
"Sedang memasak apa?" Tanya Naomi seraya melingkarkan kedua lengannya di pinggang Oscar.
"Sarapan," jawab Oscar yang tangannya tetap berkutat di dapur.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa memasak," ujar Naomi lagi yang hanya membuat Oscar tertawa renyah. Pria itu berbalik, lalu memeluk Naomi yang tubuhnya terlihat semakin kurus. Genap satu bulan sudah Naomi, Oscar, dan Jesslyn tinggal di rumah ini.
"Kenapa kau bangun dan berjalan kemari? Bykankah seharusnya kau duduk saja di kamar, lalu aku akan membawakan sarapanmu," tanya Oscar yang tangannya langsung sigap meraih kursi, lalu meminta Naomi untuk duduk.
Oscar sendiri masih merasa abu-abu dengan perasaannya pada Naomi. Satu hal yang pasti, merawat Naomi adalah kewajibannya saat ini. Jadi Oscar akan melakukannya sepenuh hati dan melakukan hal lain yang sekiranya bisa membuat Naomi bahagia di sisa usianya.
Kecuali berdamai dengan Jesslyn menyebalkan!
Ya, sudah satu bulan berlalu dan gadis sembilan tahun itu masih saja menyebalkan.
Hingga terkadang saat sedang kesal, Oscar ingin membuang atau menenggelamkannya saja ke danau di belakang rumah.
Tapi Oscar tak mungkin melakukannya karena Jess adalah putri kesayangan Naomi.
Sekarang Oscar harus membiasakan diri dan mungkin beradaptasi dengan kelakuan Jess yang menyebalkan.
"Aku bosan di dalam kamar!" Naomi melingkarkan lengannya di leher Oscar, lalu wanita itu akan mulai bergelayut manja pada Oscar.
Mood Naomi memang mudah berubah dalam waktu yang singkat. Terkadang ia suka marah-marah pada Oscar. Lalu terkadang ia juga akan sepanjang hati bergelayut pada Oscar saat Jess tidak ada.
"Jess sudah berangkat sekolah tadi?" Tanya Naomi lagi memastikan.
"Ya! Bis sekolah Jess datang tepat waktu hingga gadis itu tak sempat sarapan," jawab Oscar melaporkan.
"Kau tidak membawakan Jess bekal?" Naomi sudah melepaskan gelayutannya pada Oscar.
"Aku tak bisa menemukan kotak bekal Jess! Mungkin dia membuangnya ke danau," Oscar mengendikkan kedua bahunya,saat Naomi bangkit dari duduknya dan menghampiri rak yang bersebelahan dengan bak cuci piring.
"Lalu ini apa?" Naomi menunjukkan kotak bekal Jesslyn yang ada di atas rak sejak tadi.
"Aku tak melihatnya," ujar Oscar beralasan.
Naomi hanya menghela nafas, lalu mengambil satu lembar roti dan beberapa bahan dari kulkas. Wanita itu mulai membuat roti isi, lalu menyusunnya ke dalam kotak bekal Jesslyn dan menutupnya dengan rapi.
"Antar aku ke sekolah Jess!" Titah Naomi selanjutnya pada Oscar yang sejak tadi hanya diam mematung.
"Kau di rumah saja dan biar aku yang mengantar," Oscar memberikan saran.
"Baiklah!" Naomi memberikan kotak bekal Jess pada Oscar.
"Tapi pastikan Jess menerimanya dan memakan sarapannya!" Pesan Naomi seraya merapatkan cardigan yang ia kenakan.
Oscar menghela nafas lalu mengangguk dengan berat. Pria itu akhirnya keluar dari rumah dan masuk ke mobil. Namun beberapa saat kemudian Oscar kembali turun dan memanggil Naomi.
"Nao! Aku lupa letak sekolah Jess!" Ujar Oscar sedikit meringis dan Naomi langsung bisa paham kalau Oscar tak mau mengantar kotak bekal Jesslyn sendirian.
__ADS_1
Yang tadi mungkin hanya basa-basi!
"Naomi akhirnya ikut masuk ke dalam mobil dan memangku kotak bekal Jess. Mobil Oscar segera melaju menuju ke sekolah Jesslyn.
****
"Hai, Sayang! Kau meninggalkan bekalmu," ucap Naomi seraya mengangsurkan kotak bekal Jess. Tatapan Jesslyn langsung tertuju pada Oscar yang duduk di belakang kemudi.
"Mom yang membuatnya?" tanya Jesslyn tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan marahnya dari Oscar yang pura-pura tak melihat Jesslyn.
Dasar gadis menyebalkan!
"Ya! Mom yang membuat sandwichnya. Apa kau masih alergi dengan masakan Dad?" Tanya Naomi memastikan dan Jesslyn langsung menerima kotak bekal dari tangan Naomi, tanpa menjawab pertanyaan sang Mom.
"Dad sudah mati!" Jawab Jesslyn ketus.
"Jess!" Tegur Naomi seraya memegangi kepalanya.
"Mom!"
"Mom baik-baik saja?" Tanya Jesslyn khawatir.
"Ayo ke rumah sakit!" Ajak Jesslyn lagi masih khawatir.
"Mom baik-baik saja dan tolong bersikap sopanlah pada Oscar! Dia dad-mu!" Ucap Naomi tegas pada sang putri.
"Ya!" Hanya satu jawaban singkat dari Jesslyn dan nadanya tetap terdengar ketus.
Jesslyn tak menjawab lagi dan gadis itu segera berbalik, lalu kembali masuk ke sekolahnya.
"Sudah selesai?" Tanya Oscar setelah keheningan beberapa saat.
"Ya!" Jawab Naomi singkat. Mobil langsung melaju meninggalkan halaman sekolah.
"Tadinya aku berpikir,jika nanti aku sudah tiada kau yang akan merawat Jesslyn dan menjadi Dad untuknya-"
"Maaf, tapi sepertinya aku tak bisa," potong Oscar menyela.
"Ya!"
"Kau terlihat tak siap menjadi Dad untuk Jesslyn dan mungkin kau juga masih shock dengan semua ini," pendapat Naomi menahan rasa kecewa di hatinya. Meskopun sebenarnya ini juga bukan salah Oscar.
Naomi tak pernah memberitahu sejak awal kalau Oscar adalah seorang ayah, jadilah pria itu tak merasa peka selama ini. Belum lagi sikap Jesslyn yang selalu ketus pada Oscar pastilah membuat Oscar semakin illfeel pada gadis itu.
"Jess akan aku titipkan di yayasan setelah nanti aku pergi. Aku akan menjelaskannya pelan-pelan," tukas Naomi yang akhirnya membuat keputusan.
"Semoga ini keputusan yang tepat," lanjut Naomi lagi penuh harap. Berbeda dengan Oscar yang hanya membisu dan fokus mengemudi. Oscar bahkan tak berkomentar apapun.
Ya!
__ADS_1
Mungkin memang tak ada jiwa seorang ayah dalam diri Oscar!
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, mobil akhirnya tiba kembali di rumah tepi danau Naomi.
Naomi langsung turun mendahului Oscar, saat tiba-tiba tubuh wanita itu sedikit limbung.
"Nao!" Oscar buru-buru turun dari mobil dan menopang tubuh Naomi.
"Sedikit dingin," Keluh Naomi saat angin berhembus pelan. Oscar segera mendekap Naomi dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Berbaringlah dan aku akan membuatkan teh hangat," ujar Oscar seraya membimbing Naomi agar berbaring di atas sofa. Tak lupa Oscar juga menyelimuti Naomi sebelum lanjut pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Naomi.
****
Oscar yang sudah selesai memeriksa semua pintu dan jendela, sedikit mengintip ke dalam kamar, dimana Naomi sedang berbaring seraya mendekap Jesslyn.
"Jangan pergi, Mom!" Pinta Jesslyn yang bisa didengar Oscar samar-samar.
"Mom tidak kemana-mana!" Naomi terlihat mengusap kepala Jesslyn dengan penuh sayang.
"Berhentilah bersikap ketus pada Oscar, Jess!" Nasehat Naomi selanjutnya pada sang putri.
"Mom tidak mengerti kenapa sejak dulu kau begitu benci pada Oscar," ujar Naomi lagi tak mengerti.
"Dia menyebalkan!" Sahut Jesslyn ketus.
"Bagian mana yang menyebalkan? Kau bahkan jarang bicara dengannya," Sergah Naomi sedikit heran. Sementara Jesslyn langsung merengut.
"Jess tidak suka saja kepadanya!" Ujar Jesslyn yang masih saja mencari alasan dan pembenaranmu.
"Alasanmu tak menyukai Oscar?" Tanya Naomi lagi penuh selidik.
"Tidak semua hal harus punya alasan, Mom!"
"Apa jika Jess bertanya alasan Mom tak pernah menikah, Mom juga mau menjawabnya?" Jess membalikkan pertanyaan Naomi.
"Karena Mom ingin fokus merawatmu dan melihat kau tumbuh menjadi apapun yang kau inginkan," ujar Naomi lirih, menjawab pertanyaan Jesslyn yang terakhir.
Jesslyn terdiam. Gadis itu tiba-tiba langsung memeluk Naomi, lalu menangis di dalam dekapan sang Mom.
"Maaf, jika Mom belum bisa menjadi Mom yang sempurna untukmu, Jess!" Gumam Naomi lirih.
Oscar yang sejak tadi menguping pembicaraan Naomi dan Jesslyn, akhirnya berbalik pergi dan menutup pelan pintu kamar Naomi
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.