The Escort Man

The Escort Man
AKHIR KEBIMBANGAN


__ADS_3

Oscar kembali menghisap batang rokoknya, sebelum kemudian asap keluar dari mulut pria itu dan mengurung wajah Oscar di dalam kepulannya. Pria itu masih termenung di teras belakang rumah, seraya menatap pada air danau yang tumben hari ini terlihat tenang. Pepohonan di sekitar danau juga hanya membisu.


Oscar masih bimbang perihal tawaran Aster untuk tinggal bersama di mansion mewah wanita kaya itu, atau tetap di sini mengurus Jesslyn.


Disaat pria itu masih sibuk dengan lamunannya, mendadak terdengar suara ribut dari arah dapur. Iscar bergegas mematikan rokoknya, lalu pergi ke dapur untuk memeriksa. Jesslyn terlihat sedang memukul-mukulkan serbet dapur ke arah wajan yang terbakar di atas kompor.


"Apa yang kau lakukan, Jess?" Sergah Oscar yang bergegas mengambil satu lap berukuran besar, lalu membasahinya dengan air, sebelum kemudian menutupkan benda itu ke atas wajan yang terbakar.


"Kau mau membakar rumah ini?" Tanya Oscar menatap galak pada Jesslyn yang kini merengut.


"Aku lapar!" Jawab Jesslyn seraya berbalik, lalu masuk ke kamarnya. Oscar mengusap wajahnya, lalu melihat ke luar jendela dapur, dimana langit sudah hampir gelap. Oscar lupa belum memasak makan malam dan Jesslyn siang tadi juga tak membawa bekal ke sekolah.


Ck!


Oscar segera membereskan kekacauan yang ada di dapur, lalu bergegas membuat menu makan malam yang simpel untuk dirinya dan Jesslyn.


"Jess! Ayo makan!" Ajak Oscar berseru pada Jesslyn seraya berjalan ke arah kamar gadis itu. Tumben sekali Jesslyn tidak menutup pintu kamar.


"Jess!" Panggil Oscar lagi seraya masuk ke kamar Jesslyn. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur sembari memangku sebuah boneka besar.


"Ayo makan!" Ajak Oscar yang sudah menyodorkan sepiring spaghetti simpel buatannya pada Oscar.


Jesslyn menerima tanpa berucap sepatah katapun, dan gadis itu langsung memakan spaghetti buatan Oscar dengan lahap.


"Kau berkelahi di sekolah hari ini?" Tanya Oscar yang sedikit ingat dengan laporan dari Nona Rivera siang tadi.


"Mereka menumpahkan makananku! Jadi aku memukul wajah mereka seperti yang dulu kau lakukan pada Mitch!" Jawab Jesslyn yang langsung membuat Oscar diam sejenak. Oscar bahkan sudah lupa saat ia memukul Mitch berbulan-bulan lalu. Dan sepertinya waktu itu Jesslyn tak ada. Lalu bagaimana gadis ini bisa tahu?


"Kau tak seharusnya berkelahi di sekolah, Jess! Jika temanmu mengganggumu, lapor saja pada guru yang ada!" Ujar Oscar menasehati Jesslyn panjang lebar.


"Mereka semua bukan temanku!" Ucap Jesslyn menatap ketus pada Oscar.

__ADS_1


"Kau tidak punya teman di sekolah?" Tanya Oscar lagi. Namun Jesslyn hanya bungkam.


"Kau harus mulai berteman dan bergaul bersama mereka, Jess!" Nasehat Oscar lagi.


"Agar kau bisa meninggalkanku disini, lalu pergi bersama pacarmu?" Tanya Jesslyn tiba-tiba yang tentu saja tak disangka oleh Oscar.


"Siapa memang yang mau pergi?" Oscar balik bertanya dan pura-pura tak paham.


"Kau!"


"Bukankah aku hanya gadis sembilan tahun yang merepotkan hidupmu? Kau kewalahan mengurusku jadi pacarmu menyuruhmu untuk pergi saja dan membuangku!" Cerocos Jesslyn seolah sedang meluapkan kemarahannya.


"Aku tak pernah berkata seperti itu!" Sanggah Oscar membantah kata-kata Jesslyn.


"Dan aku sama sekali tak ada niat untuk meninggalkanmu disini!" Sambung Oscar lagi.


"Jika aku memang mau pergi dari sini, maka aku akan membawamu juga! Kau tanggung jawabku, Jesslyn!" Ujar Oscar lagi menegaskan pada Jesslyn.


"Jangan keras kepala! Bagaimana kau mau menjaga dan mengurus dirimu sendiri jika memasak makanan saja kau hampir membuat dapur terbakar!" Decih Oscar sedikit mencibir Jesslyn.


"Aku akan membeli makanan dan tak perlu memasak!" Jawab Jesslyn meninggikan nada bicaranya.


"Memang kau punya uang? Semua kebutuhanmu saja masih aku tanggung! Kau punya uang darimana?" Cecar Oscar bersungut pada Jesslyn.


"Aku akan menjual diri!" Jawab Jesslyn yang seperti sebuah tohokan besar di dada Oscar.


Kedua mata Oscar sudah membelalak marah dan pria itu langsung merengkuh kasar kedua pundak Jesslyn.


"Apa maksudmu dengan menjual diri? Kau mau jadi seorang pel*cur, hah?" Oscar berteriak marah pada Jesslyn yang wajahnya tak terlihat gentar sedikitpun.


"Ya!"

__ADS_1


"Sama sepertimu yang juga menjual diri pada para wanita tua dan kaya agar mendapatkan banyak uang!"


"Jadi aku akan melakukannya!" Jawab Jesslyn yang benar-benar membuat Oscar tertohok sekaligus naik pitam.


Oscar bahkan baru sadar kalau Jesslyn ternyata mengerti tentang pekerjaan yang bertahun-tahun Oscar geluti tersebut. Dan mungkin itulah alasan kenapa Jesslyn membenci Oscar selama ini.


"Aku sudah tak melakukan pekerjaan itu lagi!" Gumam Oscar seolah sedang mencari pembelaan di depan Jesslyn.


"Kau masih melakukannya!" Sergah Jesslyn cepat.


"Kau masih tidur dengan wanita kaya itu kemarin, dan kau juga akan pergi ke mansion mewahnya-"


"Aku tak akan pergi kemana-mana!" Sela Oscar memotong kalimat Jesslyn.


"Aku akan tetap disini! Menjaga dan mengurusmu seperti janjiku pada Mommy-mu!" Sergah Oscar lagi lantang dan tegas.


"Spaghetti-ku sudah habis!", Jesslyn mengalihkan pembicaraan dan memberikan piringnya yang sudah kosong pada Oscar.


"Mau dessert atau kudapan lain?" Tawar Oscar pada gadis sembilan tahun yang langsung menggeleng tersebut.


"Aku akan mengerjakan peer! Silahkan kau keluar!" Usir Jesslyn pada Oscar yang hanya menghela nafas. Oscar akhirnya bangkit berdiri membawa piringnya dan juga piring Jesslyn yang sudah kosong. Pria itu lalu keluar dari kamar Jesslyn dan menutup pintu.


Kini kebimbangan Oscar sudah menemukan jawaban!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2