tiba menyeka jarinya di sudut bibir Pinky. Menghapus jejak noda pada bibir itu.
Pinky dengan cepat menepis tangan itu."aku bisa sendiri."
di ujung sana entah kenapa Regan sedikit merasa terusik dengan adegan suap-suapan dan yang terakhir di mana Arnold menyeka jarinya di bibir Pinky. Melihat bibir cerry itu seakan mengingatkan Regan pada waktu ia mencium Pinky.
Beraninya Arnol menyentuh bibir yang pernah menjadi miliknya.
Lizia menjadi geram."ih pakek ngambil kesempatan segala lagi. Modus amat sih lo,udah buruan sana pergi."
"Iya gue pergi! Dasar jomloh." ejek Arnold setelah berdiri untuk pergi.
Lizia melotot,dan berniat melempar sendok ke muka Arnold. Melihat hal itu membuat Arnold undur dari meja Pinky dan Lizia.
"Baru di gertak gitu aja udah takut dasar banci!"
Regan undur dari meja kantin, ia pergi beranjak sebelum makanannya datang. Padahal di kantin tersedia kipas angin namun bagi Regan hawa yang datang melalui kipas angin bukan lah hawa dingin melainkan hawa panas.
#huaa hanya readers yang bisa menebak apakah Regan cemburu atau enggak 😘
__ADS_1