
"Akhirnya kau datang, Sayang!"
Naomi refleks menyentak tangan Oscar yang tadi mendekapnya dari belakang. Namun tentu saja hal itu tak membuat Oscar tinggal diam. Oscar yang tubuhnya sudah terasa panas karena diselimuti oleh gairah yang membara, langsung mengejar Naomi yang hendak keluar.
Ya!
Seharusnya Naomi tadi tak perlu masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu kamar saja dari luar.
Lalu hasrat Oscar tak akan tersalurkan dan yang mungkin terjadi adalah Oscar akan menyakiti dirinya sendiri karena efek dari obat setan sialan tadi.
"Arrrgh!" Oscar yang sudah berhasil menangkap Naomi, langsung nendekap erat tubuh wanita itu sembari menciumi tengkuk dan leher Naomi. Bisa Naomi rasakan lengan Oscar yang sudah dipenuhi oleh keringat serta nafas pria ini yang terdengar terengah-engah.
Obat macam apa yang sudah Naomi berikan pada Oscar tadi?
Kenapa efeknya bisa sekuat ini?
"Oscar lepaskan aku!" Naomi berusaha untuk meronta. Namun rasanya sia-sia saja karena tenaga Oscar yang mendadak jadi begitu kuat.
Ya, Oscar sedang butuh pelampiasan sekarang!
"Oscar!" Naomi memekik saat tubuhnya dibanting oleh Oscar ke atas tempat tidur. Oscar yang sudah dipenuhi oleh gairah, langsung melucuti pakaian yang dikenakan oleh Naomi sembari mencecap setiap inchi dari tubuh Naomi.
"Ouh!" Naomi benar-benar terhanyut oleh setiap cecapan Oscar yang seperti seorang ahli. Naomi jadi sangsi apa ini benar-benar adalah pengalaman pertama Oscar atau pria ini hanya mengarang cerita soal keperjakaannya?
Naomi tak meronta lagi saat Oscar terus mencecap setiap inchi dari tubuh polosnya. Naomi memilih untuk menikmati apa yang kini Oscar lakukan pada dirinya.
Naomi benar-benar tak menyangka jika efek dari obat yang Naomi berikan tadi begitu luar biasa pada Oscar. Atau Naomi terlalu banyak memasukkan obat tadi hingga Oscar bisa seliar ini?
Tak bisa Naomi bayangkan andai yang bersama Oscar malam ini benar-benar adalah Nyonya Malcone. Mungkin wanita empat puluh tahun itu akan langsung kewalahan menghadapi hasrat Oscar yang begitu membubung tinggi.
Naomi tak akan pernah memakai obat sialan itu lagi pada para escortman. Cukup Oscar yang menjadi kelinci percobaan Naomi malam ini dan dirinya yang turut merasakan akibatnya.
"Aaaarrrgh!" Naomi mengerang saat milik Oscar tiba-tiba sudah menyentak masuk ke dalam miliknya. Meskipun sudah basah,namun rasanya tetap nyeri karena Naomi sendiri lupa, kapan terakhir kali ia bercinta bersama seorang pria.
__ADS_1
Rasanya seperih saat dulu Naomi pertama kali melakukannya. Dasar sialan!
"Oscar, pelan-pelan!" Naomi memberikan aba-aba pada Oscar namun sepertinya hal itu hanya sia-sia karena yang terjadi sekarang, Oscar malah justru mempercepat gerakannya dan pria itu sepertinya begitu bersemangat.
Benar-benar obat setan sialan!
Oscar terus menghentak sepanjang malam dan yang terdengar dari dalam ruangan itu hanyalah lenguhan serta erangan dari Naomi dan Oscar yang terus bersahut-sahutan.
"Uhuuk! Uhuuk!" Suara batuk Jesslyn yang sejak tadi tidur di pelukan Naomi, langsung membuyarkan semua lamunan Naomi tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Oscar i masa lalu. Satu hal yang malam itu benar-benar Naomi lupakan adalah pengaman yang seharusnya Oscar kenakan.
Ya, Oscar sama sekali tak memakai pengaman saat pria itu menghajar Naomi semalaman tanpa henti. Dan Naomi juga sudah lama berhenti minum pil kontrasepsi sejak ia berhenti menjadi wanita simpanan untuk para pria kaya. Naomi sibuk mengelola bisnis escortman nya waktu itu.
Naomi menghela nafas dan kembali mengusap-usap kepala Jesslyn yang sudah kembali terlelap. Naomi menatap wajah putri semata wayangnya tersebut yang sejak ia lahir tak pernah sama sekali mengenal sosok ayahnya.
Jesslyn juga tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, pemarah, serta penyendiri. Belum lagi rasa benci Jesslyn pada semua escortman yang tinggal di rumah Naomi. Entah apa yang mendasari hal itu, tapi sejak awal Naomi membawa Jesslyn pulang ke rumah, gadis itu sudah seperti itu.
Mungkin Jesslyn merasa diabaikan selama ini oleh Naomi karena ia tumbuh bersama nenek Naomi dan Naomi juga hanya sesekali menjenguk Jesslyn.
Atau mungkin Jesslyn sebenarnya tahu tentang bisnis kotor yang digeluti oleh Naomi?
Entahlah!
Satu hal yang pasti, sifat keras kepala Jesslyn memang menurun dari Oscar serta Naomi sendiri. Benar-benar perpaduan yang sempurna, bukan?
Ting!
Suara pesan masuk di ponsel Naomi membuyarkan lamunan Naomi sekali lagi. Wanita itu mengambil ponselnya dari atas nakas, lau membuka pesan yang masuk yang rupanya dari Madame Brennen.
Tumben sekali!
[Apa kau masih ingin bersikap egois? Aku sudah menanyakan pada Oscar kemarin dan Oscar setuju dengan kontrak eksklusif yang aku tawarkan. Tapi sayangnya, agensimu terlalu mengekangnya hingga Oscar tak bisa berbuat apa-apa!] -Madame Brennen-
[Berhentilah menjadi wanita egois yang serakah? Lepaskan Oscar dan aku akan memberikan dua persen dari total kekayaanku!] -Madame Brennen-
__ADS_1
[Kau tak perlu lagi menggeluti pekerjaan kotor ini dan silahkan duduk manis menikmati aliran uang yang aku berikan. Dan yang perlu kau lakukan hanyalah mrlepaskan Oscar Petrichor] -Madame Brennen-
[Lepaskan Oscar, Naomi Olsen!] -Madame Brennen-
Naomi baru saja akan mengetikkan pesan balasan untuk Madame Brennen, saat tiba-tiba kamar perawatannya sidah menjeblak terbuka. Naomi refleks menoleh ke arah pintu dan wanitavitu langsung mendapati Oscar yang berdiri di ambang pintu kamar perawatannya.
Naomi tak jadi mengirim pesan pada Madame Brennen dan wanita itu meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.
"Ada apa kesini?" Tanya Naomi to the point sambil tangannya tak berhenti mengusap-usap kepala Jesslyn, berharap gadis itu tetap terlelap dan tak terbangun.
"Katakan kalau itu hanya lelucon, Nao!" Sergah Oscar merasa tak tahan lagi.
"Yang mana yang lelucon maksudmu?" Tanya Naomi seraya menatap pada Oscar dengan tatapan tajam.
"Tentang ayah kandung Jesslyn!" Jawab Oscar setengah berteriak.
"Pelankan suaramu!" Gertak Naomi cepat.
"Kau bahkan tidak pernah mengatakan kepadaku kalau kau sedang mengandung anakku? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba..." Suara Oscar tercekat di tenggorokan dan pria itu sudah menuding ke arah Jesslyn yang masih terlelap. Sejenak, Oscar mebatap dengan dalam wajah gadis sembilan tahun tersebut. Tak bisa dipungkiri kalau ada beberapa bagian wajah Jesslyn yang memang mirip dengan Oscar jika dilihat dengan seksama.
"Brengsek!" Umpat Oscar seraya menjambak rambutnya sendiri.
"Maaf atas semua fakta yang tak kau inginkan ini, Osh!" Ucap Naomi lirih merasa bersalah pada Oscar. Karena sejak awal memang Naomi yang bersalah dan menyebabkan hal yang tak diinginkan ini.
"Jadi benar?" Oscar menatap tak percaya pada Naomi yang langsung mengangguk samar.
"Jess putrimu!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.