The Escort Man

The Escort Man
TERIMA KASIH


__ADS_3

Oscar keluar dari kamar mandi setelah pria itu menggosok gigi seperti permintaan Naomi tadi. Pria itu diam sejenak di depan pintu kamar mandi, lalu menatap pada Naomi yang kini duduk di tepi ranjang, seraya memunggungi Oscar. Naomi sidah melepaskan cardigannya, dan kini wanita yang lima tahun lebih tua dari Oscar tersebut hanya mengenakan dress bunga-bunga tanpa lengan.


Oscar bersedekap, lalu menghampiri Naomi yang tetap memunggunginya.


Walaupun sebenarnya selama satu bulan ini Naomi dan Oscar beberapa kali tidur satu ranjang, namun mereka belum pernah bercinta karena Naomi selalu saja menolak Oscar.


Belum lagi Naomi yang kadang akan pindah ke kamar Jesslyn saat tengah malam, meninggalkan Oscar yang terpaksa menahan hasratnya selama satu bulan terakhir.


Bukankah itu rekor yang luar biasa?


Cup!


Oscar yang sudah duduk di belakang Naomi, merengkuh kedua pundak wanita tersebut dan mengecup pundak Naomi yang masih terbalut dress motif bunga.


Seharusnya dress itu membalut tubuh semampai Naomi dengan sempurna, seperti beberapa bulan lalu. Namun sekarang dress itu terlihat kebesaran untuk Naomi yang sudah banyak kehilangan berat badan.


Entah sampai kapan Naomi akan bertahan dengan sakitnya ini. Namun satu hal yang pasti, Oscar akan berusaha untuk membuat Naomi bahagia hingga di akhir usianya.


"Sudah?" Tanya Naomi tanpa sedikitpun menoleh pada Oscar.


"Yap!" Oscar melingkarkan kedua lengannya di pinggang Naomi, lalu mendekap mesra tubuh kurus Naomi.


"Kau punya pengaman?" Tanya Naomi lagi.


"Memangnya kenapa kalau tidak pakai? Kau tidak mengidap penyakit menular," jawab Oscar penuh keyakinan.


"Ya! Belum tentu juga kau akan keluar nanti," Naomi tersenyum kecut seraya pesimis kalau dirinya akan mampu membuat Oscar mencapai pelepasannya nanti.


Bisa jadi, Naomi nanti hanya akan membuat Oscar tersiksa karena mungkin Naomi akan tumbang duluan sebelum Oscar merasakan apapun.


Tapi persetan dengan semua hal itu!


Oscar sendiri yang terus-terusan merayu, dan Naomi juga tak mau munafik. Naomi sejak dulu memang ingin merasakan sekali lagi kehangatan milik Oscar sebelum ia berhenti bernafas.


"Hei, jangan begitu!"


"Kita akan mendapatkannya bersama-sama nanti," ujar Oscar yakin sebelum kemudian pria itu menyerukkan kepalanya di leher Naomi. Aroma tubuh Naomi lebih wangi dari biasanya dan Oscar menyukai aroma parfum yang saat ini dipakai oleh Naomi.


Tangan Oscar yang tadi melingkar di pinggang Naomi perlahan naik ke atas dan mulai meraba dada Naomi yang masih terasa berisi, sekalipun tubuh wanita ini kian kurus.


"Apa ini asli?" Tanya Oscar spontan saat tangannya merem*s gundukan kenyal Naomi. Benar-benar spontan hingga membuat Oscar merutuki dirinya sendiri.


"Maaf-"

__ADS_1


"Aku kira kau sudah bisa membedakan yang asli dan yang palsu. Bukankah jam terbangmu sudah tinggi?" Sela Naomi memotong permintaan maaf Oscar.


"Ya! Yang ini asli!"


"Dan aku menyukainya!" Bisik Oscar sensual seraya menggigit kecil telinga Naomi.


Sebuah des*han langsung lolos dari bibir Naomi dan wanita itu seketika memalingkan wajahnya.


"Aku tahu rahasiamu!" Bisik Oscar kembali dengan nada nakal dan merayu, swmbari memberikan usapan sensual di telinga serta bagian belakang telinga Naomi. Bergantian memakai tangannya, lalu lidahnya yang benar-benar membuat Naomi kehilangan pijakan.


Naomi langsung terengah dan Oscar tersenyum puas. Tentu saja Oscarerasa puas, karena Oscar akhir mampu menaklukkan Naomi yang dulu selalu ketus dan menyebalkan.


Tangan Oscar melanjutkan petualangannya,dan mulak masuk ke dalam gaun yang dikenakan oleh Naomi. Satu tangan menyusup dari atas dan langsung merem*s satu bongkahan kenyal milik Naomi. Sedangkan tangan lain Oscar sudah bergerilya ke pangkal paha Naomi sambil berulang kali memberikan elusan yang membuat Naomi ingin meracau.


Ya!


Sentuhan serta usapan tangan besar Oscar memang benar-benar menghanyutkan dan terasa seperti ahli.


Kini Naomi tahu kenapa para wanita tua semacam Aster Brennen dan Deasy Anthony begitu menginginkan Oscar.


"Emmmhhh!" Naomi kembali melenguh, saat Oscar dengan cekatan membimbing kedua kaki Naomi agar naik ke qtas ranjang. Oscar juga menekuk perlahan kaki jenjang Naomi, lalu menggulung bagian bawah dress Naomi hingga berkumpul di perut.


Oscar membuka kedua paha Naomi, lalu memberikan satu usapan dengan jarinya yang sukses membuat Naomi menggelinjang.


"Oscar menatap sejenak pada Naomi yang kini terbaring pasrah. Pria itu seolah minta izin untuk mengeksplore milik Naomi lebih jauh lagi. Namun Naomi dengan cepat menolak.


"Kau akan membuatku kalah duluan jika kau melakukan hal itu." Ucap Naomi membeberkan alasannya.


"Kau bahkan belum panas sama sekali," lanjut Naomi yang kali ini malah membuat Oscar tersenyum simpul.


"Darimana kau bisa tahu aku sudah panas atau belum?" Oscar menanggalkan kausnya, dan langsung membuat tubuh atletisnya yang sempurna terpampang di depan Naomi.


Astaga!


"Lihat ini!" Oscar membuka sedikit underwear-nya, lalu memamerkan juniornya yang memiliki ukuran lumayan menantang pada Naomi. Junior yang menjadi idaman para wanita kaya yang sudah berumur!


"Terima kasih karena sudah memamerkannya kepadaku," ucap Naomi dengan nada sedikit mencibir yang langsung membuat Oscar tergelak.


"Hey! Aku sama sekali tak keberatan jika kau ingin memegangnya," tawar Oscar seraya meraih tangan Naomi lalu membimbingnya untuk memegang milik Oscar.


Oscar kembali tersenyum simpul dan tatapannya mengarah pada Naomi. Oscar sedikit membungkuk, lalu tanhannya dengan begitu sigap meraih ujung dress Naomi yang tergulung di pinggang. Oscar lanjut melepaskan dress Naomi dan kini wanita itu hanya mengenakan underwear saja.


Oscar menyapukan lidahnya ke dada Naomi yang lumayan menggiurkan, lalu tangannya bergerak lincah untuk menyibak underwear Naomi. Dan hanya berselang beberapa detik, milik Oscar sudah menyentak masuk ke dalam milik Naomi yang sudah basah sejak tadi.

__ADS_1


"Emmmhhh!" Naomi dan Oscar melenguh bersamaan, saat akhirnya milik mereka berhasil menyatu.


Oscar dan Naomi saling bertatapan dan kini keluarga seolah berkomunikasi dalam diam.


Oscar mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu berbisik mesra di telinga Naomi,


"Aku menyukainya!"


Hati Naomi seketika menghangat dan senyuman langsung terkembang di bibir wanita tiga puluh lima tahun tersebut.


Lalu tubuh Naomi mulai menggeliat, saat lidah dan bibir Oscar perlahan mengecup belakang telinga, tengkuk, serta lehernya sembari meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana.


Naomi terengah, menikmati milik Oscar yang mulai bergerak dengan penuh irama. Gerakan Oscar begitu lembut hingga berhasil membuat Naomi terbang ke awang-awang.


Sesekali Oscar juga akan berhenti untuk memberikan jeda nafas pada Naomi.


"Kau merasa nyaman?" Tanya Oscar memastikan dan Naomi langsung mengangguk tanpa berucap sepatah katapun.


"Ingatkan aku, jika gerakanku terlalu kasar atau menyakitimu," bisik Oscar lagi sebelum kemudian pria itu menyatukan bibirnya dengan bibir Naomi.


"Kau luar biasa, Oscar!" Gumam Naomi di tengah pagutannya bersama Oscar.


Naomi menarik kepala Iscar dan semakin memperdalam ciuman mereka, bersamaan dengan milik Oscar yang juga menghujam semakin dalam.


"Emmmhhh!" Erangan panjang Naomi seolah memberikan tanda bahwa wanita itu baru saja mencapai pelepasannya.


Oscar tersenyum dan mengecuo kening Naomi, sebelum kemudian pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Naomi.


"Terima kasih!" Ucap Naomi seraya mengusap lengan Oscar dan menyamankan tubuhnya di dalam pelukan kekasihnya tersebut.


"Ya!" Jawab Oscar sehangat mungkin, sambil kembali mengecup puncak kepala Naomi.


Oscar senang karena malam ini ia bisa kembali membuat Naomi tersenyum bahagia, sekalipun Oscar juga sedikit tersiksa karena permainan tadi sama sekali tak memberikan apa yang Oscar inginkan. Dan kini kepala Oscar malah terasa ingin meledak.


Dasar sialan!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2