
Hari sudah kembali beranjak sore, saat Oscar dan Jesslyn tiba di rumah tepi danau. Butuh waktu sehari semalam, untuk Oscar dan Jesslyn sampai di kota ini, karena mereka menempuh perjalanan darat dan harus beberapa kali istirahat.
"Welcome to the home!" Ucap Oscar yang langsung membuat Jesslyn mengulas senyum lebar.
Oscar meregangkan otot-ototnya sejenak, sebelum kemudian pria itu turun duluan dari dalam mobil.
"Kau tidak lupa pada janjimu, kan, Osh?" Tagih Jesslyn yang langsung membuat Oscar tertawa kecil. Lalu pria itu mengitari mobil dan membuka pintu mobil di sisi tempat duduk Jesslyn.
"Aku tidak lupa!" Jawab Oscar seraya mengangkat dan menggendong tubuh Jesslyn, lalu membawanya ke teras rumah.
"Kita sudah seperti pasangan kekasih. Pacarmu tak akan cemburu?" Celetuk Jesslyn sedikit menggoda Oscar.
"Aku Dad-mu dan bukan pacarmu, Nona Muda!" Sergah Oscar mengingatkan Jesslyn sekalipun gadis itu masih belum mau memanggil Dad pada Oscar hingga detik ini.
Jesslyn hanya tergelak saat Oscar mendudukkannya dengan perlahan ke atas kursi yang ada di ruang depan.
"Kursinya berdebu," komebtar Jesslyn seraya mengusapkan jarinya ke atas kursi.
"Rumah ini kosong berbulan-bulan, jadi wajar jika semuanya berdebu!" Jawab Oscar seraya memutar bola mata dengan malas.
"Kau akan membersihkannya, kan?" Jesslyn mengedip-ngedopkan mata ke arah Oscar.
"Ya!" Oscar berdecak berulang kali.
"Tapi bukan hari ini, karena pinggangku rasanya mau patah!"
"Aku baru saja mengemudi ratusan mile jauhnya, sedangkan kau hanya duduk manis di sebelahku dan lebih sering tidur malahan!" Cerocos Oscar panjang lebar yang hanya membuat Jesslyn tertawa kecil. Disaat itulah, terdengar sapaan dari pintu depan.
"Halo!"
"Kalian sudah pulang?" Sapa Nona Rivera seraya masuk ke dalam rumah.
Jesslyn yang tadinya duduk di kursi, langsung bangkit berdiri dan menghampiri Nona Rivera, sekalipun langkah gadis itu masih terpincang.
Tunggu!
Kenapa tadi Jesslyn minta gendong pada Oscar jika gadis itu sudah bisa berjalan sendiri?
Dasar manja!
__ADS_1
"Nona Rivera!" Jesslyn memeluk guru sekolahnya yang kini perutnya sudah terlihat membulat tersebut.
Oh, Oscar lupa.
Nona Rivera memang sedang mengandung dan mungkin akan melahirkan sebentar lagi.
"Kakimu kenapa?" Tanya Nona Rivera seraya memeriksa kaki Jesslyn.
"Cedera. Tapi sudah hampir pulih," jelas Jesslyn dengan wajah yang sudah terlihat lebih sumringah. Sangat berbeda dengan raut wajah Jesslyn saat tinggal di mansion Aster.
Ya!
Jesslyn jelas tertekan di sana!
"Hai, Adik bayi!" Jesslyn mengusap-usap perut Nona Rivera serta menyapa calon bayi yang masih berada di dalam perut tersebut.
Sebuah pemandangan yang menurut Oscar sedikit aneh hingga membuat pria itu mengendikkan kedua bahunya.
"Apa Jess bisa kembali bersekolah di sekolah lamanya, Nona Rivera?" Tanya Oscar berbasa-basi pada guru Jesslyn tersebut.
"Tentu saja bisa, Tuan Olsen-"
"Oscar!" Sergah Oscar memotong.
"Baiklah, Pak Oscar! Jesslyn bisa ke sekolah lagi mulai besok." Ujar Nona Rivera mengulangi kalimatnya tadi.
Oscar hanya mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong, aku tak melihat Paul, suamimu?" Oscar kembali berbasa-basi pada Nona Rivera.
"Paul sedang bertugas. Ada kebakaran di pinggiran kota," terang Nona Rivera yang langsung membuat Oscar mengangguk sekali lagi.
"Ayo masuk, Jess!" Ajak Oscar selanjutnya pada sang putri.
"Ya!"
"Nanti malam jangan lupa datang ke rumah untuk makan malam, ya!" Ujar Nona Rivera mengundang Jesslyn dan Oscar sebelum wanita itu berpamitan.
"Dalam rangka apa, Nona Rivera?" Tanya Oscar yang juga mendengar undangan Nona Rivera.
__ADS_1
"Dalam rangka menyambut kepulangan kalian. Kita bisa mengadakan pesta barbeque di halaman rumahku," ujar Nona Rivera seraya tersenyum ramah.
"Yeay!" Jesslyn langsung bersorak senang dan gadis itu terlihat bahagia sekali.
"Aku akan berbelanja dulu nanti dan membeli minuman," tukas Oscar sedikit berbasa-basi. Nona Rivera hanya tersenyum, lalu guru Jesslyn itu akhirnya benar-benar berpamitan dan meninggalkan rumah Oscar.
"Kau seharusnya menikah dengan wanita penyayang seperti Nona Rivera!" Celetuk Jesslyn seraya berjalan terpincang masuk ke rumah.
"Apa itu menikah?" Sahut Oscar pura-pura tak paham.
"Ck! Sudahlah!"
"Lupakan saja!" Decak Jesslyn dengan nada kesal. Gadis itu masih berjalan terpincang-pincang menuju ke kamarnya.
"Aku rasa kita perlu membahas satu kata itu agar kau tak salah paham, Jess!" Ujar Oscar seraya mengekori langkah Jesslyn.
"Bagian mana yang aku salah paham?" Jesslyn menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke arah Oscar.
"Tentang menikah."
"Aku mungkin tak akan menikah, tapi aku berjanji kalau aku akan terus menjaga,mengurus, serta merawatmu. Aku akan memberikanmu kasih sayang-"
"Kasih sayang yang bagaimana maksudmu?" Sela Jesslyn seraya menatap Oscar dengan tatapan yang sedikit aneh menurut Oscar.
"Yang seperti itu! Mengurusmu dan menjagamu, bukankah itu bentuk dari kasih sayang?" Ujar Oscar yang langsung membuat Jesslyn membuang nafas jengah.
"Ya!" Jawab Jesslyn lirih.
"Terima kasih karena sudah mengurusku selama ini, Osh! Dan mulai sekarang, cobalah untuk mengurus dirimu sendiri juga," nasehat Jesslyn seraya melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dakam rumah.
"Mengurus diriku sendiri?"
"Bukankah aku sudah melakukannya selama ini?" Seru Oscar merasa tak paham dengan kalimat Jesslyn yang terakhir.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.