
Rivera sedang menyelimuti Oscar dan Peter yang sama-sama sudah terlelap, saat Jesslyn masuk ke dalam kamar.
"Peter tidak mau lepas dari dekapan Oscar sejak tadi," ujar Rivera memberitahu Jesslyn.
"Apa kau tetap akan pergi, Nona Rivera?" Tanya Jesslyn seraya menatap pada Rivera.
"Ya. Tapi mungkin lusa, menunggu kondisi Peter sehat," jawab Rivera.
"Kenapa?" Tanya Jesslyn lagi.
"Karena memang aku dan Peter harus pergi, Jess! Aku sudah mengatakan alasanku padamu tempo hari, jadi jangan bertanya lagi!" Jawab Rivera seraya memalingkan wajahnya.
"Lalu bagaimana jika Peter tak mau pergi atau pindah dari sini?" Tanya Jesslyn lagi yang langsung membuat Rivera menatap pada gadis sepuluh tahun tersebut.
"Apa maksudmu? Peter bahkan belum tahu apa-apa!"
"Memang benar! Tapi bisa saja, sakitnya Peter malam ini karena dia memang tidak mau kau ajak pindah dari sini, Nona Rivera!"
"Apa kau tak lihat kedekatan Peter pada Oscar. Peter bahkan tidak mau lepas dari dekapan Oscar. Lalu apa jadinya jika kau membawanya pergi?" Cecar Jesslyn yang sejenak membuat Rivera terdiam.
"Peter akan terbiasa nanti!" Jawab Rivera akhirnya yang tetap keras kepala.
"Lagipula, aku dan Peter tak punya alasan lagi untuk tetap tinggal disini, Jess-"
"Bagaimana kalau alasan itu adalah aku!"
"Dan Oscar yang begitu dekat dengan Peter. Oscar juga sudah berjanji pada Paul untuk selalu menjaga kau dan Peter, Nona Rivera! Jadi biarkan Oscar menjalankan amanat Paul yang itu!" Sergah Jesslyn ikut-ikutan keras kepala.
"Oscar sudah melakukannya dengan sangat baik selama beberapa bulan ini dan aku sangat berterima kasih!"
"Tapi sekarang biarkan aku dan Peter pergi dan memulai hidup kami sendiri karena-" Rivera tak melanjutkan kalimatnya dan suara wanita itu seolah tercekat.
"Karena apa?" Tanya Jesslyn penasaran.
"Kau tidak mau lagi menjadi sosok Mom untukku? Atau kau tak mau membiarkan Peter merasakan kasih sayang seorang Dad dari Oscar."
"Tentu saja aku mau!" Sergah Rivera cepat.
"Aku juga ingin memberikan Peter sebuah keluarga lengkap seperti yang selama ini kau inginkan, Jess!"
"Lalu kenapa kau tetap ingin pergi dan tidak memilih untuk tinggal disini saja bersama aku dan Oscar?" Tanya Jesslyn yang kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Karena aku tidak bisa tinggal bersama seorang pria tanpa ada ikatan apapun. Aku buka wanita semacam itu!" Jawab Rivera nyaris tanpa suara. Wanita itu lalu keluar dari kamar, meninggalkan Jesslyn yang air matanya sudah berlinang. Namun Jesslyn menyekanya dengan cepat, lalu gadis itu menatap pada Oscar yang sepertinya masih terlelap sembari memeluk Peter.
"Seharusnya kau mendengarkan semua itu, Osh!" Ucap Jesslyn merasa kesal pada Oscar yang bahkan tak sedikitpun bergerak .
Dasar menyebalkan!
Tukang tidur!
Tidak peka!
__ADS_1
Jesslyn akhirnya ikut keluar dari kamar, dan menutup pintu.
Sejenak suasana di dalam kamar hening, sebelum akhirnya Oscar membuka kedua matanya.
"Aku mendengar semuanya," gumam Oscar seraya mengusap pipi Peter yang masih terlelap.
"Aku mendengar semuanya, Jess!" Ulang Oscar lagi yang sudah ganti menatap lekat wajah Peter.
"Hai, Jagoan! Kau keberatan jika aku menjadi Dad untukmu?
****
"Kau mau membawa Peter kemana, Jess?" Tanya Rivera saat Jesslyn yang mendorong kereta bayi Peter menuju ke teras. Peter memang sudah sehat dan sudah kembali ceria. Dan Rivera tetap pada keputusannya untuk pergi ke kota kelahirannya. Esok Rivera dan Peter akan berangkat.
"Hanya jalan-jalan sebentar!" Jawab Jesslyn bersamaan dengan Oscar yang baru tiba di rumah, setelah pria itu selesai mengantar para siswa pulang ke rumah masing-masing.
"Hai, Peter!" Oscar menyapa Peter dan sedikit mengajak bayi itu bercengkerama.
"Kau terlambat pulang!" Ucap Jesslyn menegur Oscar dengan nada menyebalkan khas Jesslyn.
"Aku ada urusan tadi," Jawab Oscar beralasan.
"Urusan apa?" Tanya Jesslyn kepo.
"Katanya kau tadi mau membawa Peter jalan-jalan?" Bukannya menjawab pertanyaan Jesslyn, Oscar malah mengalihkan pembicaraan. Putri Oscar itu sontak berdecak.
"Ayo jalan-jalan, Peter!" Ajak Jesslyn akhirnya yang kembali mendorong kereta bayi Peter dan berlalu dari hadapan Oscar. Sementara Oscar lanjut masuk ke rumah, dan menyapa Rivera yang sudah menata beberapa kopernya di dekat pintu.
"Iya!"
"Hanya persiapan agar besok tak ada yang ketinggalan," jelas Rivera tanpa sedikitpun menatap pada Oscar.
"Kau yakin ingin benar-benar pergi, Rivera?" Tanya Oscar lagi yang masih tetap berada di tempatnya.
"Ya! Ini sudah menjadi keputusanku, Oscar!" Jawab Rivera seraya menatap tegas pada Oscar. Untuk beberapa saat, tatapan Oscar dan Rivera saling beradu. Keduanya hanya saling diam, hingga tanpa Rivera sadari, Oscar tiba-tiba sudah menggenggam tangannya.
"Jangan pergi dan tetaplah disini, Rivera!" pinta Oscar tiba-tiba sembari menggenggam erat tangan Rivera.
Rivera mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Oscar. Namun sepertinya pria itu keras kepala sekali dan tak mau melepaskan tangan Rivera.
"Apa maksudmu mengatakan itu?" Tanya Rivera tak mengerti. Namun bukannya menjawab pertanyaan Rivera, Oscar malah menekuk satu kakinya, lalu berlutut di depan Rivera. Pria itu juga mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang mirip sebuah.....
Cincin?
"Aku memang bukan pria baik-baik. Masa laluku begitu memalukan dan mungkin menjijikkan."
"Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mulai berubah. Aku juga sudah berjanji pada Paul untuk selalu menjaga kau dan Peter-"
"Kau sudah melakukannya!" Rivera menyela.
"Tidak! Dengarkan aku dulu!" Oscar menarik nafas panjang dan kembali menyusun kata-kata yang mendadak berantakan di kepalanya.
__ADS_1
"Jess ingin sebuah keluarga dan kau juga ingin memberikan sebuah keluarga untuk Peter. Kau sudah menganggap Jess seperti putrimu dan aku juga sudah menganggap Peter sebagai putraku. Jadi aku pikir kenapa kita tidak menikah saja lalu menjadi orang tua untuk Jess dan Peter?" Oscar menatap lekat pada Rivera.
"Pernikahan tidak sesederhana itu, Osh! Tidak hanya karena kau ingin kita menjadi orang tua untukmu Jess dan Peter lalu kita bisa menikah-"
"Aku tahu!" Sela Oscar cepat.
"Pernikahan butuh cinta," lanjut Oscar yang tetap menatap lekat pada Rivera.
"Dan aku sudah jatuh cinta padamu, Rivera!" Ucap Oscar dengan raut wajah sungguh-sungguh.
"Aku sudah jatuh cinta padamu," ulang Oscar sekali lagi seolah sedang meyakinkan Rivera.
"Maukah kau menikah denganku, Rivera Oliver?" Ucap Oscar yang akhirnya melontarkan kalimat lamaran itu pada seorang wanita.
Rivera menutup mulutnya dengan telapak tangan dan merasa tak percaya karena pada akhirnya, Oscar benar-benar melanggar prinsip dan keyakinannya sendiri mengenai pernikahan.
"Kau mau menikah denganku dan menjadi istriku, kan?" Tanya Oscar sekali lagi yang masih menunggu jawaban dari Rivera.
Rivera tak menjawab sepatah katapun. Namun anggukan kepala dari wanita itu sudah lebih dari cukup untuk Oscar yang langsung melingkarkan cincin di jari manis Rivera.
Cincin pertama yang Oscar beli dari hasil keringatnya sendiri dan kini ia berikan pada seorang wanita luar biasa, yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Oscar sudah kembali berdiri, dan tangannya tetap menggenggam tangan Rivera.
"Ya," ucap Rivera yang akhirnya menjawab lamaran Oscar tadi. Wanita itu akhirnya bisa kembali buka suara setelah sempat kehilangan kata-kata.
"Kau mau menikah denganku, Rivera Oliver?" Oscar mengulangi kalimat lamarannya
"Ya!" Jawab Rivera sedikit tersipu.
Oscar segera menangkup wajah Rivera, kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Rivera, hingga sebuah deheman membuat mereka berdua terkejut.
Jesslyn rupanya sudah berdiri di ambang pintu seraya menggendong Peter.
"Lamaran yang manis," puji Jesslyn yang rupanya turut menyaksikan momen lamaran Oscar pada Rivera tadi.
"Congrats, Dad!" Ucap Jesslyn selanjutnya seraya menatap dalam pada Oscar yang langsung meraup gadis itu ke dalam pelukannya.
Oscar langsung kehilangan kata-kata saat mendengar Jesslyn yang akhirnya memanggil dirinya dengan sebutan Dad.
Ya!
Oscar adalah Dad dari Jesslyn dan Peter sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.