
Oscar termenung sembari menatap ke arah makam Naomi. Acara pemakaman sudah selesai beberapa waktu lalu, dan kini hanya tinggal Oscar yang masih termenung di samping makam Naomi. Kehampaan mendadak menyusup ke dalam relung hati Oscar, ketika ia menatap gundukan tanah di depannya tersebut.
Kehampaan yang sama yang pernah Oscar rasakan, saat dulu kakak tercintanya pergi untuk selamanya.
"Beristirahatlah dengan tenang, Nao!" Ucap Oscar lirih seraya meletakkan setangkai bunga mawar putih ke atas makam Naomi. Pria itu lalu bangkit berdiri dan menghela nafas panjang, sebelum kemudian mengayunkan langkahnya untuk keluar dari kompleks pemakaman.
Oscar masih tidak tahu, setelah ini dirinya akan berbuat apa. Oscar bahkan belum memikirkan sebuah pekerjaan baru, karena saat ini tabungannya masih lebih cukup untuk menunjang hidup Oscar satu tahun ke depan.
Oscar baru akan masuk ke dalam mobilnya, saat kedua netra pria itu menangkap Jesslyn yang ternyata masih duduk diam di bangku di luar kompleks pemakaman. Oscar lupa, kalau dirinya masih haris mengurus Jesslyn setelah ini sampai pihak yayasan datang untuk menjemput gadis keras kepala tersebut.
Baiklah!
Itu hanya beberapa hari dari sekarang. Jadi sepertinya tak terlalu masalah bagi Oscar. Semoga sikap menyebalkan Jesslyn tidak kambuh, meskipun hal itu mustahil.
"Mau pulang bersamaku?" Tawar Oscar pada Jesslyn yang hanya diam sejak tadi. Bahkan selama proses pemakaman Naomi, Jesslyn juga hanya diam, seolah gadis itu adalah gadis tunawicara yang ketus.
"Halo!" Oscar masih menunggu jawaban Jesslyn, saat kemudian gadis sembilan tahun itu bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke dalam mobil Oscar.
Yeah!
Tak ada sedikitpun basa-basi yang keluar dari mulut Jesslyn.
Dasar tidak sopan!?
Memang apa susahnya mengatakan, "Ya, aku mau pulang bersamamu, Oscar!"?
Oscar akhirnya menyusul masuk ke dalam mobil setelah pria itu membuang nafas kasar berulang kali. Semoga besok dan seterusnya hingga Jesslyn menyebalkan ini dijemput pihak yayasan, Oscar tidak akan darah tinggi menghadapi kelakuan Jesslyn!
****
Oscar masih bergelung dengan mimpinya, saat sebuah kotak susu yang sudah kosong menimpa kepalanya dan membuat pria itu kaget hingga terbangun.
Ada Jesslyn yang sudah mengenakan seragam sekolah, berdiri di samping ranjang Oscar.
"Apa ini, Jess?" Tanya Oscar merasa geram.
"Susu dan sereal habis dan aku lapar," lapor Jesslyn dengan nada bicara yang datar dan cenderung mengesalkan. Oscar langsung berdecak dan menatap tak senang pada gadis ketus di depannya tersebut.
"Tentu saja kau lapar! Kau tidak makan tadi malam!" Sahut Oscar merasa geram.
Jesslyn hanya diam dan akhirnya berbalik, lalu keluar dari kamar Oscar.
"Aaarrrgh!" Oscar menggeram frustasi sembari mengacak rambutnya sendiri, lalu menyibak selimut dan bangkit dari atas ranjang.
__ADS_1
Oscar menyusul keluar dari kamar setelah pria itu mengenakan kaus dan celana pendeknya. Jesslyn terlihat sudah menenteng tas dan hendak pergi, saat Oscar keluar dari kamar.
"Kau mau sarapan apa, Jess? Aku akan memasak untukmu!" Seru Oscar yang langsung membuat Jess menghentikan langkahnya tepat di depan pintu keluar.
"Apa saja!" Jawab Jesslyn tanpa menoleh ke arah Oscar.
"Kemari dan duduklah disini!" Titah Oscar pada Jesslyn sebelum kemudian pria itu masuk ke dapur dan membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang sekiranya bisa ia olah.
Sereal, susu, dan roti semuanya habis dan Oscar lupa memeriksa kemarin. Biasanya Naomi yang memeriksa semuanya dan Oscar hanya tinggal berbelanja sesuai list yang diberikan Naomi. Tapi sekarang sepertinya Oscar harus membiasakan diri untuk mulai mengecek bahan-bahan yang ada di dapur.
Oscar menyalakan kompor, lalu memecahkan beberapa butir telur yang ia temukan di dalam kulkas, dan mencampurkan bahan lain seadanya. Tangan Oscar lumayan cekatan saat mengolah telur dan bahan lain tadi menjadi sebuah omelet yang sempurna untuk sarapan.
"Hanya ada ini!" Oscar menyodorkan satu piring omelet ke hadapan Jesslyn yang sejak tadi hanya duduk dan diam.
"Nanti bekalmu akan aku antar ke sekolah. Aku akan belanja bahan makanan dulu," lanjut Oscar lagi sembari menikmati omelet di piringnya. Sementara Jesslyn tak menjawab dan gadis itu hanya menikmati sarapannya dalam diam.
"Bisakah kau bicara satu kata agar aku tak terlihat seperti orang gila yang bicara pada patung?" Tanya Oscar yang mulai kesal dengan kebisuan Jesslyn.
"Ya!" Jawab Jesslyn yang benar-benar hanya satu kata dan justru membuat Oscar semakin geram.
"Terserah!" Oscar membanting garpunya ke atas piring dan pria itu menatap pada Jesslyn menyebalkan yang begitu lahap memakan omelet buatan Oscar.
"Kau bisa membuat list belanja, kan?" Tanya Oscar selanjutnya
"Maksudku tentang kebutuhanmu sendiri yang mungkin perlu aku belikan!" Oscar memperjelas pertanyaannya.
"Bisakah kau bicara dua kata atau minimal satu kalimat? Kau bukan robot!" Oscar benar-benar geram dan kesal sekarang.
"Terima kasih untuk omeletnya!" Ucap Jesslyn yang akhirnya mengucapkan satu kalimat. Gadis itu sudah menghabiskan sarapannya dan lanjut beranjak, lalu mengayunkan langkahnya ke pintu depan. Oscar masih duduk di tempatnya dan hanya memperhatikan Jesslyn yang akhirnya keluar dari pintu depan. Tak berselang lama, terdengar klakson bus sekolah yang sudah datang menjemput Jesslyn.
Oscar menarik satu sudut bibirnya dan membuat senyuman simpul.
"Terima kasih untuk omeletnya!" Oscar menirukan ucapan terimakasih dari Jesslyn tadi. Dan tidak tahu kenapa, hati Oscar terasa menghangat sekarang.
Aneh!
****
"Selamat pagi, Tuan Olsen!" Sapa Nona Rivera yang menemui Oscar yang sedang ke sekolah untuk mengantar bekal Jesslyn.
"Selamat pagi, Nona Rivera!"
"Jess tidak mau keluar?" Tanya Oscar sedikit kecewa.
__ADS_1
Tapi kenapa juga Oscar harus kecewa?
Bukankah seharusnya Oscar senang karena tak perlu melihat wajah mengesalkan Jesslyn yang kerap membuatnya emosi.
"Jess sedang di laboratorium karena ada pelajaran praktek," jelas Nona Rivera.
Oscar hanya mengangguk.
"Ini bekal Jess, karena tadi pagi aku tak sempat membawakannya," ujar Oscar selanjutnya seraya mengangsurkan bekal Jesslyn pada Nona Rivera.
"Nanti akan saya berikan pada Jess," jawab Nona Rivera yang kembali membuat Oscar mengangguk.
"Pastikan Jess memakan bekalnya, Nona Rivera!" Pesan Oscar lagi karena kemarin bekal Jesslyn utuh saat gadis itu pulang ke rumah. Lalu setelah pulang sekolah Jesslyn juga menolak makan dan hanya mengurung diri di kamar hingga malam. Baru pagi tadi Jesslyn mengeluh lapar sembari melempar kotak susu kosong ke kepala Oscar.
Padahal gadis itu bisa membangunkan Oscar dengan lebih sopan, seperti mengguncang tubuh Oscar atau menyibak tirai seperti yang sering dilakukan Naomi saat Oscar terlambat bangun....
"Kau sudah tidur lebih dari delapan jam, Osh! Kau tidak mau menjadi gendut karena terlalu banyak tidur, kan?"
Kalimat yang kerap dilontarkan Naomi mendadak terngiang di kepala Oscar dan sekarang Oscar rindu pada omelan serta ocehan Mom kandung Jess tersebut.
"Tuan Olsen!" Teguran Nona Rivera membuat lamunan Oscar seketika menjadi buyar.
"Ya!"
"Itu saja, Nona Rivera! Tolong pastikan Jess memakan bekalnya hari ini!" Oscar mengulangi pesannya pada Nona Rivera.
"Baik, Tuan Olsen!" Jawab Nona Rivera.
"Oh, iya! Ngomong-ngomong apa benar Jess akan pindah sekolah beberapa hari lagi?" Tanya Nona Rivera mengalihkan pembicaraan.
"Rencananya begitu!" Jawab Oscar yang enggan menjelaskan alasan Jesslyn pindah. Tapi Oscar juga merasa tak mampu jika harus terus-terusan mengurus Jesslyn!
Oscar hanya ingin menikmati hidupnya tanpa sikap ketus Jesslyn!
"Baiklah! Semoga nanti Jesslyn akan merasa nyaman di sekolahnya yang baru dan tak lagi menjadi gadis pemurung," ujar Nona Rivera mengungkapkan harapannya. Guru muda itu kemudian pamit pada Oscar dan kembali masuk ke dalam sekolah.
Oscar menghela nafas sejenak, lalu masuk ke dalam mobilnya, dan kembali pulang ke rumah. Oscar akan memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan, setelah nanti Jesslyn dijemput pihak yayasan dan berpisah dari Oscar.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.